"Rapat bersama disprindag kabupaten-kota se-sultra ples perwakilan BI di gelar oleh Disperindang propinsi sulawesi tenggara dilakukan guna memastikan langkah yang segera diambil oleh pemerintah didalam menghadapi kenaikan harga-harga bahan makanan pokok dan barang-barang strategis lainya paska sehari kenaikan harga bahan bakar minyak"
Pengumuman harga
bahan bakar minyak (BBM), terhitung empat hari sejak rapat Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR) menyetujui anggaran pendapatan dan belanja Negara perubahan 2013
itu melegakan dan sekaligus membuat tegang dikalangan masyrakat bawah karnah
kenaikan ini dapat mengandung dampak yang tidak di inginkan. Sebagaimana
mengacu pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan oleh
pemerintah yang dimulai sejak tahun 2005 selalu menimbulkan dampak di
tengah-tengah masyrakat. Meskipun dampak paska kenaikan harga BBM oleh
pemerintah telah mengantisipasinya dengan
dengan kompensasi-konpensasi, namun kompensasi ini seakan tidak mampu
menahan derasnya dampak yang ditimbulkan setelah penetapan harga bahan bakar
minyak baru yang di setujui. Tercatat 27,9 triliun dana yang di kucurkan
pemerintah untuk kompensasi kenaikan harga BBM, yang terakumulasi pada lima program utama, yakni: penyaluran raskin
untuk rakyat miskin, program keluarga harapan, bantuan siswa miskin, pembangunan
infraktutur dasar, bantuan langsung sementara masyrakat (BLSM). Dari lima
program ini BLSM lah yang kemudian mendapatkan kucuran dana terbesar dari lima
program tadi yakni 9,7 triliun, yang diharapkan dapat langsung meredah dampak
kenaikan harga BBM di kalangan masyrakat bawah yang di nilai pemerintahan
SBY-BUDIONO.
"BLSM; Peragaan klasik pemerintah yang tidak memberikan teladan tentang etos kerja dan dorongan dasar kepada rakyat untuk keluar dari kubangan kemiskinan"
Banyak program-program kompensasi di dilahirkan, namun keluhan datang ditengah-tengah masyrakat begitu banyak, berita media masa, televisi nasional, Koran nasional bahkan sampai media local di seluruh negri ini memunculkan hedline dan judul-judul pemberitaan yang memprihatinkan dari dampak kenaikan harga BBM, ini juga seakan menjadi rasionalisasi bahwa kompensasi yang di munculkan oleh pemerintah untuk mengatasi dampak kenaikan harga BBM seakan tidak serta merta mengatsi dampak tadi. Sultra salah satu propinsi yang ada di kawasan timur Indonesia yang mulai dikenal nasional dengan kinerja ekonomi-nya diatas rata-rata nasional, bahkan sampai menembus angka urutan ke-dua tumbuh tertinggi setelah papua barat, namun kinerja ini seakan tidak bisa menghidarkan daerah kita ini dari dampak kenaikan harga bahan bakar minyak. “Sejumlah daerah sembako mulai naik, adalah deratan judul berita media cetak local yang ada di daerah ini paska penetapan kenaikan harga bahan bakar minyak oleh pemerintah pusat.
Banyak program-program kompensasi di dilahirkan, namun keluhan datang ditengah-tengah masyrakat begitu banyak, berita media masa, televisi nasional, Koran nasional bahkan sampai media local di seluruh negri ini memunculkan hedline dan judul-judul pemberitaan yang memprihatinkan dari dampak kenaikan harga BBM, ini juga seakan menjadi rasionalisasi bahwa kompensasi yang di munculkan oleh pemerintah untuk mengatasi dampak kenaikan harga BBM seakan tidak serta merta mengatsi dampak tadi. Sultra salah satu propinsi yang ada di kawasan timur Indonesia yang mulai dikenal nasional dengan kinerja ekonomi-nya diatas rata-rata nasional, bahkan sampai menembus angka urutan ke-dua tumbuh tertinggi setelah papua barat, namun kinerja ini seakan tidak bisa menghidarkan daerah kita ini dari dampak kenaikan harga bahan bakar minyak. “Sejumlah daerah sembako mulai naik, adalah deratan judul berita media cetak local yang ada di daerah ini paska penetapan kenaikan harga bahan bakar minyak oleh pemerintah pusat.
Sembako Kita Paska Kenaikan BBM*
Sembilan
kebutuhan pokok atau yang sering di namakan sembako adalah komoditas-komoditas
barang yang sangat rentan dengan kenaikan harga bahan bakar minyak, disadari
atau tidak oleh pemerintah masyrakat, bahkan sampai tingkatan pedagang yang
kerap mengambil untung disaat-saat kisruh dengan korban utama masyrakat.
Kenaikan haraga-harga komoditas dan barang-barang sembako ini naik sejak wacana
kenaikan harga bahan bakar minyak, hingga sampai pada pasca kenaikan haraga BBM
di tetapkan tanggal 19 juni; Banyak harga barang melambung tinggi meskipun
pemerintah belum menetapkan kenaikan barang di pasaran. (diskusi penulis dengan kepala dinas perindag provinsi sultra dan
disperindag kota kendari di kantor masing-masing*). Kalau menyimak lebih
jauh pernyataan dari Disperindag Propinsi ini adalah hal yang sangat
disayangkan ketika kebutuhan pokok yang berhubungan langsung dengan perut
rakyat yang terakumulasi dalam kedaulatan pangan untuk rakyat harus di persulit
untuk mendapatkanya (Undang-Undang No 18 Tahun 2012 tentang pangan yang
mengamanatkan kemandirian pangan). Dalam konteks keadaan sembako daerah sultra,
daerah kita juga ini sebenarnya sangat di untungkan dengan kondisi sumber daya
alam yang sangat mendukung dari pada penyedian pangan, terhitung 12
kabupaten-kota saling mendukung dalam hal ini, meskipun ada daerah-daerah yang
tidak sepenuhnya tidak mampu memproduksi bahan-bahan strategis komoditi dari
pangan tadi. Kota kendari adalah salah satu daerah yang ada di sultra ini yang
tidak memproduksi bahan-bahan komoditas pangan tersebut; sehingga kota ini
adalah kota yang sangat membutuhkan sokongan daerah lain ples dengan sokongan
komoditas sembako dari luar Sulawesi tenggara, beras, gula, terigu, bahkan
sampai bumbu dapur di sebagian besar di pasok di wilayah Sulawesi selatan dan
jawa. Kondisi inilah yang kemudian membuat banyak kalangan khawatir dengan
kondisi sembako kita; kenaikan harga bahan bakar minyak banyak dapat memicu
kenaikan tarif angkutan darat laut bahkan sampai udara sekaligus, yang pada
giliranya akan menaikan harga bahan-bahan kebutuhan pokok, karnah sebagian
besar pembentuk harga yang ada di sultra yakni biayah pasok barang-barang ini.
Kondisi
inilah yang harus disadri oleh semua pemangku kepentingan pemerintah, masyrakat
bahkan sampai tingkatan kampus yang mewakili kalangan akademi sebagai gardang
terdepang dari masyrakat; untuk menyatukan pandangan ples presepsi agar
mencarikan solusi yang terbaik dari kondis yang ada. Sudah lama daerah kita
terisolasi dengan harga barang yang relative tinggi disbanding dengan daerah
lain; ada selisih harga yang lumayan tinggi antara makasar dan kendari.
Pemerintah harus mulai lagi melihat kembali draf pembahasan bagaiumana kita
mampu swasembada pangan terutama yang tergabung dalam komoditas Sembilan
kebutuhan pokok, dan kalau perlu kita kedepan menjadi salah satu pemasok bukan
lagi pengimpor. Harus ada keinginan kuat untuk mencapai ini semua terutama dari
pemangku kepentingan tadi. Terutama pemerintah yang harus mulai mendorong
pendukung-pendung cita-cita swasembada pangan tersebut, infraktutur dasar kita
di perbaiki ini juga salah satu yang masuk dalam kompesasi BBM pembanguan
infartutr dasar di desa-desa melalui kementria pekerjaan umum, lahan-lahan tidur
yang berpotensi harus mulai di identifikasi guna menyediakan
komoditas-komoditas yang dianggap masih kurang di daerah kita.
Rantai
Pasok Sembako Kita Dalam Masalah*
Sudah
menjadi rahasia umum daerah ini sangat minim akan infraktutur pendukung rantai
pasok barang masuk Sultra, pelabuhan yang memprihatinkan, jalur Trans-Sulawesi
yang sangat tidak mendukung daya pasok barang masuk Sultra. Belakangan ini antrian
kendaraan logistik darat bahkan sampai laut dengan mudah kita dapat menyaksikan
di Pelabuhan Nusantara, salah satu pintu masuk ibukota Sultra Kendari, bahkan
kondisi ini saking memprihatinkan antrian masuk pelabuhan terhitung untuk
mendapatkan giliran bongkar-muat di pelabuhan nusantara kendari sampai menungu
seminggu lamanya, persoalan infraktutur yang belum optimal disediakan oleh
pemerintah adalah pemicu utama-nya. Kondisi inilah yang mengakibatkan
masuknya-nya dan pengiriman bahan-bahan kebutuhan pokok dari sentra pemasok
kebutuhan pokok kadangkala. Yang pada giliranya mengakibatkan biayah distribusi
yang makin mahal. Bahkan dapat disinyalir kondisi seperti ini dapat menciptakan
biayah distribusi lebih tinggi dari biayah produksi barang, kisaran 30%-40%
biayah distribisi tercipta kalau kondisi ini terpelihara, maka tidak meherankan
ketika harga barang tiba-tiba melambung tinggi, disparitas harga yang berbeda
jauh antara makasar dan kendari.
Sekedar
informasi bahwa biayah transportasi adalah kompnen yang sangat cukup besar
menyerap biayah dalam pendistribusian barang dalam kondisi seperti diatas.
Sebagaimana seperti berita yang dirilis oleh fajar online,2012 yang lalu,
sebuah penelitian menyimpulkan bila komponen biayah transportasi setidaknya
sampai mencapai 30% dari biayah system logistic, hal inilah yang sangat mirip
di sultra dan bahkan lebih parah lagi, BPS & BI 77% inflasi nasional
berasal dari daerah yang diakibatkan tersendatnya distribusi pangan dan
minimnya konetifitas antar-daerah. Kondisi pasokan sembako tidak sampai disini,
tapi persolan ditribusi pangan kita juga masih di warnai dengan sejumlah bentuk
pungutan liar yang memberatkan para pengusaha sehingga berujung pada tingginya
harga di konsumen, menurut himpunan pengusaha muda (HIPMI) total pungutan liar
diseluruh Indonesia pada tahun 2012 mencapai Rp 25 triliun, dan tahun 2013 ini
diperkirakan akan membengkak menjadi Rp 27-30 Triliun. (porsi pungli terhadap total produksi sampai 6-9%, kata wakadin). Bahkan
menurut bambang sujagad riset dan teknologi konsumen-lah yang akan menanggung
semua ini, melalui kenaikan harga barang yang tidak sehat.
Maka tidak lah salah pemerintah
untuk bagaimana melihat kondisi ini, melihat dalam kacamata untuk senantiasa
bagimana berkomitmen mengatasi masalah-masalah jalur distribusi pangan tadi.
Tidak ada salahnya ketika dana kompensasi BBM yang di kucurkan pemerintah dalam
program pembangunan infraktutur dasar, untuk segera memperbaiki jalur-jalur
ditribusi yang dapat diharapkan kedepan nantinya tidak lagi yang menjadi kendala ditribusi pangan. Agar
kiranya kedepan tidak lagi mempersoalkan disparitas harga antara makasar dan
kendari. Maka pada akhirnya pemerintah jangan lagi mencari alasan untuk tidak
memperhatikan kondisi jalur-jalur distribusi, program pemerintah pusat sudah
digalakan tinggal daerah bagaimana menjalankan dana yang sudah ada bahkan
pemerintah juga sudah berkomitmen dalam MP3EI untuk segera merealisasikan
infraktutur dasar berkualitas ditinggkatan masing-masing daerah yang
memperhatikan kondisinya*
