Minggu, 04 November 2012

Tantangan Ekonom Muda Unhalu Menyongsong Era Baru Perekonomian Daerah Sultra!



Seakan seksi kita mendengar bahkan sampai menyaksikan sekalipun, proses pembangunan daerah kita  dalam beberapa bulan terakhir ini menunjukan perkembangan menuju kearah yang lebih baik. Ini ditandai dengan perkembangan pertumbuhan ekonomi sultra diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional tiap tahunya, semisal pada triwulan II 2012 menunjukan pertumbuhan yang sangat signifikan yaitu sampai pada 11,21% persen. Kondisi serupa sama dengan perkembangan  tingkat kemiskinan  yang mengalami penurunan berulang dari tahun,  2007 sampai pada tahun 2012 ini,  2007 (20,33%), 2008 (19,53%), 2009 (18,93%), 2010 (17,05%), 2011 (14,56%), 2012 (13,73%). Kondisi ini kembali diperkuat dengan pernyataan bapak gubernur kita di salah satu media cetak, kendari ekspres, sabtu 3 november 2012 yang lalu, di sela-sela peresmian lippo plaza kendari. Menurut beliau yang juga salah satu alumni fekon unhalu”perekonomian daerah ini menunjukan perkembangan pembangunan  yang sangat pesat” ini salah satunya ditandai dengan hadirnya beberapa infestor yang mau menanamkan modalnya untuk berinfestasi di Sultra, seperti Lippo Grup. Namun seakan pernyataan itu kita sambut dengan gembira apalagi kita sebagai ekonom kalau bisa kita mengidamkan nama ini melekat pada diri kita, sebagai ekonom pasti perkembangan ini adalah apresiasi besar pada pemerintah kita, namun juga kita harus melihat lebih dalam dari sinyal-sinyal positif yang ada tersebut. Pertanayan yang selalu akan menyemai dalam diri kita apakah benar pertumbuhan ekonomi Sultra diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi Nasional ini sehat atau sakit? Apakah penurunan kemiskianan ini memang benar terjadi marata di dua belas kabupaten kota di Sultra, kalau memang benar berapa berapa banyak orang yang sudah bisa digolongkan masyarakat kalangan bawah, menengah, dan atas sekalipun ?
            Sebenarnya pembanguan pada dewasa ini diartikan sebagai proses perubhan kearah yang lebih baik melalui upaya yang dilakukan secara terencana (Kartasasmita), yang pada akhirnya pembangunan itu akan bermuara pada peningkatan stadar hidup setiap orang, baik itu pendapatanya, tingkatan konsumsi, pelayanan yang didapat dari proses-proses jalanya pembangunan suatu Daerah atau Negara sekalipun. (Todaro, 2000), kondisi Daerah Sultra yang kemudian tercatatat dalam angka-angka diatas ini, seakan mampu memenuhi dari pada criteria-kriteria yang diberikan Todaro salah satunya. Karnah melihat perkembangan pertumbuhan ekonomi yang tinggi pastinya diikuti dengan peningkatan standar hidup, yang baik pula. Namun hal ini tidak mengurangi daya Kritis Solutif kita melihat kenyataan lapangan yang barang tentu kita juga ikut merasakan dari efek-efek pembangunan daerah ini, peningkatan standar hidup, seperti pendapatan yang meningkat, pelayanan yang prima, seakan kita perlu mengkaji ulang. Banyak rakyat kita yang tiap hari mengeluhkan pelayanan perintah kita, infrastutur jalan semisal adalah hal yang tidak bisa disediakan pemerintah secara baik dan benar. Sehingga pernyataan pemerintah diatas pun dapat kita harus kaji ulang. Apakah kita sebagai genersi muda daerah ini mau terbawa eforia politik pencitraan yang ada dengan melalui pembenaran-pembenar Pemerintah lewat kemampuannya untuk beretrorika untuk megaburkan sejumlah fakta-fakta yang terjadi dilapangan.


Kita sebagai kaum muda rasanya perlu ambil bagian untuk mengantisipasi pembanguan yang tidak berkualitas di daerah ini.  Banyak hal yang bisa kita usahakan untuk membantu pemerintah dalam dalam eforia pembenaran.  Mahasiswa sebagai salah satu komponen kaum muda bisa mengambil porsi lebih. Sebagai masyarakat berpendidikan tinggi, mahasiswa dituntut untuk berpikir kreatif menghadapi efek-efek yang kurang diperlukan dalam proses pembangunan apalagi kita salah satu ahli bidang ini. Cara lain sebagai sebuah terobosan untuk turut aktif dalam tataran kritis solutif kita untuk  mengantisipasi pembangunan yang tidak berkualitas  adalah dengan dialog-dialog dengan para pelaku pengambil kebijakan dalam proses pemerintah. Banyak langkah yang bias kita tempuh dialog, lokakarya, seminar, audiensi dan lain-lain, yang diharapkan dari kegiatan semacam ini bisa akan melahirkan ide-ide solutif dengan kita berdiri sebagai akdemisi dan pemrintah sebagai praktisi.
 Sekaranglah saatnya mahasiswa sebagai salah satu komponen kaum muda menghapuskan imej buruk yang melekat pada Almamaternya dan berkontribusi nyata dalam masyarakat. Memang hal ini tidak mudah untuk dilakukan tetapi bukan tidak mungkin untuk bisa dilakukan lewat kerjasama dan kontribusi nyata semua pihak, termasuk kaum muda.


Salam satu jiwa untuk mahasiswa pembangunan indonesia.

sabarudin
Dari Diskusi Menuju Perubahan
                                                         Forum Diskusi Pembangunan Fekon Unhalu

Persyaratan Jadi Ganjalan Peremajaan Sawit Rakyat

Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menjadi salah satu program pemerintah Joko Widodo dalam upaya meningkatkan produktivitas perkebunan kelap...