Jumat, 11 Januari 2013

Intrupsi......Masyrakat Fekon -DEKANKU -FAKULTASKU



“ maju tidaknya suatu pemrintahan adalah  tergantung dari seberapa  cakap seorang pemimpin  mengatur, dan mengarahkan rakyatnya “
(prof. Dr. Ir. Sumeru Ashari)

Tidak terasa tahun 2011 sudah kita lewati bersama bahkan 2012 sudah menginjakan kakinya  di pertengahan tahun. Begitupun dengan jabatan dekan fakultas ekonomi periode 2008-2012 akan berakhir sudah pada akhir april ini, itu artinya masa regenerasinya kepemimpinan dekan fakultas ini sebentar lagi akan berganti tentunya melelui suatu ajang apa yang sering kita namakan “ pemilihan secara demokratis”. Dekan lama yang sudah banyak membangun suatu tatanan-tatanan/konsep-konsep akademik harus digantikan oleh cikal bakal dekan baru. Tentu saja calon dekan harus membawa, merevisi, atau memodifikasi nilai dan misi lama menjadi baru dan (kelihatan) segar tentunya.

Fakultas ekonomi Universitas Haluoleo tidak lama lagi akan diadakan pemilihan Dekan, yakni perebutan tampuk kekuasaan yang konon kabarnya calaon-calon yang ingin merebut kekuasan ini sebagian besar adalah berlabelkan Prof. yang tentunya ini merupaka angin segar bagi kemajuan fakultas kedepan nanti, karnah pasti dari calon-calon yang berlebelkan Profesor ini memiliki segudang ilmu dan pengetahuan untuk mewujudkan Fakultas Ekonomi lebih baik di kemudian hari, Dekan sebagai orang no satu ditataran Fakultas tentunya, diharapkan mampu mengiring semua semua Civitas kearah yang lebih baik sehingga apa yang dinamakan sebagai Dekan ideal dapat hadir ditengah-tengah kita semua. Dekan sebagai orang nomor satu ditataran fakultas tentunya banyak pihak yang menaruh harapan besar untuk mengiring semua civitas akademika kearah yang lebih baik, sehingga Fakultas ini mampu melahirkan para ekonom-ekonom muda yang akan menjadi pendokrak  perekonomian Sultra dan indonesia ke depan nanti, tentunya melalui pemikiran-pemikiran yang baru. 
Berlaga dalam ajang pemilihan “pesta abu-abu”  tentu tidak hanya dengan bermodalkan konsep melalui Visi dan Misi. Tetapi Jelas harus ada pemikiran yang terwujud dalam konsep ketika terpilih sebagai pemenang laga. Apalagi jika laga yang dimaksud adalah pemilihan pimpinan Dekan Fakultas periode 2012-2016. calon Dekan Fakultas Ekonomi yang kabarnya berlabelkan Profesor  ini, tentu sudah siap dengan konsep kerja Dekan untuk kemajuan Fekon Unhalu kedepan jika nanti memang terpilih. Bak judul lagu “Mau Dibawa Kemana?” adalah pertanyaan besar yang akan dijawab dengan  rencana kinerja yang sudah masing-masing kandidat miliki.


Dekan Fakultas Ekonomi yang terpilih kedepan nanti tentunya juga harus mampu menjawab tantangan dan tuntutan  Fakultas Ekonomi yang  berasal dari semua stekholder (Dosen, Birokrasi, apa lagi Mahasiswa, serta Masyarakat sekitar). Tantangan-tantang itu kalau saya sebagai penulis ada banyak hal diantaranya adalah :
1.        Dekan yang terpilih nanti harus mampu menjalankan Visi dan Misi yang di lontarkan semasa kampanye, jangan sampai Visi dan Misi terlupakan ketika terpilih kedepan.
2.        Dekan harus mampu untuk menciptakan Birokrasi yang tidak berbelit-belit, cotoh pengurusan Beasiswa, izin pelaksanan kegiatan mendukung setiap kegiatan mahasiswa yang tentunya bernilai positif.
3.        Dekan harus prihatin terhadap lingkungan masyarakat disekitaran menggat kampus merupakan dunia independen tentunya ini merupakan harapan bagi masyarakat sultra, seperti dapat  menyatakan sikap/mengritisi setiap kebijakan yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat banyak.
4.        Dekan fekon yang baru harus memperhatikan fasislitas-fasilitas yang ada dikampus ini, mengngat kampus fekon banyak sekali pemasalah pada bidang ini, contoh gedung pembangunan yang tidak layak pake harus sesegera mungkin mengambil tindakan,  karnah mengingat gedung sebagai sarana perkuliahan tentunya mahsiswa butuh kenyamana dalam menerima ilmu-ilmu yang disalurkan Dosen, dan ini juga sangat berkaitan dengan penilaian terhadap akreditasi fakultas ini kedepan nanti.
5.        Dekan harus mampu menerima Kritikan yang tidak mementikan egoisme semata, dekan harus sadar diman dia berada, mengingat Duania Kampus ada mahasiswa ada masalah mengasilkan kritikan baik itu melalui opni-opini mading, maupun sampai pada DEMONSTRASI, ya namanya juga mahasiswa itu sebagai agent of kontrol dan agent of change, hal ini harus kita pelihara sebagai kekayaan dari demokrasi.................!
6.        Dekan fakultas harus mampu memajukan fakultas serta harus memahami dan peka terhadap masyarakat sekitar, ini tentunya dengan menyesuwaikan kurikulum dengan fenomena-fenomena ekonomi masyarakat saat ini.
7.        Dekan Fekon fakultas ekonomi kedepan nanti harus mampu menyediakan jaringan internet kampus, dan buku-buku referensi buku yang baru dan bermutu, agar mahasiswa fekon terbiasa membaca buku-buku yang tepat.

Kamis, 10 Januari 2013

JALAN MULUS (KETUA) JURUSAN (BARU)



Pemilihan ketua jurusan baru yang dilakukan pada tanggal 4 januari 2013 yang lalu akhirnya malahirkan bunda rosnawitang sebagai ketua jurusan baru ilmu ekonomi studi pembangunan yang akan segera mengantikan ketua jurusan lama yang selama ini kalau menurut saya sebagai penulis telah melakukan yang terbaik untuk jurusan ini.

Dalam agenda Forum dosen ilmu ekonmomi studi pembangunan telah disepakati bersama  bunda rosnawintan untuk ketua jurusan yang baru, yang kabarnya terpilih secara aklamasi karnah tidak ada satupun yang berinisiatif untuk memegang amanah ini. Selamat kepada bunda rosnawintang sebagai ketua jurusan baru ilmu ekonomi, yang secara bulat terpilih secara aklamasi dalam forum, bersama dosen ilmu ekonomi studi pembangunan, semoga mampu membawa angin baru di jurusan ini, dan melakukan apa yang harus di benahi dan di pertahankan yang sudah kita capai di jurusan ini.


Proses terpilinya ketua jurusan baru yang dilakukan secara aklamsi dapat kita sambut bersama bahwa sudah ada kesepakatan bulat bahwa yang di usung ini betul-betul adalah sosok yang akan mampu memegang amanah tertinggi di jurusan, ataukah ini adalah merupakan ketakutan yang akibat dari suara dekan kita sebesar 35% yang nantinya mengindikasikan orang dekan lah yang akan terpilih meskipun ada calon lain?,

Kalau kita jawab bersama; bahwa aklamasi sah-sah saja dalam sebuah pertarungan untuk mendapatkan pimpinan dalam suasana demokrasi yang sedang kita jalankan bersama, namun selama itu tidak ada yang namanya interfensi dalam artian campur tangan luar yang mengindikasikan politik praktis sedang bermain dalam ajang yang bermartabat. Bagaimana tidak sebagai mahasiswa patut kita curigai bersama bahwa indikasi keterlibatan campur tangan dekan dengan komposisi suara dekan dalam pemilihan ketua jurusan baru sebanyak 35% ini sadar atau tidak akan membuat ketakutan orang untuk memberanikan diri mencalonkan dalam pemilihan. Kalau kita beranjak pada opini bahwa suara Dekan sebesar 35% itu akan menimbulkan pembukaman nilai2 demokrasi sangat benar, karna dengan rasionalisasi apapun pemilihan ketua jurusan yang baru dengan interfensi Dekan itu akan dimenangkan Dekan sendiri. Atau oranya dekan.


Menarik memang kalau kita sebagai mahasiswa atau masyarakat yang paham akan nilai-nilai bangunan demokrasi yang telah kita sepakati bersama dengan satu momen yang sering kita namakan reformasi. Bagaimana tidak suara Dekan 35% itu adalah system kerajaan dalam artian kemunduran demokrasi sedang berlangsung. Bagaimana tidak contoh kasus dalam pemilihan ketua jurusan ini bukti nyata yang perlu kita lihat secara logika. Bahkan dalam pemilihan ketua jurusan ini visi-dan misi pun tidak bisa di lakukan ditempat umum.

Namun terlepas dari opini negative yang akan muncul di tengah-tengah kita, kita harus menaruh harapan besar kepada Ketua Jurusan Yang Baru, dan mudah-mudahan pemilihan ketua jurusan dengan nada yang berhembus di luar mengindikasikan interfensi Dekan 35%, tidak membunuh kretifitas ketua jurusan yang baru untuk membangun jurusan ini, dan tidak menjadi ketua jurusan yang mudah di kompromikan setiap saat oleh pimpinan tertinggi di fakultas ini.

*Salam demokrasi yang telah mengajarklan kita untuk melihat secara kritis*   
Sabarudin 

KADO PD III BARU. DENGAN TENAR SAYA KATAKAN TIDAK MEMILIKI (SOLUSI)



Rabu kemarin adalah hari yang patut kita sayangkan bersama dalam pengelolaan kelembagaan di fakultas ini, bagaiman tidak dalam sejarah berdirinya lembaga mahsiswa khususnya HMJ IESP baru kali ini juga proposal yang di ajukan oleh pengurus lembaga di kembalikan oleh pembantu dekan 3 kepada ketua himpunan jurusan ilmu ekonomi studi pembangunan, hanya alasan anggaran yang belum ada kata PD III.  
Momen pelantikan pejabat lingkup fakultas ekonomi yang baru-baru ini sebenarnya banyak kalangan yang menaruh harapan besar kepada Dekan kita sebagai pimpinan tertinggi di fakultas ini, karnah kita semua mengira bahwa pejabat yang dilantik ini adalah orang-orang yang betul-betul paham akan tupoksi dan memiliki keahlian dalam menjalankan amanah yang telah di berikan.  Namun ini diluar harapan kita semua sebagai warga dari fakultas ini, bagaimana tidak sadar atau tidak pembantu dekan tiga dengan sikap yang telah dilakukan kemarin telah memnculkan opini bahwa pembatu dekan ini kurang memahami peran-peranya.
Saya mendukung apapun yang dilakukan oleh saudara-saudara untuk menjalankan lembaga namun hanya pada sebatas dukungan moril, dan secara materi saya tidak mendukung” inilah sepengal jawaban PD III yang diterima ketua HMJ baru dapatkan kepada dekan saat mengajukan proposal pelantikan ketua HMJ baru IESP. Setelah kita merenung ada satu pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada semua komponen yang ada difakultas ini, inikah jawan yang harus kita dapatkan kepada pembantu Dekan 3 yang membidangi kemhasiswaan. Kalau ini jawabanya ada satu lagi yang harus kita ajukan kepada pembantu Dekan 3 kita dimana uang sumbangan yang telah kami sisihkan dalam setiap momen pembayaran SPP setiap semesternya? Tolong dijawab……………….!
Seharusnya komitmen dalam memperbaiki lembaga tidak hanya menjadi buah bibir di kalangan birokasi, biroksi kemudian harus memahami tupoksi dari pada  lembaga kemahasiswaan, birokrasi seharusnya tidak seenaknya menjawab apa keluhan dari pada lembaga kemahasiswaan. Dan pada akhirnya saya katakana jangan kaku dalam mengelola lembaga kemahsiswaan.
*Salam reformasi birokrasi yang telah gagal dilakukan dekan kita*

Rabu, 09 Januari 2013

SUARA DEKANKU 35% DALAM PEMILIHAN KETUA JURUSAN UNTUK SIAPA ?



Ada renungan mendalam setelah  mengetahui dalam pemiliha ketua jurusan yang baru ada campur tangan  dekan dengan jalan memiliki suara sebesar 35%, pertanyaan besar yang segera muncul di benak orang yang paham akan nilai-nilai dari sebuah bangunan demokrasi yang di sudah mulai dibangun sejak tahun 2000-an, setelah tumbangnya pemerintahan orde baru adalah: *apakah ini merupakan cerminan atau contoh demokrasi yang sedang di gagas ataukah ini adalah demokrasi  gaya baru universitas ini, fakultas ini, atau ini merupakan konsekuesi dari kita berdemokrasi agar menunju proses demoksi yang baik dan benar? Ataukah ini merupakan akal-akal dari pemimpin kita untuk melahirkan pemimpin-pemimpin yang bisa di dikompromikan setiap saat atau juga sebagai jalan dari pembentukan system kerajaan gaya baru di tahun baru 2013. Campur tangan dekan sebenarnaya disadari atau tidak ini telah membunuh yang namanya bangunan demokrasi itu sendiri, dekan seharusnya menghargai yang namanya demokrasi yang sehat, demokrasi yang berwibawa ketika melahirkan seorang pemimpin baru agar tidak menimbulkan kesan kepada publik bahwa proses dalam ini adalah akal-akalan. Universitas atau yang tenar dinamakan kampus adalah  merupakan tempat orang-orang dididik, dibina, dilatih untuk menjadi penerus-penerus bangsa, otak-otak bangsa, pejuang-pejuan baru di era kemerdekaan seperti ini. Tentunya untuk mencapai ini semua harus dimulai dengan hal-hal yang baik dan benar, jangan ada proses-proses yang akan menimbulkan kecacatan dari lahirnya penerus-penerus bangsa ini nantinya.
Proses demokrasi yang tengah dibanguan dan dirajuk dalam pemelihan ketua jurusan ini sebenarnya adalah konsekuesi negatif yang tengah diterima bersama oleh kampus kita ini, 35% yang sebenarnaya bermula dari Keluarnya SK. Mendiknas tentang pemilihan Rektor, dengan suara Mendiknas Sebesar 35% dalam pemilihan Rektor. Yang kemudian oleh unhalu menindaklanjutinya dengan keluarnya SK. Senat Unhalu No. 226 tahun 2012. Di mana dalam SK itu mengindikasikan adanya Suara Rektor sebesar 35% dalam pemilihan Dekan Fakultas. yang kemudian kembali diterjemahkan oleh Dekan untuk mengintervensi pemilihan Ketua-Ketua Jurusan sebesar 35% suara dekan dalam pemilihan ketua jurusan. Maka dari sini dapat kita simpulkan bahwa proses demokrasi ini tengah di uji keberadaanya.  Setelah proses ini berlangsung ada kesan bahwa pembenaran untuk membungkam kebusukan yang sedang berlansung. Seperti yang disampaikan oleh Dekan kita bahwa proses ini adalah langkah awal menuju reformasi birokrasi yang kita idamkan bersama, karnah di sini tersirat bahwa kelemahan selama ini adalah tidak nayambunghnya antara pengambil kebijakan tataran atas dengan bawah, yang selanjutnya akan berdampak pada tidak sinkronnya yang namanya kebijakan untuk kebaikan lembaga ini. Namun ini semua sebenarnya merupakan pembenaran yang tidak masuk akal, kalau kita mau buka notulen dari perjalanan lembaga ini sebenarnya terkesan pembodohan, toh fakultas ini dengan tidak interfensi dekan pun dalam pemelihan ketua jursan sudah menunjukan kejayaanya, contoh jurusan IESP adalah 2 dari jurusan di unhalu yang sudah mengunakan siakad dalam proses penawar. Ini contoh nya sebenarnya bahwa proses kebijakan itu singkron antara rektor dengan tataran jurusan. Maka pembenaran yang tengah dibangun oleh pemimpin fakultas ini salah besar.
Inilah masalah baru kalau menurut saya sebagai penulis, bagaimana tidak proses pemelihan ketua jurusan yang harus di intervensi langsung oleh Dekan dengan suara mutlak 35%, dengan berdasarkan keluarnya SK Rektor. bahkan kalau kita liat bersama bahwa pemelihan ketua jurusan terkesan terburu-buru dilakukan, bahkan sampai terkesan disembunyikan, contoh nya “bahkan sampai pada penyampaiaan visi dan misi pun tidak digelar secara terbuka”. Pertanyaan besar apakah ini merupakan konsekuesi negatif atau positif yang harus kita dengan lapang dada menerima dengan begitu saja? Seharusnya pememimpin harus melihat momen untuk memperbaiki lembaga, lembaga ini kalau ingin maju harus mengikusertakan semua elemen, Dekan, Kajur, Dosen, Bahkan Mahasiswa Sekalian. Proses pemilihan yang dilakukan secara tertutup mengindikasikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam lembaga ini tidak di lihat sebagai subyek melainkan sebagai objek.
Namun apapun modelnya pemilihan ketua jurusan kita harus melihat pada konteks positif meskipun disana ada indikasi negatif yang terselubung, harapan besar muncul dalam pemilihan ketua jurusan yang baru, karnah ada pepatah mengatakan, pemimpin baru, pencerahan baru pun akan muncul.  Karnah ditangan ketua jurusan inilah yang akan menyemai bibit-bibit peningkatan kualitas jurusan sebenarnya di garap. Baik itu bagaimana memperbaiki kualitas dosen, menambah literature yang sesewai dengan kondisi zaman, sehingga nantinya akan tersurat pada akreditasi yang baik kedepan nanti, yang selama ini selalu kita idam-idamkan bersama.
Kalau output dari pemilihan ketua jurusan ini yang di interfensi oleh dekan sebesar 35% adalah hanya pada menjalankan aturan dari atas tidak pada melihat kebutuhan jurusan maka ini adalah konsekuensi negatif yang sangat merugikan kita semua. Ketua jurusan yang baru harus melakukan riset kecil-kecilan untuk mendengarkan mahasiswa bagaimana sebenarnya kondisi sekarang? Apa sebenarnya yang di inginklan? Pada akhirnya sebenanya ini kesalahan awal; yang diterjemahkan oleh dekan kita secara kebablasan, bagaimana tidak untuk melibatkan seluruh stekholder sebenarnya gampang hanya dengan mengelar presentase visi-dan misi ditengah kita semua. Namun momen ini dilupakan dengan alasan Dekan kita yang sangat tidak rasional, bahwa ini sudah di atur dengan Rektor, apakah ini jawaban yang akan kita terima kedepan nanti ketika kita berurusan di tataran jurusan. Dengan selalu berdalih sudah diatur dengan Rektor melalui selebaran SK.
Kalau saya di berikan kesempatan oleh stekholder fakultas ini untuk menjelaskan ketidak benaran ini, dengan gampang saya mengatakan bahwa ini adalah setingan untuk menjalankan pemerintahan  otoriter baru dalam kerajaan baru dengan nama Unhalu, dan Fekon sebagai Negara bagianya. Dan inilah konsekuesi negatif yang kita tidak inginkan dari pemelihan dekan 35%, jurusan 35%, karnah pada akhirnya hanya berdasarkan keputusan tingkatan paling atas tidak peduli dengan apa yang di bawah. Pada akhirnya saya mengatakan bahwa ada contoh pemimpin baru yang harus dicontoh pemimpin kita adalah sosok JOKOWI yang hari ini tengah tenar, karnah kepintaranya dalam memimpin suatu institusi.
*Salam kebebasan untuk mengunkapkan kebenaran, walaupun itu pahit adanya*

Persyaratan Jadi Ganjalan Peremajaan Sawit Rakyat

Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menjadi salah satu program pemerintah Joko Widodo dalam upaya meningkatkan produktivitas perkebunan kelap...