Senin, 11 Februari 2013

Arah Infestasi Sultra Tahun Ini Tetap Pada Sektor Non Tradeble !



Tahun 2012 sudah meningalkan kita semua bahkan hari ini pun sudah kita mengijakan kaki di anak ke dua bulan ditahun 2013 ini,  tahun 2012 yang lalu benyak mininggalkan catatan kaki kalau kita lebih cermat dalam mengarahkan penglihatan kita terhadap informasi-informasi yang di opinikan oleh pemerintah, salah satunya yang berkaitan dengan kondisi perekonomian yang terjadi di propinsi yang kita tinggali ini, Sultra. Tahun 2012 yang lalu seakan sultra menjadi buah bibir dikalangan jurnalistik, akademisi, praktisi, ini semua disebabkan oleh sultra merupakan salah satu daerah yang ada dikawasan timur Indonesia yang  mendapat predikat tertinggi di dalam pertumbuhan ekonomi sesudah papua barat, sultra sendiri menempati urutan ke dua tertinggi di kawasan timur Indonesia ini, yakni sebesar 11,58 persen pada kuartal ke VI ditahun 2012. Pemerintahpun seakan mendapat banyak pujian dari konsekuesi keberhasilan ini, akademisi, praktisi, media masa, bahakan pemimpin kita yang di kolaborasi dalam pidato-pidato politik pencitraan dalam setiap momen perjalananya seakan menjadi kebanggaan tersendiri. Pertumbuhan ekonomi diatas dalam kesempatan ini penulis hanya membedahkan pada dua garis besar yakni sector tradable (sector yang inklusif) dan sector non-tradeable (sector yang tidak dapat inklusif).
Sultra bumi anoa yang dikenal beribukotakan Kendari, adalah daerah yang mulai dipandang oleh tingkatan nasional bahkan internasional sekalipun, perbaikan segala lini ditingkatkan oleh pemerintah, disisi-sisi pelayanan publik mulai dibenahi,  promosi kungulan-keungulan yang dimiliki oleh daerah ini; seperti sumber daya alamnya  pariwisata yang akhir-akhir ini sudah mulai gencar di perkenalkan, pertambangan, dan lain sebagainya. Kondisi ini seakan menjadi konsekuesi logis jika kita mengambil rujukan di beberapa daerah yang ada di kawasan Indonesia. Identifikasi potensi daerah, promosi darah, pemasaran daerah adalah hal yang sedang di upayakan oleh pemerintah kita saat ini, adalah kata brend yang sering di ungkapkan oleh salah satu Dosen Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan,  jika daerah ingin di lihat atau dilirik oleh investor maka hal yang pertama dilakukan adalah menciptakan brend (kutipan dalam salah satu blok dosen bersangkutan), di mana sebenarnya daerah ini berada? Daerah tujuan kah, Daerah Transit kah? Atau Daerah Pariwisat? . Sultra hari ini berada dimana siapa yang tau? Namun kalu kita mencermati kontruksi daerah kita akhir-akhir ini bisa kita mengjukan opini bahwa daerah kita bisa di kategorikan, daerah tujuan.  Mengapa demikian? Sultra adaladan daerah pariwisatah,  salah satu daerah yang memiliki potensi sumber daya alam, pariwisata wakatobi, benteng kraton buton yang terpanjang di dunia,  potensi pertambangan yang akhir-akhir ini mulai di genjot oleh pemerintah, kondis ini seakan menjawab dari pada pertanyaan bahwa sultra adalah daerah tujuan dan daerah pariwisata, kalau penulis di berikan kesempatan untuk ber-opini.
Terlepas dari itu kendari ibukota sultra hari ini seakan sesak dengan serbuan investor di bidang Property, contoh kasus masuknya beberapa Investor ternama bidang property adalah bukti Citra Lend, Hotel Clarion, Lipo Grub, THM yang mulai menjamur di kota kendari, rumah makan dalan masih banyak lagi. Ini adalah bukti bahwa sultra sudah mulai di lirik di tingkatan nasional, bahwa sultra adalah seksi di mata investor itu tidak lagi bisa di pungkiri, maka wajar Sultra mendapatkan pertumbuhan diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional, ini semua adalah kerja dari pada dua sector besar yang saya sebutkan di awal tadi, yakni Sector Tradable (sector yang inklusif) dan Sector non Tradeable (sector yang tidak dapat Inklusif), lalu apa yang penulis permasalhakan dengan judul besar Arah Infestasi Sultra Tahun ini Tetap Pada Sektor Non Tradeble ?
Mari kita membaca sedikit….
Sector Tradable?
Kata ini adalah kata yang umum sering dipakai oleh seorang analis Ekonom maupun Sosiolog, yang sebenarnya kalau kita mengartikan dalam bahasa yang femilir dengan kita sektor Tradeable itu adalah Sector yang mampu memberikan efek terhadap orang banyak, seperti sector Pertanian, Perikanan, Kehutanan, Industry, UMKM, dan lain sebagainya. Atau juga bisa kita mengambil gambaran bahwa sector ini mampu meningintegrasikan diri terhadap seluruh lapisan masyrakat. Sektor ini lah sebenarnya yang di tunggu-tunggu oleh masyarakat banyak terutama rakyat Indonesia, karnah ini bicara kondis masyarakat Indonesia yang lebih dari setengah pendudknya berada pada tinggkatan kalangan masyarakat bawah, tentunya setiap harinya bergulat dengan sector Pertanian, sector kelautan, sector kehutanan.
Sector Non-Tradeable ?
Sama dengan kata sektor Tradeable hanya yang membedakan adalah Non, Sektor ini adalah sektor yang di pakai juga oleh ekonom dan sosiolog untuk melawan dari pada sektor pertama tadi, dengan artian yang lebih sederhana bahwa sektor ini tidak mampu mengintegrasikan diri pada masyarakat yang kondisnya berada pada tataran bawah, karnah dia tidak memiliki modal, peluang untuk meraih ini, contoh sektor ini; Property, Hotel, Perumhan, THM, Restoran, dan penulis  tambahkan dengan Pertambangan(meskipun sektor ini masuk pada sektor Tradeable tadi, namun kondisi berkata lain).
Lalu Bagaimana kondisi sultra sekarang terhadap dua sektor ini sektor tradable (sektor yang inklusif) dan sektor non-Tradeable (sektor yang tidak dapat inklusif), apa yang menonjol dalam memberikan kontribusinya terhadap angka pertumbuhan yang melampaui pertumbuhan ekonomi nasional ?
Dengan spontan kita menjawab kalau kita mengikuti media lokal yang di lansir tanggal kamis tanggal 7 februari 2013 yang lalu, tiga Koran lokal dengan judul masing-masing yang berbeda menilai bahwa sektor non-Tardeable lah yang makin mengila, sedangkan sektor-Tradeable makin lepes. Ini seakan menandahkan bahwa daerah ini adalah daerah yang tidak memandang masyarakatnya sebagai subyek dalam berkontribusi terhadap daerah kita, kenapa demikian karnah kondisi masyarakat kita lebih banyak di ladang untuk berkebun, di sawah menanam padi, dan dikebun, dilaut untuk menjadi nelayan, di pesisir pantai untuk menjadi penambak, dan pembudidaya rumput laut.Maka selaknya kita sebenarnya mampu melihat dengan jeli arah investasi daerah ini pemerintah tengah mengarahkan pada sektor non-Tradeable..
maka kita dapat menilai bahwa pembangunan ekonomi daerah kita ini terlalu menfokuskan diri pada pertumbuhan yang mengndalkan in vestasi modal besar, namun kurang mengikusertakan rakyat kecil sebgai subjek dan bagian utama dari suatu pembangunan. Pembangunan social, atau investasi social daerah kita masih di pandang sebelah mata dan hanya dianggap sebagai sesuatu yang bersifat residual. Padahal kalau kita inginkan masyarakat yang sejahtera maka tidak lain pemerintah daerah harus mengintegrasikan  pembangunan social dengan pembangunan ekonomi dengan artian kedua elemen ini harus saling mendukung atau melengkapi.
Mengutip dari pada bahasa Nancy Birdsall (presiden center for global development), mengatakan bahwa tujuan pembangunan ekonomi bukanlah pertumbuhan ekonomi semata, tetapi lebih dari itu yakni peningkatan kesehjatraan manusia. Bahkan lebih lanjut dikatakan oleh petinggi riset pembangunan terkemuka di dunia ini, dalam sebuah tulisan yang bertajuk “social development is economic development” menyatakan dengan tegas pertumbuhan ekonomi diperlukan namun tidak cukup karnah pada akhirnya sumber daya manusia unggul dan produktifitas adalah kunci kemajuan serta keberlanjutan ekonomi suatu Negara atau daerah.  

Persyaratan Jadi Ganjalan Peremajaan Sawit Rakyat

Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menjadi salah satu program pemerintah Joko Widodo dalam upaya meningkatkan produktivitas perkebunan kelap...