Malam ini jumat 10 januari 2014 anas urbaningrum di beritakan semnua media yang ada di republik ini, mulai dari siarang langsung televisi nasional kita, sampai siaran lokal. seakan anas urbaningrim adalah menjadi magnet tersendiri menjadi topik pemberitaan hari ini. tepat pada pukul 09.00 kpk akhirnya mengumumkan penetapan anas urbaningrum sebagai tersangka dalam kasus proyek hambalang yang sudah memenjarakan beberapa politisi muda yang menjadi idola sesaat dalam pentas politik nasional kita.
pada kesempatan ini saya menulis sebagai bagian dari rasa bangga saya dan rasa kecewa saya sebagai anak negri yang sedikit mengidolakan anas urbaningrum sebagai tokoh politik muda yang sudah mampu memberikan pendidikan politik pada anak-anak muda sebagai latar belakang aktifis kampus. ya anas menjadi magnet tersenduiri untuk aktifis-aktiis kampus. dalam kesempatan ini juga saya tidak sedang menilai putusan kpk apakah itu sudah sesuwai dengan hukum dinegri ini atau memang kasus ini adalah kasusu yang memiliki kontaminas politik lebih dalam dari pada hukum yang sebenarnya tapi saya hanya mampu mendenagrkan komentar pakar-pakar hukum di negri ini. karnah saya memang anak muda yang berlatar belakang kuliah di fakultas ekonomi yang tidak pernah bersentuhan dengan mata kuliah hukum.
tapi ada hal yang menarik ketika kita anak-anak negri yang tidak paham akan hukum bagaimana di kemas dan bagaimana diterapkan dinegri ini, mafud md yang berlatar belakang prof. hukum sekaligus mantan ketua MK memberikan komentar terkait dengan kasus anas pada malam ini. (dalam akun twiternya mafud md menulis: Mustahil tuh. Pakai aturan apa dalam menetapkan anas ?)
untuk kanda anas urbaningrum kami dukung penuh lembaran-lembaran selanjutnya kasus hambanlang...
membaca tulisan bang indra j piliang ini, sebenarnya kita sedang membaca bagaimana anak-anak kampung yang mampu lahir menjadi pemimpin nasional>>>>
Mari aku ceritakan
kisah kita, dari generasi 1990-an. 20 tahun lalu aku bertemu denganmu di
acara LK II HMI Cabang Depok. Aku jadi peserta, kau jadi pembicara.
Tahun 1994 kalau tidak salah, hari, tanggal dan bulannya aku lupa. Kau
waktu itu menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB
HMI). Aku tidak pernah berencana masuk HMI, asal kau tahu. Semula aku
diundang menjadi pembicara LK I HMI oleh Nusron Wahid (kini dia Ketua
Umum Pemuda Ansyor). Kebetulan aku datang cepat, mengikuti paparan MS
Ka’ban (kini Ketua Umum Partai Bulan Bintang). Lalu aku mengisi acara.
Oleh Panitia LK I, aku diberi sertifikat kelulusan sebagai kader HMI,
karena mengikuti sesi paling penting, yakni Nilai Identitas Kader.
Lalu
aku mengikuti sedikit proses di tubuh HMI. Aku jadi pengurus
komisariat, lalu cabang. Ketika kawanku Rifky Mochtar terpilih sebagai
Ketua Badko HMI Jabar, aku baru tahu bagaimana HMI. Jabatan kawanku
dicopot. Berikutnya aku makin tahu HMI, ketika proses pencalonanku
sebagai Ketua Senat Mahasiswa Universitas Indonesia ternyata tidak
didukung oleh PB HMI yang waktu itu dipimpin oleh Taufik Hidayat. Aku
malah dianggap terlalu ikhwan untuk ukuran HMI. Sebaliknya, aku dianggap
terlalu HMI oleh para ikhwan. Ya, sudah.
Waktu
peristiwa 1998, aku berada di jalanan, bersama barisan mahasiswa dan
alumni Keluarga Besar Universitas Indonesia. Aku sempat bermalam di
Gedung MPR-DPR pada tanggal 19-20 Mei 1998. Setelah itu aku bekerja di
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pramita, Tangerang (sekarang Universitas
Pramita). Aku melihat kiprahmu di layar televisi, yakni menjadi tim ini
dan tim itu, termasuk melakukan revisi terhadap paket undang-undang
bidang politik. Ada nama Rama Pratama juga dijejerkan dengan namamu. Aku
kenal lama dengan Rama, dia mantan manajer kampanyeku di FEUI dalam
Pemira SMUI 1995.
Ketika
aku bekerja sebagai peneliti dan analis di Departemen Politik dan
Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS),
kita kembali bertemu. Malah, lebih sering bertemu. Apalagi aku sering ke
Komisi Pemilihan Umum, tempatmu berkantor. Aku mengisi acara-acara yang
diadakan di Media Center KPU. Ketika para wartawan kesulitan menemuimu,
aku dengan senang hati menghubungimu, lalu kemudia kau memberikan
informasi yang mereka butuhkan. Namamu kembali muncul waktu ada kritikan
soal mobil dinas yang dipakai oleh para komisioner KPU. Kawan-kawan
KAHMI Pro sepakat agar kau kembalikan mobil itu. Aku tak tahu detilnya,
apakah ada kawan yang meminjamkan mobilnya untuk kau pakai.
***
Usai
Pemilu 2004 yang berhasil itu, satu demi satu komisioner KPU diperiksa
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI. Aku kebetulan akrab dengan
pimpinannya. Bahkan, salah satu Wakil Ketua KPK RI, hadir dalam
pernikahanku pada tahun 2002, lalu memberikan sambutan atas nama
keluarga istriku. Aku ikut alur kepindahan kantor KPK RI, saking
seringnya kesana, berdiskusi dengan komisioner-komisionernya. Di gudang
dataku, masih banyak tumpukan makalah-makalah, disain, sampai blue print
KPK RI yang dikirimkan kepadaku, guna aku baca-baca.
Beberapa
komisioner KPU ditahan KPK RI, sebagai prestasi pertama. Mereka
menyebut namamu dan nama Valina Sinka Subekti juga, dua orang anggota
KPU yang akrab denganku. Kalian berdua sama sekali “lolos” dari lubang
maut. Dalam saat yang tidak baik buat kariermu itu, aku jadi pembicara
diskusi di Blora Center, satu lembaga yang memenangkan SBY sebagai
Presiden 2004-2009. Ada Johan Silalahi dan almarhum kawan kita, Yon
Hotman. Aku lupa, apakah Jusuf Rizal juga ada di acara itu. Yang jelas,
ketika ada Kongres Partai Demokrat di Bali pada 2005, aku ikut kesana
bersama Jusuf Rizal dan Hendri Sitompul. Kongres akhirnya memilih Hadi
Utomo sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.
Aku
masih ingat diskusi itu. Di sana, aku mendorongmu untuk membuka karier
baru, yakni menjadi politisi. Nama partainya langsung aku sebut: Partai
Demokrat. Pesanku jelas, politisi sipil harus mulai masuk pasar politik.
Para jenderal yang membentuk partai politik di era reformasi, perlu
didampingi oleh politisi sipil yang memiliki keahlian dan kemampuan.
Tentu aku tahu, bukan hanya aku yang kau dengarkan saran-sarannya. Yang
jelas, aku dan kawan-kawan itulah yang kemudian yang “menjerumuskan”-mu
ke kancah politik, di tengah gemuruh angin perubahan.
Dan
lewatmu juga – serta Andi Alifian Mallarangeng – aku menitipkan
sejumlah kawan yang ingin menjadi politisi Partai Demokrat. Ya, aku
sering bertemu Andi Mallarangeng di sebuah kedai kopi di seberang Istana
Negara. Sejak Gus Dur tak lagi jadi presiden, aku jarang ke Istana
Negara. Di era Gus Dur jadi presiden, aku sempat bekerja di dalamnya
selama tiga bulan, menjadi bagian dari Tim Asisten Presiden
Bidang Ekonomi. Beberapa kali aku ke Istana, untuk duduk-duduk saja dan
menikmati suasana Istana yang begitu terbuka untuk umum.
***
Seingatku,
ketika aku kemudian memutuskan menjadi politisi, tepatnya tanggal 6
Agustus 2008, kau menitipkan pesan. Ya, apalagi kalau bukan agar aku
juga masuk Partai Demokrat. Tapi entahlah, aku merasa lebih baik
bersahabat denganmu, ketimbang berada dalam satu perkawanan di satu
partai politik. Aku ingat candaan seorang Ja’far Hafsah, ketika
mengantarkan berkas caleg Partai Demokrat ke KPU: “Indra, kamu sudah
kami siapkan nomor urut satu di Sumbar II. Kenapa kamu malah ke Partai
Golkar?” Beberapa kawanku memang menganjurkan aku masuk Partai Demokrat,
tapi ayahku sudah memberikan satu garisan: “Kamu boleh masuk partai
politik, asal kamu masuk Partai Golkar”.
Makanya,
kita akhirnya menjadi dua orang yang saling memberi pesan, baik via
senyuman atau candaan. Hampir tak pernah ada debat panas antara aku
denganmu, ketika kita beradu argumen di layar televisi. Aku tetap
memandang kau sebagai senior yang mengisi LK II-ku di HMI Cabang Depok
itu. Tergigit lidahku, apabila aku bersitegang denganmu di layar kaca,
sepanas apapun materi debat yang kita hadapi. Begitupula sampai debat
pilpres digelar, kita tak sungguh-sungguh berdebat panas. Sebuah lembaga
mengganjar penampilan kau, Fadli Zon dan aku dengan tropi Charta
Politica Award 2009 sebagai Komunikator Terbaik Tiga Pasang Capres. Kau
mendapatkannya untuk SBY-Boediono, Fadli mendapatkannya untuk
Mega-Prabowo dan aku mendapatkannya untuk JK-Wiranto.
Ketika
kau maju menjadi Calon Ketua Umum Partai Demokrat, akupun mendukungmu.
Aku pasang foto kita berdua di facebook, lalu hadir dalam acara Pidato
Kebudayaanmu di Jakarta Theater. Bahkan, aku ikut menelepon beberapa
pengurus Partai Demokrat di daerah-daerah, menegaskan dukunganku. Aku
menyaksikan kemenanganmu dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Waktu itu
ada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalteng, Partai Golkar dan
Partai Demokrat berkoalisi. Sejak saat itulah namamu menjulang, salah
satunya sebagai seorang Calon Presiden yang akan menggantikan SBY.
Dan
kisah selanjutnya kemudian publik tahu. Kau jadi tersangka kasus
gratifikasi sebuah mobil yang terkait dengan perusahaan pemenang proyek
Hambalang. Bukan hanya kau, sebelumnya Nazaruddin, orang yang tidak aku
kenal riwayatnya. Yang aku kaget, Anggelina Sondakh – kawanku juga –
ikut jadi tersangka. Berikutnya menyusul Andi Alifian Mallarangeng. KPK
Jilid I yang memenjarakan komisioner-komisioner KPU tak ikut menjeratmu.
KPK Jilid II sama sekali menuai masalah internal. KPK Jilid III yang
bahkan ikut kau pilih sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat, malah
menjeratmu.
Aku
bersyukur kita masih punya satu momen pertemuan, yakni ketika aku maju
sebagai Calon Walikota Pariaman dari jalur perseorangan. Dalam statusmu
sebagai tersangka, aku kirim direct message ke akun twittermu
@AnasUrbaningrum: “Cak, mau makan sate di Pariaman?” Dan kaupun
membalasnya, cepat. Kau bahkan mengubah jadwalmu di Jambi. Kita memang
tidak sempat makan sate, saking padatnya jadwaku sejak pagi. Tapi
setahuku, kau ke makam Syech Burhanuddin, makan durian di Kayu Tanam,
lalu makan Sate Mak Syukur di Padang Panjang. Ada stafku yang ikut.
Selamat
bertapa, Cak Anas. Sejak 1998 kau sudah di jalur atas seluruh
pergerakan politik negeri ini. Kau lewati tiga kali pemilu. Untuk pemilu
keempat ini, 09 April 2014, kau mungkin menggunakan hak suaramu di
penjara. Ataukah juga kau menggunakan hak suaramu untuk
Pilpres, 09 Juli 2014, di penjara? Yang jelas, ketika kau merayakan HUT
ke-45, 16 Juli 2014, mudah-mudahan aku hadir di sisimu, bersamamu,
entah di penjara, entah di mana. Kita tidak merayakan HUT-mu yang 45.
Kita merayakan Presiden Republik Indonesia ke-7 bersama-sama...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar