Selasa, 06 November 2012

Menolak Pertumbuhan yang Tinggi



             Tulisan saya buat disaat saya melihat dedline salah satu majalah ternama yang ada di Indonesia yakni bisnis indonesia di edisi KTI, atau lazim dikenal dengan nama kawasan timur Indonesia, kawasan timur Indonesia memang menarik untuk selalu dilihat secara nasional kenapa? ada beberap yang membuat para pengamat ekonomi bahkan sampai politik pun. Salah satunya yang dari dulu selalu didengunkan yakni kesenjangan pembangunan nasional yang kalau saya katakana anak tiri dari pembangunan di negri ini. Bahkan isu-isu masalah keamanan yang sempat merepotkan pihak kepolisian papua dan poso salah satunya, namun yang menarik kali ini isu yang dioangkat dalam majalah ini pada salah satu kolom ekonominya yakni berita daerah kita yang dengan jelas diberi judul “ekonomi sultra tumbuh 11,58% pada triwulan tiga tahun 2012”
  
Memasuki triwulan tiga pertumbuhan ekonomi sultra sampai menembus pada angka 11,58%, (majalah bisnis Indonesia edisi Kti, 6 november 2012), diatas pertumbuhan ekonomi nasional 6,17% (kompas edisi 6 november 2012), adalah kabar baik untuk daerah kita tercinta, harapan besar yang akan menyusul dari argumentasi media dan pemerintah ini pada masyarakat kenapa? Pertumbuhan ekonomi suatu Negara atau daerah tentu akan diikuti dengan perbaikan-perbaikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni tingkat kemiskinan yang menurun, kesenjangan pendapatan yang merata, lapangan pekerjaan yang tersedia, kesenjangan pendapatan daerah yang merata disemua kabupaten/kota se Sultra, ini sejalan dengan cita-cita para pendiri bangsa yang dituangkan dalam pembukaan UUD kita, salah satunya alinea keempat pembukaan uu dasar 1945 “bahwa Negara berkewajiban menghadirkan kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara yang bebas,bersatu, berdaulat, adil, dan makmur, adalah tugas utama pemerintah kita nasional maupun daerah.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini banyak memunculkan harapan-harapan baru menuju sultra yang adil dan makmur, namun selain harapan tentu ada kekhawatiran dari pada kondisi pertumbuhan dalam angka-angka ini, ada bebrapa pertanyaan yang perlu diajukan, (1), apakah betul ditinjau secara kelembagaan misalnya pertumbuhan ekonomi ini sudah mampu memberikan kebebasan ekonomi politik, keamanan, pemerintah yang akuntabel, dan partisipatif dari masyarakat? Ini sejalan dengan argumentasi yang di ajukan oleh salah satu tokoh peraih nobel ekonomi tahun 1998 Amartya Sen. (2), apakah pertumbuhan ekonomi yang tinggi terjadi disultra mengandung asas yang inklusif atau sustainable development, yakni pertumbuhan yang harus ditopang oleh sector-sektor yang mampu melakuakn tradeable yakni sector yang mampu bertansformasi dengan lingkungan sekitar, penyedia lapangan kerja, dll.  Ini sejalan dengan argumentasi yang selama ini dinbangun oleh salah satu ekonom sultra “Samsul Anam Ilahi yang juga dosen ilmu ekonomi studi pembangunan unhalu. Sehingga kedepan kita ketika melihat pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini kalau dengan mengroscek lebih dalam dari kesehatan pertumbuhan ekonomi ini maka akan mengetahui bagaimana perekonomian yang tinggi ini dibangun, pemerintah kita sebenarnya mengarahklan pertumbuhan ekonomi darah ini ke mana pemeratan kah atau pertumbuhan ekonomi yang tinggi saja??
Berkualitasnya suatu pertumbuhan sebenarnya bukan berdasarkan angka-angka, namun kenyatan lapangan lah yang perlu menjadi tolak ukur dari pada pembangunan, yang harus selalu bertolak pada pembangunman yang inklusif dan sustainable devolopment yang turut mengahdirkan penopang ekonmi itu lebih pada sector  tradeable bukan sector non tradeable. Namun kalau kita liat bersama secara jeli dan tajam bahwa hari ini kondisi angka-angka dari pertumbuhan ekonomi yang selalu membenarkan argumentasi pemerintah tentang kondisi perekonomian ini, memang menunjukan kondisi yang baik dan tidak masuk akal, semisal dalam tulisan saya yang lalu terlihat disitu jelas dari tahun 2007-2012 misalnya tingkat kemiskinan sultra menuru dengan anggka-anggak yang cukup fantastic. Namun jangan sampai tingkat yang menurun itu justru menurun pada anak cucu kita. Kalau toh memang terjadi penurunan kemiskinan secara logika makan aka nada pergerseran komposisi penduduk dari kalangan bawah ke kelas menengah dan kelas atas, namun ini tidak bahkan masih diragukan kebenaranya. Selanjutnya pertumbuhan yang tinggi juga harus mampu menyediakan lapangan kerja yang cukup untuk angkatan kerja kita, namun ini sangat diragukan mengingat banyak sarjana yang masih berkeliaran disana sini,
Pada akhirnya kita sebenarnya harus realistis melihat, dan pemerintah harus dengan lapangan dada mengaku bahwa pertumbuhan yang di cetak ini adalah pertumbuhan yang tidak sehat, dalam artian pertumbuhan yang tinggi ini sebenarnya hanya didorong oleh sektor2 yang besar atau sktor yang tradeable dikenal dalam ekonomi moden ini , bukan pada tataran kalangan bawah. Dan pada akhirnya tujuan pembangunan sultra dapat kita maknai pertumbuhan yang ingin mencetak rekor atau mau masuk muri, bukan pada keberlangsungan ekonomi.


Salam satu jiwa untuk mahasiswa pembangunan unhalu
Oleh, sabarudin

Persyaratan Jadi Ganjalan Peremajaan Sawit Rakyat

Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menjadi salah satu program pemerintah Joko Widodo dalam upaya meningkatkan produktivitas perkebunan kelap...