Seakan seksi kita mendengar bahkan
sampai menyaksikan sekalipun, proses pembangunan daerah kita dalam beberapa bulan terakhir ini menunjukan
perkembangan menuju kearah yang lebih baik. Ini ditandai dengan perkembangan
pertumbuhan ekonomi sultra diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional tiap
tahunya, semisal pada triwulan II 2012 menunjukan pertumbuhan yang sangat
signifikan yaitu sampai pada 11,21% persen. Kondisi serupa sama dengan
perkembangan tingkat kemiskinan yang mengalami penurunan berulang dari tahun, 2007 sampai pada tahun 2012 ini, 2007 (20,33%), 2008 (19,53%), 2009 (18,93%),
2010 (17,05%), 2011 (14,56%), 2012 (13,73%). Kondisi ini kembali diperkuat
dengan pernyataan bapak gubernur kita di salah satu media cetak, kendari
ekspres, sabtu 3 november 2012 yang lalu, di sela-sela peresmian lippo plaza
kendari. Menurut beliau yang juga salah satu alumni fekon unhalu”perekonomian daerah ini menunjukan
perkembangan pembangunan yang sangat
pesat” ini salah satunya ditandai
dengan hadirnya beberapa infestor yang mau menanamkan modalnya untuk
berinfestasi di Sultra, seperti Lippo Grup. Namun seakan pernyataan itu kita
sambut dengan gembira apalagi kita sebagai ekonom kalau bisa kita mengidamkan
nama ini melekat pada diri kita, sebagai ekonom pasti perkembangan ini adalah
apresiasi besar pada pemerintah kita, namun juga kita harus melihat lebih dalam
dari sinyal-sinyal positif yang ada tersebut. Pertanayan yang selalu akan
menyemai dalam diri kita apakah benar pertumbuhan ekonomi Sultra diatas
rata-rata pertumbuhan ekonomi Nasional ini sehat atau sakit? Apakah penurunan
kemiskianan ini memang benar terjadi marata di dua belas kabupaten kota di Sultra,
kalau memang benar berapa berapa banyak orang yang sudah bisa digolongkan
masyarakat kalangan bawah, menengah, dan atas sekalipun ?
Sebenarnya
pembanguan pada dewasa ini diartikan sebagai proses perubhan kearah yang lebih
baik melalui upaya yang dilakukan secara terencana (Kartasasmita), yang pada
akhirnya pembangunan itu akan bermuara pada peningkatan stadar hidup setiap
orang, baik itu pendapatanya, tingkatan konsumsi, pelayanan yang didapat dari
proses-proses jalanya pembangunan suatu Daerah atau Negara sekalipun. (Todaro,
2000), kondisi Daerah Sultra yang kemudian tercatatat dalam angka-angka diatas
ini, seakan mampu memenuhi dari pada criteria-kriteria yang diberikan Todaro salah
satunya. Karnah melihat perkembangan pertumbuhan ekonomi yang tinggi pastinya
diikuti dengan peningkatan standar hidup, yang baik pula. Namun hal ini tidak
mengurangi daya Kritis Solutif kita melihat kenyataan lapangan yang barang
tentu kita juga ikut merasakan dari efek-efek pembangunan daerah ini,
peningkatan standar hidup, seperti pendapatan yang meningkat, pelayanan yang
prima, seakan kita perlu mengkaji ulang. Banyak rakyat kita yang tiap hari
mengeluhkan pelayanan perintah kita, infrastutur jalan semisal adalah hal yang
tidak bisa disediakan pemerintah secara baik dan benar. Sehingga pernyataan
pemerintah diatas pun dapat kita harus kaji ulang. Apakah kita sebagai genersi
muda daerah ini mau terbawa eforia politik pencitraan yang ada dengan melalui
pembenaran-pembenar Pemerintah lewat kemampuannya untuk beretrorika untuk
megaburkan sejumlah fakta-fakta yang terjadi dilapangan.
Kita sebagai kaum muda rasanya perlu ambil bagian
untuk mengantisipasi pembanguan yang tidak berkualitas di daerah ini. Banyak hal yang bisa kita usahakan untuk
membantu pemerintah dalam dalam eforia pembenaran. Mahasiswa sebagai
salah satu komponen kaum muda bisa mengambil porsi lebih. Sebagai masyarakat
berpendidikan tinggi, mahasiswa dituntut untuk berpikir kreatif menghadapi
efek-efek yang kurang diperlukan dalam proses pembangunan apalagi kita salah
satu ahli bidang ini. Cara lain sebagai sebuah terobosan untuk turut aktif
dalam tataran kritis solutif kita untuk mengantisipasi pembangunan yang tidak
berkualitas adalah dengan dialog-dialog
dengan para pelaku pengambil kebijakan dalam proses pemerintah. Banyak langkah
yang bias kita tempuh dialog, lokakarya, seminar, audiensi dan lain-lain, yang
diharapkan dari kegiatan semacam ini bisa akan melahirkan ide-ide solutif
dengan kita berdiri sebagai akdemisi dan pemrintah sebagai praktisi.
Sekaranglah
saatnya mahasiswa sebagai salah satu komponen kaum muda menghapuskan imej buruk
yang melekat pada Almamaternya dan berkontribusi nyata dalam masyarakat. Memang
hal ini tidak mudah untuk dilakukan tetapi bukan tidak mungkin untuk bisa
dilakukan lewat kerjasama dan kontribusi nyata semua pihak, termasuk kaum muda.
Salam satu jiwa untuk mahasiswa pembangunan
indonesia.
sabarudin
Dari Diskusi Menuju Perubahan
Forum Diskusi Pembangunan Fekon Unhalu