Sabtu, 06 Oktober 2012

ironi sudut kota kendari



Kesenjangan Lapangan
Tanggal 6-7 oktober 2012 ini, saya kebetulan menjadi salah satu anumerator(pengambil data lapangan saat penelitian),  dalam penelitian sensus tingkat kesejahteraan di Kota Kendari  yang mengambil sampel tiga Kelurahan di Kecamatan Puuwatu, yakni Kelurahan, Tobuuha, Lalodati, dan Abeli Dalam, yang dalam penelitian ini digagas oleh lembaga penelitian Unhalu yang bermitra dengan Pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara, dengan landasan utamanya yakni melihat sejauh mana tinggkat keberhasilan program yang digulirkan oleh lembaga  Internasional yakni PBB yang selanjutnya diadopsi Indonesia yakni program yang diberi dengan label MDGs, (Millennium Development Goals),
Kebetulan saya menjadi anumerator ya, sekalian aja dokuntasikan keluhan-keluhan  masyarakat ini yang tidak pernah tersampaikan di pemerintah, yang menarik dalam menjadi anumerator, namanya juga orang lapangan pasti keluhan-sampai menyentuh hati itu banyak. Yang menarik dalam penelitian ini, adalah bayaganku sebelum turun lapngan bahwa, Kota Kendari merupakan sebuah Kota yang pemerintah betul-betul peduli terhadap masyarakatnya, dan ditambah lagi bahwa kota ini sebagai kandidat berturut-turut peneriman Adipura, pasti yang terbayang kota ini kota yang pembangunanya itu tidak mengenal dimensi ruang, yakni dari sudut kesudut kota memiliki fasilitas-fasilitas  kota yang sebenarnya. Namun setelah dilapangan yang menarik justru sebaliknya. Saya ambil salah satu contoh di kelurahan abeli dalam, yaitu masalah fasilitas jalan yang sampai hari ini kata seorang penduduk belum pernah di realisasikan janji politik pemerinttah kota untuk memperbaiki kondisi jalan yang ada, begitu buruk katanya, debu bertebaran ketika musim kemarau seperti ini, dan menjadi lumpur disaat hujan.begitulah keluhan masyarakat. Kalau kita melihat dari sisi pembangunan jalan itu sebgai salah satu sarana pendukung untuk memperlancar arus hulu-hilir.
Satu lagi yang ditunjukan oleh masyarakat kelurahan Abeli Dalam yakni, jaringan listrik. Yang ada kabel namun tidak ada aliran listri dirumah penduduk, harapan akan penerangn ini sebenarnya pernah terobati dengan adanya bantuan pemerintah yang diberikan genset, sebagai salah satu solusi untuk mengatasi keluhan masyarakat, Namun untuk sekarang ini katanya sirnah, karnah genset yang diberikan pemerintah sudah tidak dipake lagi alias rusak, entah kenapa kata salah satu warga di sana pemerintah tidak mempedulikan genset yang rusak ini.
Padahal kalau kita melihat kinerjah pemerintah yang sedang berkuasa saat ini dikota kendari, jelas terpampang di baleho bahwa pemerintah ini mengklaim berhasil ya,,,,
Kembali pada topic penelitian ini yakni melihat tingkat kesejahteraan yang berdasarkan indicator-indikator MGDs, Maka sudah selayaknya pihak yang menagani penelitian ini untuk jujur dengan hasil yang dihasilkan dilapangan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Persyaratan Jadi Ganjalan Peremajaan Sawit Rakyat

Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menjadi salah satu program pemerintah Joko Widodo dalam upaya meningkatkan produktivitas perkebunan kelap...