| gedung iesp*2013 |
Tulisan ini saya buat disaat lewat disalah satu sudut kampus kita ekonomi
tepatnya di gedung ilmu ekonomi studi pembangunan dan tepatnya lagi di depan
secretariat HMJ ilmu ekonomi pembangunan yang memiliki ketua umum namanya la ode kadar, namun pandangan saya
seakan di perhadapkan dengan salah satu papan mading kampus kita yang berdiri
tegak namun tidak ada tulisan, tempelan selembar kertas pun, namun dalam hati
berpikir seakan madding ini malu dengan kondisi semacam ini, malu dalam artian
mahasiswa tidak lagi menghargai/menggali pemikiran-pemikiran yang bertebaran
disana-sini, bersamaan dengan ini pula saya teringat dengan salah satu novelis
handal yang pernah di miliki negri ini,adalah Pramodya Ananta Toer yang menurut sejarah novelis ini separuh
hidupnya dihabiskan dalam penjara di era-hindia belanda karnah di anggap
membahayakan pemerintahan hindia belanda pada waktu itu melalui esai-esai yang
dia tulis-nya. Namun dalam tulisan ini
saya tidak mempersoalkan novelis ini, hanya ada sumbangan pemikiran beliau yang
perlu kita cermati bersama, renungkan bersama dan semoga menjadi terapi mental,
gagasan-gasan kita untuk dapat mengerakahkan tangan kita diatas papan keyboard
leptop kita untuk meluangkan waktu sejenak yakni menulis., “orang boleh pandai setinggi langgit, namun selama dia tidak menulis
dia juga akan di telan oleh zaman” inilah sepenggal kalimat yang sudah
menghipnotis banyak orang untuk meluangkan waktu menulis...kita kapan
memulainya?
Kapan kita memulainya? Ini pertanyaan
awal yang dapat saya ajukan untuk teman-man mahasiswa ekonomi yang katanya
setelah dari kampus ini kita dilahirkan menjadi seorang ekonom, akuntan,
manajer..yang diharapkan dapat berkontri busi terhadap kemerdekaan yang telah
di rebut dengan susah payah oleh para founding father kita, kenapa demikian
karena kita merupakan anak bangsa yang lahir dari rahim ibu pertiwi maka sudah
konsekuensi logis untuk berpartisipasi dalam mengawal perjalanan bangsa ini.
Pertanayaan yang muncul adalah apakah kita mampu mengemban amanah ini? Rasa
pesimis sekarang dapat kita ajukan kepada diri kita masing-masing, adalah
ketidak masuk akalan ketika kita mau ikut serta dalam peperangan mengawal
perjalanan bangsa ini, ketika hal yang sepele saja luput dari penglihatan kita,
luput dari pemikiran kita, bukankah hal besar itu adalah akumulasi dari pada
hal yang kecil, bukankah gagasan-gagasan itu adalah cerminan dari kita untuk
mengambil peran dalam perjalanan bangsa ini. Kampus kita, daerah ini kita ini,
bumi anoa ini kalau kami sebagai parlemen jalanan*
Kita tidak bisa menghindar dari kata
kita tidak bisa berkontribusi dalam perjalanan bangsa ini, adalah madding yang
dengan suara lantangnya kalau madding tadi ini mampu berkata-kata-mampu
beretorika, bahwa hal kecil saja kita kawan-kawan tidak mampu untuk berbuat,
apa lagi masuk pada hal yang kompleks. Menulis adalah salah satu cara kita
untuk memberikan kontribusi terhadap bangsa ini.
Kenapa menulis, karnah kita bukan
kalangan birokrasi, untuk ikut serta dalam melayani masyarakat, kita adalah
kumpulan anak-nak bangsa yang berlebelkan keilmuan masing-masing, maka di
sinilah sakralnya kata menulis, karnah yakninlah bahwa menulih akan mempu
memberikan edukasi terhadap masyarakt luas, pemerintah, masyarakat luas, politisi,
minimal tidak diri kita sendiri. Kita kalangan akademisi mau tidak mau harus
turut ikut ambil bagian untuk memberikan edukasi terhadap elemen-elemen yang
ada, stekholder yang ada. Dengan menulis kita mampu mengawikan pemeikiran kita
dengan masalah lapangan yang ada.
Menulis adalah keabadian, menulis
adalah proses bersemedi dengan tinta diatas kertas, diatas kibor computer kita,
menulis adalah proses berdemonstrasi dalam dunia maya..inilah beberapa sepengal
kalimat-kalimat yang saya pernah temukan dalam blok-blok pemikir, penulis.
Mari kita mulai bersama, satu kata ini Menulis, sejak 2009 saya masuk di
kampus ini adalah kenyataan bahwa kita tidak menghargai yang namanya
gagasan-gagasan kecil, kita tidak punya kecerdasan dalam hal menganalisa
sesuatu isu yang dibawah dalam ranah edukasi. Padahal kita sebenarnya tidak
bodoh-bodoh amat untuk yang satu ini, seharusnya fekon ini dapat kita jadikan
bersama sebagai laboratorim ekspolorasi isu-isu ekonomi lokal, namun yang
terjadi sebaliknya, kita hanya menjadi mahasiswa instan yang menerima begitu
saja gagasan-gagasan orang. Tidak ada kata terlambat untuk memulai dalam hal
menulis ini banyak top isu nasional, isu daerah kita untuk kita olah dengan
gaoresan-goresan tangan kita. Sehingga dengan begini madding kita tidak lagi
kekeringan tulisan-tulisan yang brilian.
SELAMAT MEMULAI KAWAN
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Kesimpulan yang
dapat saya ajukan? Sebenarnya, saya tidak sedang berusaha menyimpulkan apapun.
Saya hanya ingin, sekali lagi, menunjukkan beberapa hal yang luput dari
penglihatan,dan pemikiran kawan-kawan, sehingga pada akhirnya opini saya ini
akan menjadi sumber informasi lain bagi
kawan-kawan.