Pemilihan ketua jurusan baru
yang dilakukan pada tanggal 4 januari 2013 yang lalu akhirnya malahirkan bunda
rosnawitang sebagai ketua jurusan baru ilmu ekonomi studi pembangunan yang akan
segera mengantikan ketua jurusan lama yang selama ini kalau menurut saya
sebagai penulis telah melakukan yang terbaik untuk jurusan ini.
Dalam agenda Forum dosen
ilmu ekonmomi studi pembangunan telah disepakati bersama bunda rosnawintan untuk ketua jurusan yang
baru, yang kabarnya terpilih secara aklamasi karnah tidak ada satupun yang
berinisiatif untuk memegang amanah ini. Selamat kepada bunda rosnawintang
sebagai ketua jurusan baru ilmu ekonomi, yang secara bulat terpilih secara
aklamasi dalam forum, bersama dosen ilmu ekonomi studi pembangunan, semoga
mampu membawa angin baru di jurusan ini, dan melakukan apa yang harus di benahi
dan di pertahankan yang sudah kita capai di jurusan ini.
Proses terpilinya ketua jurusan baru yang dilakukan secara aklamsi dapat kita sambut bersama bahwa sudah ada kesepakatan bulat bahwa yang di usung ini betul-betul adalah sosok yang akan mampu memegang amanah tertinggi di jurusan, ataukah ini adalah merupakan ketakutan yang akibat dari suara dekan kita sebesar 35% yang nantinya mengindikasikan orang dekan lah yang akan terpilih meskipun ada calon lain?,
Kalau kita jawab bersama;
bahwa aklamasi sah-sah saja dalam sebuah pertarungan untuk mendapatkan pimpinan
dalam suasana demokrasi yang sedang kita jalankan bersama, namun selama itu
tidak ada yang namanya interfensi dalam artian campur tangan luar yang
mengindikasikan politik praktis sedang bermain dalam ajang yang bermartabat.
Bagaimana tidak sebagai mahasiswa patut kita curigai bersama bahwa indikasi
keterlibatan campur tangan dekan dengan komposisi suara dekan dalam pemilihan
ketua jurusan baru sebanyak 35% ini sadar atau tidak akan membuat ketakutan
orang untuk memberanikan diri mencalonkan dalam pemilihan. Kalau kita beranjak
pada opini bahwa suara Dekan sebesar 35% itu akan menimbulkan pembukaman nilai2 demokrasi sangat benar,
karna dengan rasionalisasi apapun pemilihan ketua jurusan yang baru dengan
interfensi Dekan itu akan dimenangkan Dekan sendiri. Atau oranya dekan.
Menarik memang kalau kita sebagai mahasiswa atau masyarakat yang paham akan nilai-nilai bangunan demokrasi yang telah kita sepakati bersama dengan satu momen yang sering kita namakan reformasi. Bagaimana tidak suara Dekan 35% itu adalah system kerajaan dalam artian kemunduran demokrasi sedang berlangsung. Bagaimana tidak contoh kasus dalam pemilihan ketua jurusan ini bukti nyata yang perlu kita lihat secara logika. Bahkan dalam pemilihan ketua jurusan ini visi-dan misi pun tidak bisa di lakukan ditempat umum.
Namun terlepas dari opini
negative yang akan muncul di tengah-tengah kita, kita harus menaruh harapan
besar kepada Ketua Jurusan Yang Baru,
dan mudah-mudahan pemilihan ketua jurusan dengan nada yang berhembus di luar
mengindikasikan interfensi Dekan 35%, tidak membunuh kretifitas ketua jurusan
yang baru untuk membangun jurusan ini, dan tidak menjadi ketua jurusan yang
mudah di kompromikan setiap saat oleh pimpinan tertinggi di fakultas ini.
*Salam demokrasi yang telah
mengajarklan kita untuk melihat secara kritis*
Sabarudin