Kesenjangan Lapangan
Tanggal 6-7 oktober 2012 ini, saya
kebetulan menjadi salah satu anumerator(pengambil data lapangan saat
penelitian), dalam penelitian sensus
tingkat kesejahteraan di Kota Kendari yang
mengambil sampel tiga Kelurahan di Kecamatan Puuwatu, yakni Kelurahan, Tobuuha, Lalodati, dan Abeli Dalam, yang
dalam penelitian ini digagas oleh lembaga penelitian Unhalu yang bermitra
dengan Pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara, dengan landasan utamanya yakni
melihat sejauh mana tinggkat keberhasilan program yang digulirkan oleh lembaga Internasional yakni PBB yang selanjutnya
diadopsi Indonesia yakni program yang diberi dengan label MDGs, (Millennium
Development Goals),
Kebetulan saya menjadi anumerator ya, sekalian aja dokuntasikan keluhan-keluhan
masyarakat ini yang tidak pernah tersampaikan
di pemerintah, yang menarik dalam menjadi anumerator, namanya juga orang
lapangan pasti keluhan-sampai menyentuh hati itu banyak. Yang menarik dalam
penelitian ini, adalah bayaganku sebelum turun lapngan bahwa, Kota Kendari merupakan
sebuah Kota yang pemerintah betul-betul peduli terhadap masyarakatnya, dan
ditambah lagi bahwa kota ini sebagai kandidat berturut-turut peneriman Adipura, pasti yang terbayang kota ini
kota yang pembangunanya itu tidak mengenal dimensi ruang, yakni dari sudut kesudut
kota memiliki fasilitas-fasilitas kota
yang sebenarnya. Namun setelah dilapangan yang menarik justru sebaliknya. Saya ambil
salah satu contoh di kelurahan abeli dalam, yaitu masalah fasilitas jalan yang
sampai hari ini kata seorang penduduk belum pernah di realisasikan janji
politik pemerinttah kota untuk memperbaiki kondisi jalan yang ada, begitu buruk
katanya, debu bertebaran ketika musim kemarau seperti ini, dan menjadi lumpur
disaat hujan.begitulah keluhan masyarakat. Kalau kita melihat dari sisi pembangunan
jalan itu sebgai salah satu sarana pendukung untuk memperlancar arus
hulu-hilir.
Satu lagi yang ditunjukan oleh masyarakat kelurahan Abeli Dalam yakni,
jaringan listrik. Yang ada kabel namun tidak ada aliran listri dirumah
penduduk, harapan akan penerangn ini sebenarnya pernah terobati dengan adanya
bantuan pemerintah yang diberikan genset, sebagai salah satu solusi untuk
mengatasi keluhan masyarakat, Namun untuk sekarang ini katanya sirnah, karnah
genset yang diberikan pemerintah sudah tidak dipake lagi alias rusak, entah
kenapa kata salah satu warga di sana pemerintah tidak mempedulikan genset yang
rusak ini.
Padahal kalau kita melihat kinerjah pemerintah yang sedang berkuasa
saat ini dikota kendari, jelas terpampang di baleho bahwa pemerintah ini
mengklaim berhasil ya,,,,
Kembali pada topic penelitian ini yakni melihat tingkat kesejahteraan
yang berdasarkan indicator-indikator MGDs, Maka sudah selayaknya pihak yang
menagani penelitian ini untuk jujur dengan hasil yang dihasilkan dilapangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar