Kamis, 10 Januari 2013

JALAN MULUS (KETUA) JURUSAN (BARU)



Pemilihan ketua jurusan baru yang dilakukan pada tanggal 4 januari 2013 yang lalu akhirnya malahirkan bunda rosnawitang sebagai ketua jurusan baru ilmu ekonomi studi pembangunan yang akan segera mengantikan ketua jurusan lama yang selama ini kalau menurut saya sebagai penulis telah melakukan yang terbaik untuk jurusan ini.

Dalam agenda Forum dosen ilmu ekonmomi studi pembangunan telah disepakati bersama  bunda rosnawintan untuk ketua jurusan yang baru, yang kabarnya terpilih secara aklamasi karnah tidak ada satupun yang berinisiatif untuk memegang amanah ini. Selamat kepada bunda rosnawintang sebagai ketua jurusan baru ilmu ekonomi, yang secara bulat terpilih secara aklamasi dalam forum, bersama dosen ilmu ekonomi studi pembangunan, semoga mampu membawa angin baru di jurusan ini, dan melakukan apa yang harus di benahi dan di pertahankan yang sudah kita capai di jurusan ini.


Proses terpilinya ketua jurusan baru yang dilakukan secara aklamsi dapat kita sambut bersama bahwa sudah ada kesepakatan bulat bahwa yang di usung ini betul-betul adalah sosok yang akan mampu memegang amanah tertinggi di jurusan, ataukah ini adalah merupakan ketakutan yang akibat dari suara dekan kita sebesar 35% yang nantinya mengindikasikan orang dekan lah yang akan terpilih meskipun ada calon lain?,

Kalau kita jawab bersama; bahwa aklamasi sah-sah saja dalam sebuah pertarungan untuk mendapatkan pimpinan dalam suasana demokrasi yang sedang kita jalankan bersama, namun selama itu tidak ada yang namanya interfensi dalam artian campur tangan luar yang mengindikasikan politik praktis sedang bermain dalam ajang yang bermartabat. Bagaimana tidak sebagai mahasiswa patut kita curigai bersama bahwa indikasi keterlibatan campur tangan dekan dengan komposisi suara dekan dalam pemilihan ketua jurusan baru sebanyak 35% ini sadar atau tidak akan membuat ketakutan orang untuk memberanikan diri mencalonkan dalam pemilihan. Kalau kita beranjak pada opini bahwa suara Dekan sebesar 35% itu akan menimbulkan pembukaman nilai2 demokrasi sangat benar, karna dengan rasionalisasi apapun pemilihan ketua jurusan yang baru dengan interfensi Dekan itu akan dimenangkan Dekan sendiri. Atau oranya dekan.


Menarik memang kalau kita sebagai mahasiswa atau masyarakat yang paham akan nilai-nilai bangunan demokrasi yang telah kita sepakati bersama dengan satu momen yang sering kita namakan reformasi. Bagaimana tidak suara Dekan 35% itu adalah system kerajaan dalam artian kemunduran demokrasi sedang berlangsung. Bagaimana tidak contoh kasus dalam pemilihan ketua jurusan ini bukti nyata yang perlu kita lihat secara logika. Bahkan dalam pemilihan ketua jurusan ini visi-dan misi pun tidak bisa di lakukan ditempat umum.

Namun terlepas dari opini negative yang akan muncul di tengah-tengah kita, kita harus menaruh harapan besar kepada Ketua Jurusan Yang Baru, dan mudah-mudahan pemilihan ketua jurusan dengan nada yang berhembus di luar mengindikasikan interfensi Dekan 35%, tidak membunuh kretifitas ketua jurusan yang baru untuk membangun jurusan ini, dan tidak menjadi ketua jurusan yang mudah di kompromikan setiap saat oleh pimpinan tertinggi di fakultas ini.

*Salam demokrasi yang telah mengajarklan kita untuk melihat secara kritis*   
Sabarudin 

KADO PD III BARU. DENGAN TENAR SAYA KATAKAN TIDAK MEMILIKI (SOLUSI)



Rabu kemarin adalah hari yang patut kita sayangkan bersama dalam pengelolaan kelembagaan di fakultas ini, bagaiman tidak dalam sejarah berdirinya lembaga mahsiswa khususnya HMJ IESP baru kali ini juga proposal yang di ajukan oleh pengurus lembaga di kembalikan oleh pembantu dekan 3 kepada ketua himpunan jurusan ilmu ekonomi studi pembangunan, hanya alasan anggaran yang belum ada kata PD III.  
Momen pelantikan pejabat lingkup fakultas ekonomi yang baru-baru ini sebenarnya banyak kalangan yang menaruh harapan besar kepada Dekan kita sebagai pimpinan tertinggi di fakultas ini, karnah kita semua mengira bahwa pejabat yang dilantik ini adalah orang-orang yang betul-betul paham akan tupoksi dan memiliki keahlian dalam menjalankan amanah yang telah di berikan.  Namun ini diluar harapan kita semua sebagai warga dari fakultas ini, bagaimana tidak sadar atau tidak pembantu dekan tiga dengan sikap yang telah dilakukan kemarin telah memnculkan opini bahwa pembatu dekan ini kurang memahami peran-peranya.
Saya mendukung apapun yang dilakukan oleh saudara-saudara untuk menjalankan lembaga namun hanya pada sebatas dukungan moril, dan secara materi saya tidak mendukung” inilah sepengal jawaban PD III yang diterima ketua HMJ baru dapatkan kepada dekan saat mengajukan proposal pelantikan ketua HMJ baru IESP. Setelah kita merenung ada satu pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada semua komponen yang ada difakultas ini, inikah jawan yang harus kita dapatkan kepada pembantu Dekan 3 yang membidangi kemhasiswaan. Kalau ini jawabanya ada satu lagi yang harus kita ajukan kepada pembantu Dekan 3 kita dimana uang sumbangan yang telah kami sisihkan dalam setiap momen pembayaran SPP setiap semesternya? Tolong dijawab……………….!
Seharusnya komitmen dalam memperbaiki lembaga tidak hanya menjadi buah bibir di kalangan birokasi, biroksi kemudian harus memahami tupoksi dari pada  lembaga kemahasiswaan, birokrasi seharusnya tidak seenaknya menjawab apa keluhan dari pada lembaga kemahasiswaan. Dan pada akhirnya saya katakana jangan kaku dalam mengelola lembaga kemahsiswaan.
*Salam reformasi birokrasi yang telah gagal dilakukan dekan kita*

Persyaratan Jadi Ganjalan Peremajaan Sawit Rakyat

Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menjadi salah satu program pemerintah Joko Widodo dalam upaya meningkatkan produktivitas perkebunan kelap...