Tulisan saya buat disaat saya melihat
dedline salah satu majalah ternama yang ada di Indonesia yakni bisnis indonesia
di edisi KTI, atau lazim dikenal dengan nama kawasan timur Indonesia, kawasan
timur Indonesia memang menarik untuk selalu dilihat secara nasional kenapa? ada
beberap yang membuat para pengamat ekonomi bahkan sampai politik pun. Salah satunya
yang dari dulu selalu didengunkan yakni kesenjangan pembangunan nasional yang
kalau saya katakana anak tiri dari pembangunan di negri ini. Bahkan isu-isu
masalah keamanan yang sempat merepotkan pihak kepolisian papua dan poso salah
satunya, namun yang menarik kali ini isu yang dioangkat dalam majalah ini pada
salah satu kolom ekonominya yakni berita daerah kita yang dengan jelas diberi
judul “ekonomi sultra tumbuh 11,58% pada triwulan tiga tahun 2012”
Memasuki triwulan
tiga pertumbuhan ekonomi sultra sampai menembus pada angka 11,58%, (majalah bisnis Indonesia edisi Kti,
6 november 2012), diatas pertumbuhan ekonomi nasional 6,17% (kompas
edisi 6 november 2012), adalah kabar baik untuk daerah kita tercinta,
harapan besar yang akan menyusul dari argumentasi media dan pemerintah ini pada
masyarakat kenapa? Pertumbuhan ekonomi suatu Negara atau daerah tentu akan
diikuti dengan perbaikan-perbaikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni
tingkat kemiskinan yang menurun, kesenjangan pendapatan yang merata, lapangan
pekerjaan yang tersedia, kesenjangan pendapatan daerah yang merata disemua
kabupaten/kota se Sultra, ini sejalan dengan cita-cita para pendiri bangsa yang
dituangkan dalam pembukaan UUD kita, salah satunya alinea keempat pembukaan uu
dasar 1945 “bahwa Negara berkewajiban menghadirkan kondisi kehidupan berbangsa
dan bernegara yang bebas,bersatu, berdaulat, adil, dan makmur, adalah tugas
utama pemerintah kita nasional maupun daerah.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini banyak
memunculkan harapan-harapan baru menuju sultra yang adil dan makmur, namun
selain harapan tentu ada kekhawatiran dari pada kondisi pertumbuhan dalam
angka-angka ini, ada bebrapa pertanyaan yang perlu diajukan, (1), apakah betul
ditinjau secara kelembagaan misalnya pertumbuhan ekonomi ini sudah mampu
memberikan kebebasan ekonomi politik, keamanan, pemerintah yang akuntabel, dan
partisipatif dari masyarakat? Ini sejalan dengan argumentasi yang di ajukan
oleh salah satu tokoh peraih nobel ekonomi tahun 1998 Amartya Sen. (2), apakah pertumbuhan ekonomi yang tinggi terjadi
disultra mengandung asas yang inklusif
atau sustainable development, yakni pertumbuhan yang harus ditopang oleh sector-sektor
yang mampu melakuakn tradeable yakni sector
yang mampu bertansformasi dengan lingkungan sekitar, penyedia lapangan kerja,
dll. Ini sejalan dengan argumentasi yang
selama ini dinbangun oleh salah satu ekonom sultra “Samsul Anam Ilahi yang juga dosen ilmu ekonomi studi pembangunan
unhalu. Sehingga kedepan kita ketika melihat pertumbuhan ekonomi yang tinggi
ini kalau dengan mengroscek lebih dalam dari kesehatan pertumbuhan ekonomi ini
maka akan mengetahui bagaimana perekonomian yang tinggi ini dibangun,
pemerintah kita sebenarnya mengarahklan pertumbuhan ekonomi darah ini ke mana
pemeratan kah atau pertumbuhan ekonomi yang tinggi saja??
Berkualitasnya suatu pertumbuhan sebenarnya bukan
berdasarkan angka-angka, namun kenyatan lapangan lah yang perlu menjadi tolak
ukur dari pada pembangunan, yang harus selalu bertolak pada pembangunman yang inklusif dan sustainable devolopment
yang turut mengahdirkan penopang ekonmi itu lebih pada sector tradeable bukan sector non tradeable. Namun kalau kita liat bersama secara jeli
dan tajam bahwa hari ini kondisi angka-angka dari pertumbuhan ekonomi yang
selalu membenarkan argumentasi pemerintah tentang kondisi perekonomian ini,
memang menunjukan kondisi yang baik dan tidak masuk akal, semisal dalam tulisan
saya yang lalu terlihat disitu jelas dari tahun 2007-2012 misalnya tingkat
kemiskinan sultra menuru dengan anggka-anggak yang cukup fantastic. Namun jangan
sampai tingkat yang menurun itu justru menurun pada anak cucu kita. Kalau toh
memang terjadi penurunan kemiskinan secara logika makan aka nada pergerseran
komposisi penduduk dari kalangan bawah ke kelas menengah dan kelas atas, namun
ini tidak bahkan masih diragukan kebenaranya. Selanjutnya pertumbuhan yang
tinggi juga harus mampu menyediakan lapangan kerja yang cukup untuk angkatan
kerja kita, namun ini sangat diragukan mengingat banyak sarjana yang masih
berkeliaran disana sini,
Pada akhirnya kita sebenarnya harus realistis
melihat, dan pemerintah harus dengan lapangan dada mengaku bahwa pertumbuhan
yang di cetak ini adalah pertumbuhan yang tidak sehat, dalam artian pertumbuhan
yang tinggi ini sebenarnya hanya didorong oleh sektor2 yang besar atau sktor
yang tradeable dikenal dalam ekonomi
moden ini , bukan pada tataran kalangan bawah. Dan pada akhirnya tujuan
pembangunan sultra dapat kita maknai pertumbuhan yang ingin mencetak rekor atau
mau masuk muri, bukan pada keberlangsungan ekonomi.
Salam satu jiwa untuk mahasiswa pembangunan unhalu
Oleh, sabarudin