Tahun
2012 sudah meningalkan kita semua bahkan hari ini pun sudah kita mengijakan
kaki di anak ke dua bulan ditahun 2013 ini,
tahun 2012 yang lalu benyak mininggalkan catatan kaki kalau kita lebih
cermat dalam mengarahkan penglihatan kita terhadap informasi-informasi yang di
opinikan oleh pemerintah, salah satunya yang berkaitan dengan kondisi
perekonomian yang terjadi di propinsi yang kita tinggali ini, Sultra. Tahun
2012 yang lalu seakan sultra menjadi buah bibir dikalangan jurnalistik,
akademisi, praktisi, ini semua disebabkan oleh sultra merupakan salah satu
daerah yang ada dikawasan timur Indonesia yang
mendapat predikat tertinggi di dalam pertumbuhan ekonomi sesudah papua
barat, sultra sendiri menempati urutan ke dua tertinggi di kawasan timur
Indonesia ini, yakni sebesar 11,58 persen pada kuartal ke VI ditahun 2012. Pemerintahpun
seakan mendapat banyak pujian dari konsekuesi keberhasilan ini, akademisi,
praktisi, media masa, bahakan pemimpin kita yang di kolaborasi dalam pidato-pidato
politik pencitraan dalam setiap momen perjalananya seakan menjadi kebanggaan
tersendiri. Pertumbuhan ekonomi diatas dalam kesempatan ini penulis hanya
membedahkan pada dua garis besar yakni sector tradable (sector yang inklusif) dan sector
non-tradeable (sector yang tidak dapat inklusif).
Sultra
bumi anoa yang dikenal beribukotakan Kendari, adalah daerah yang mulai
dipandang oleh tingkatan nasional bahkan internasional sekalipun, perbaikan
segala lini ditingkatkan oleh pemerintah, disisi-sisi pelayanan publik mulai
dibenahi, promosi kungulan-keungulan
yang dimiliki oleh daerah ini; seperti sumber daya alamnya pariwisata yang akhir-akhir ini sudah mulai
gencar di perkenalkan, pertambangan, dan lain sebagainya. Kondisi ini seakan
menjadi konsekuesi logis jika kita mengambil rujukan di beberapa daerah yang
ada di kawasan Indonesia. Identifikasi potensi daerah, promosi darah, pemasaran
daerah adalah hal yang sedang di upayakan oleh pemerintah kita saat ini, adalah
kata brend
yang sering di ungkapkan oleh salah satu Dosen Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan,
jika daerah ingin di lihat atau dilirik
oleh investor maka hal yang pertama dilakukan adalah menciptakan brend (kutipan
dalam salah satu blok dosen bersangkutan), di mana sebenarnya daerah
ini berada? Daerah tujuan kah, Daerah Transit kah? Atau Daerah Pariwisat? .
Sultra hari ini berada dimana siapa yang tau? Namun kalu kita mencermati kontruksi
daerah kita akhir-akhir ini bisa kita mengjukan opini bahwa daerah kita bisa di
kategorikan, daerah tujuan. Mengapa demikian?
Sultra adaladan daerah pariwisatah, salah satu daerah yang memiliki potensi sumber
daya alam, pariwisata wakatobi, benteng kraton buton yang terpanjang di dunia, potensi pertambangan yang akhir-akhir ini
mulai di genjot oleh pemerintah, kondis ini seakan menjawab dari pada
pertanyaan bahwa sultra adalah daerah tujuan dan daerah pariwisata, kalau
penulis di berikan kesempatan untuk ber-opini.
Terlepas
dari itu kendari ibukota sultra hari ini seakan sesak dengan serbuan investor
di bidang Property, contoh kasus masuknya beberapa Investor ternama bidang property
adalah bukti Citra Lend, Hotel Clarion, Lipo Grub, THM yang mulai menjamur di
kota kendari, rumah makan dalan masih banyak lagi. Ini adalah bukti bahwa
sultra sudah mulai di lirik di tingkatan nasional, bahwa sultra adalah seksi di
mata investor itu tidak lagi bisa di pungkiri, maka wajar Sultra mendapatkan
pertumbuhan diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional, ini semua adalah
kerja dari pada dua sector besar yang saya sebutkan di awal tadi, yakni Sector
Tradable (sector yang inklusif) dan Sector non Tradeable (sector yang tidak
dapat Inklusif), lalu apa yang penulis
permasalhakan dengan judul besar Arah Infestasi Sultra Tahun ini Tetap Pada Sektor
Non Tradeble ?
Mari kita membaca sedikit….
Sector Tradable?
Kata
ini adalah kata yang umum sering dipakai oleh seorang analis Ekonom maupun Sosiolog,
yang sebenarnya kalau kita mengartikan dalam bahasa yang femilir dengan kita sektor
Tradeable itu adalah Sector yang mampu memberikan efek terhadap orang banyak,
seperti sector Pertanian, Perikanan, Kehutanan, Industry, UMKM, dan lain
sebagainya. Atau juga bisa kita mengambil gambaran bahwa sector ini mampu
meningintegrasikan diri terhadap seluruh lapisan masyrakat. Sektor ini lah
sebenarnya yang di tunggu-tunggu oleh masyarakat banyak terutama rakyat Indonesia,
karnah ini bicara kondis masyarakat Indonesia yang lebih dari setengah
pendudknya berada pada tinggkatan kalangan masyarakat bawah, tentunya setiap
harinya bergulat dengan sector Pertanian, sector kelautan, sector kehutanan.
Sector Non-Tradeable ?
Sama
dengan kata sektor Tradeable hanya yang membedakan adalah Non, Sektor ini
adalah sektor yang di pakai juga oleh ekonom dan sosiolog untuk melawan dari
pada sektor pertama tadi, dengan artian yang lebih sederhana bahwa sektor ini
tidak mampu mengintegrasikan diri pada masyarakat yang kondisnya berada pada
tataran bawah, karnah dia tidak memiliki modal, peluang untuk meraih ini,
contoh sektor ini; Property, Hotel, Perumhan, THM, Restoran, dan penulis tambahkan dengan Pertambangan(meskipun sektor ini
masuk pada sektor Tradeable tadi, namun kondisi berkata lain).
Lalu
Bagaimana kondisi sultra sekarang terhadap dua sektor ini sektor tradable (sektor
yang inklusif) dan sektor non-Tradeable (sektor yang tidak dapat inklusif), apa
yang menonjol dalam memberikan kontribusinya terhadap angka pertumbuhan yang
melampaui pertumbuhan ekonomi nasional ?
Dengan
spontan kita menjawab kalau kita mengikuti media lokal yang di lansir tanggal kamis
tanggal 7 februari 2013 yang lalu, tiga Koran lokal dengan judul masing-masing
yang berbeda menilai bahwa sektor non-Tardeable lah yang makin mengila,
sedangkan sektor-Tradeable makin lepes. Ini seakan menandahkan bahwa daerah ini
adalah daerah yang tidak memandang masyarakatnya sebagai subyek dalam
berkontribusi terhadap daerah kita, kenapa demikian karnah kondisi masyarakat
kita lebih banyak di ladang untuk berkebun, di sawah menanam padi, dan dikebun,
dilaut untuk menjadi nelayan, di pesisir pantai untuk menjadi penambak, dan
pembudidaya rumput laut.Maka selaknya
kita sebenarnya mampu melihat dengan jeli arah investasi daerah ini pemerintah
tengah mengarahkan pada sektor non-Tradeable..
maka
kita dapat menilai bahwa pembangunan ekonomi daerah kita ini terlalu
menfokuskan diri pada pertumbuhan yang mengndalkan in vestasi modal besar,
namun kurang mengikusertakan rakyat kecil sebgai subjek dan bagian utama dari
suatu pembangunan. Pembangunan social, atau investasi social daerah kita masih
di pandang sebelah mata dan hanya dianggap sebagai sesuatu yang bersifat
residual. Padahal kalau kita inginkan masyarakat yang sejahtera maka tidak lain
pemerintah daerah harus mengintegrasikan pembangunan social dengan pembangunan ekonomi
dengan artian kedua elemen ini harus saling mendukung atau melengkapi.
Mengutip
dari pada bahasa Nancy Birdsall (presiden center for global development), mengatakan bahwa tujuan pembangunan ekonomi
bukanlah pertumbuhan ekonomi semata, tetapi lebih dari itu yakni peningkatan
kesehjatraan manusia. Bahkan lebih lanjut dikatakan oleh petinggi riset pembangunan
terkemuka di dunia ini, dalam sebuah tulisan yang bertajuk “social development is economic development” menyatakan dengan tegas pertumbuhan
ekonomi diperlukan namun tidak cukup karnah pada akhirnya sumber daya manusia
unggul dan produktifitas adalah kunci kemajuan serta keberlanjutan ekonomi
suatu Negara atau daerah.