Sabtu, 16 Februari 2013

*Kadang Kita Melupakan Hal Yang Kecil *Menulis

gedung iesp*2013
Tulisan ini saya buat disaat lewat disalah satu sudut kampus kita ekonomi tepatnya di gedung ilmu ekonomi studi pembangunan dan tepatnya lagi di depan secretariat HMJ ilmu ekonomi pembangunan yang memiliki ketua umum namanya la ode kadar, namun pandangan saya seakan di perhadapkan dengan salah satu papan mading kampus kita yang berdiri tegak namun tidak ada tulisan, tempelan selembar kertas pun, namun dalam hati berpikir seakan madding ini malu dengan kondisi semacam ini, malu dalam artian mahasiswa tidak lagi menghargai/menggali pemikiran-pemikiran yang bertebaran disana-sini, bersamaan dengan ini pula saya teringat dengan salah satu novelis handal yang pernah di miliki negri ini,adalah Pramodya Ananta Toer yang menurut sejarah novelis ini separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara di era-hindia belanda karnah di anggap membahayakan pemerintahan hindia belanda pada waktu itu melalui esai-esai yang dia tulis-nya.  Namun dalam tulisan ini saya tidak mempersoalkan novelis ini, hanya ada sumbangan pemikiran beliau yang perlu kita cermati bersama, renungkan bersama dan semoga menjadi terapi mental, gagasan-gasan kita untuk dapat mengerakahkan tangan kita diatas papan keyboard leptop kita untuk meluangkan waktu sejenak yakni menulis., “orang boleh pandai setinggi langgit, namun selama dia tidak menulis dia juga akan di telan oleh zaman” inilah sepenggal kalimat yang sudah menghipnotis banyak orang untuk meluangkan waktu menulis...kita kapan memulainya?

Kapan kita memulainya? Ini pertanyaan awal yang dapat saya ajukan untuk teman-man mahasiswa ekonomi yang katanya setelah dari kampus ini kita dilahirkan menjadi seorang ekonom, akuntan, manajer..yang diharapkan dapat berkontri busi terhadap kemerdekaan yang telah di rebut dengan susah payah oleh para founding father kita, kenapa demikian karena kita merupakan anak bangsa yang lahir dari rahim ibu pertiwi maka sudah konsekuensi logis untuk berpartisipasi dalam mengawal perjalanan bangsa ini. Pertanayaan yang muncul adalah apakah kita mampu mengemban amanah ini? Rasa pesimis sekarang dapat kita ajukan kepada diri kita masing-masing, adalah ketidak masuk akalan ketika kita mau ikut serta dalam peperangan mengawal perjalanan bangsa ini, ketika hal yang sepele saja luput dari penglihatan kita, luput dari pemikiran kita, bukankah hal besar itu adalah akumulasi dari pada hal yang kecil, bukankah gagasan-gagasan itu adalah cerminan dari kita untuk mengambil peran dalam perjalanan bangsa ini. Kampus kita, daerah ini kita ini, bumi anoa ini kalau kami sebagai parlemen jalanan*
Kita tidak bisa menghindar dari kata kita tidak bisa berkontribusi dalam perjalanan bangsa ini, adalah madding yang dengan suara lantangnya kalau madding tadi ini mampu berkata-kata-mampu beretorika, bahwa hal kecil saja kita kawan-kawan tidak mampu untuk berbuat, apa lagi masuk pada hal yang kompleks. Menulis adalah salah satu cara kita untuk memberikan kontribusi terhadap bangsa ini.
Kenapa menulis, karnah kita bukan kalangan birokrasi, untuk ikut serta dalam melayani masyarakat, kita adalah kumpulan anak-nak bangsa yang berlebelkan keilmuan masing-masing, maka di sinilah sakralnya kata menulis, karnah yakninlah bahwa menulih akan mempu memberikan edukasi terhadap masyarakt luas, pemerintah, masyarakat luas, politisi, minimal tidak diri kita sendiri. Kita kalangan akademisi mau tidak mau harus turut ikut ambil bagian untuk memberikan edukasi terhadap elemen-elemen yang ada, stekholder yang ada. Dengan menulis kita mampu mengawikan pemeikiran kita dengan masalah lapangan yang ada.
Menulis adalah keabadian, menulis adalah proses bersemedi dengan tinta diatas kertas, diatas kibor computer kita, menulis adalah proses berdemonstrasi dalam dunia maya..inilah beberapa sepengal kalimat-kalimat yang saya pernah temukan dalam blok-blok pemikir, penulis.
Mari kita mulai bersama, satu kata ini Menulis, sejak 2009 saya masuk di kampus ini adalah kenyataan bahwa kita tidak menghargai yang namanya gagasan-gagasan kecil, kita tidak punya kecerdasan dalam hal menganalisa sesuatu isu yang dibawah dalam ranah edukasi. Padahal kita sebenarnya tidak bodoh-bodoh amat untuk yang satu ini, seharusnya fekon ini dapat kita jadikan bersama sebagai laboratorim ekspolorasi isu-isu ekonomi lokal, namun yang terjadi sebaliknya, kita hanya menjadi mahasiswa instan yang menerima begitu saja gagasan-gagasan orang. Tidak ada kata terlambat untuk memulai dalam hal menulis ini banyak top isu nasional, isu daerah kita untuk kita olah dengan gaoresan-goresan tangan kita. Sehingga dengan begini madding kita tidak lagi kekeringan tulisan-tulisan yang brilian.
SELAMAT MEMULAI KAWAN !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Kesimpulan yang dapat saya ajukan? Sebenarnya, saya tidak sedang berusaha menyimpulkan apapun. Saya hanya ingin, sekali lagi, menunjukkan beberapa hal yang luput dari penglihatan,dan pemikiran kawan-kawan, sehingga pada akhirnya opini saya ini akan menjadi sumber informasi  lain bagi kawan-kawan.

Persyaratan Jadi Ganjalan Peremajaan Sawit Rakyat

Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menjadi salah satu program pemerintah Joko Widodo dalam upaya meningkatkan produktivitas perkebunan kelap...