Rabu 25
januari yang lalu saya sempat membaca salah satu media nasioanl perwakilan
sultra, antrara, saya pada sat itu tertarik dengan salah satu berita hedlinenya
yang berhubngan dengan dengan perkembangn daerah sultra, dengan judul besar pada saat itu “IPM Sultra Berada Urutan 25 Di
Indonesia” judul ini diambil dalam sebuah acara yang di
gelar di salah satu hotel bintang lima yang ada di kota kendari, yang bertajuk “
peluncuran analisis keungan public sultra tahun 2012” yang di adakan oleh Pemda,
bekerjasama dengan Word Bank, Cida, Ausaid, dan Yayasan Bakti.dan tidak ketinggalan
akademisi yang diwakili oleh dosen kita sendiri, ilmu ekonomi studi pembangunan ,Dr. Akhmad Firman,
Menarik memang kalau kita inggin menyimak lebih jauh, IPM, atau sring kita kenal dengan indeks pembangunman manusia. Adalah salah satu komponen yang tengah menjadi sorotan di sebagian daerah yang ada di Indonesia, bahkan Negara-negara sekalipun di dunia, karnah sebagian Negara di dunia percaya bahwa kualitas sumber daya manusia lah yang akan mengankat dari pada kualitas pembangun itu sendiri.
Beranjak dari pada kondisi daerah kita hari ini, sultra
ditengah gelombang krisis keungan global yang terjadi akhir akhir ini yang
cukup meresahkan Negara ini, bahkan daera sekalipun, namun kondisi ini tidak
berlaku untuk sultra terbukti data-data yang berhasil saya himpun dari
lembaga-lembaga pemerintah, maupun media-media local yang ada di sultra,
menunjukan kita tetap jaya di tengah kondisi yang tidak menguntungkan. Pertumbuhan
ekonomi yang tinggi diatas kalkulasi pertumbuhan ekonomi nasional adalah
merupakan salah satu bukti bahwa daerah kita adalah salah satu macan yang
tengah menunjukan keberanianya di kawasan timur Indonesia, bahkan menurut kabar
yang dilangsir oleh salah satu media KTI beberapa waktu yang lalu sultra
bertengge di posisi 2 setelah papua barat dari segi laju pertumbuhan penduduk. Kabar
baik ini seakan meligitimasi dari pada kinerja pemerintah propinsi Sulawesi tenggara
melalui gubernur kita* benar saja kalau ini kita melihat pada sudaut
anggka-angka yang berkembeng di kalangan media local. Namun lebih jauh kita
harus melihat dengan hati-hati anggka-anggka yang tengah kita puja-puja bersama
ini. Lebih jauh lagi bahwa kondis dari pada pembangunan daerah kita yang
dilngsir oleh BPS beberapa waktu yang lalu, misalnya pada kondis kemiskinan yang
menurut. badan ini kemiskinan kita menurun dari tahun 2007 yang lalu, begitupun
dengan pengganguran, atau lagi mengenai investasi yang menumpuk alias antri
untuk masuk daerah kita.
Kondisi diatas seakan tidak sejalan dengan berita
kehidupan masyarakat bawah tampaknya tidak begitu mengembirakan, banyaknya
pedagang kaki lima yamng gusur oleh oknum polisim pamong praja, malnutrisi,
kematian ibu yang melahirkan, pengganguran yang bertebaran sana-sini akibat
minimnya lapangan kerja, meledaknya sector informal, adalah deretan berita yang
menghiasi pendenganran kita dan mata kita meskipun ini luput dari sorotan para
media, dan inilah fakta yang sebenarnya. Mengutip
dari pada bahasa Nancy Birdsall (presiden
center for global development), mengatakan bahwa tujuan pembangunan ekonomi bukanlah pertumbuhan ekonomi
semata, tetapi lebih dari itu yakni peningkatan kesehjatraan manusia. Bahkan
lebih lanjut dikatakan oleh petinggi riset pembangunan terkemuka di dunia ini,
dalam sebuah tulisan yang bertajuk “social development is economic development” menyatakan dengan tegas pertumbuhan
ekonomi diperlukan namun tidak cukup karnah pada akhirnya sumber daya manusia
unggul dan produktifitas adalah kunci kemajuan serta keberlanjutan ekonomi
suatu Negara atau daerah.
Rendahnya indeks pembangunan manusia (IPM) daerah kita adalah
bukti bahwa arah pembangunan pemerintah yang digembar-gemborkan selama ini
adalah model pembangunan yang tengah mengaibaikan pembangunan social, dalam
artian pemerintah kurang memandang masyarakat kalangan bawah sebagai subyak
pada pembangunan itu sendiri. Pemerintah hanya merangkul kalangan atas dalam
artian hanya memuja dan memuji infestor yang bergerak pada sector-sektor yang
tidak dapat dijangkau oleh masyarakat kalangan bawah tadi. Wajar saja ketika
pertumbuhan ekonomi kita diatas ekonomi nasional tidak mampu mengangkat derajat
hajat hidup orang banyak. Kualits IPM kita berada di urutan 25 dari 33 propinsi
disultra adalah bukti yang tidak bias dibantah oleh pemerintah.
Denagan kondisi inilah
seharusnya pemerintah mulai merefleksi terhadap model pembangunan yang sedang
dijalankan, refleksi dalam bentuk yang baik untuk rakyat tetap dilanjutkan,
yang buruk harus mulai ditinggalkan. Kalau komitmen demokrasi yang kita agung-agungkan
itu masih ada, dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Maka mau tidak mau
pemerintah harus mengarahkan pemebangun untuk semua wargha yang ada di daerah
kita’entah strata ekonominya, tempat tinggalnya,(desa,kota, pulau terpencil,
dll) agama, suku, golongan, jenis kelamin, mempunyai hak yang sama untuk
menerima buah dari pemebnagunan yang di laksanakan oleh pemerintah sekarang. Disinilah
sakralnya tujuan pembangunan yang tidak boleh bersifat ekslusif, ataupun
diskriminatif. Tapi harus inklusif.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar