Selasa, 02 Juli 2013

BBM Naik* Sembako & Barang Strategi Ikut Merangkak Naik


"Rapat bersama disprindag kabupaten-kota se-sultra ples perwakilan BI di gelar oleh Disperindang propinsi sulawesi tenggara dilakukan guna memastikan langkah yang segera diambil oleh pemerintah didalam menghadapi kenaikan harga-harga bahan makanan pokok dan barang-barang strategis lainya paska sehari kenaikan harga bahan bakar minyak"

Pengumuman harga bahan bakar minyak (BBM), terhitung empat hari sejak rapat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyetujui anggaran pendapatan dan belanja Negara perubahan 2013 itu melegakan dan sekaligus membuat tegang dikalangan masyrakat bawah karnah kenaikan ini dapat mengandung dampak yang tidak di inginkan. Sebagaimana mengacu pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan oleh pemerintah yang dimulai sejak tahun 2005 selalu menimbulkan dampak di tengah-tengah masyrakat. Meskipun dampak paska kenaikan harga BBM oleh pemerintah telah mengantisipasinya dengan  dengan kompensasi-konpensasi, namun kompensasi ini seakan tidak mampu menahan derasnya dampak yang ditimbulkan setelah penetapan harga bahan bakar minyak baru yang di setujui. Tercatat 27,9 triliun dana yang di kucurkan pemerintah untuk kompensasi kenaikan harga BBM, yang terakumulasi pada  lima program utama, yakni: penyaluran raskin untuk rakyat miskin, program keluarga harapan, bantuan siswa miskin, pembangunan infraktutur dasar, bantuan langsung sementara masyrakat (BLSM). Dari lima program ini BLSM lah yang kemudian mendapatkan kucuran dana terbesar dari lima program tadi yakni 9,7 triliun, yang diharapkan dapat langsung meredah dampak kenaikan harga BBM di kalangan masyrakat bawah yang di nilai pemerintahan SBY-BUDIONO. 

"BLSM; Peragaan klasik pemerintah yang tidak memberikan teladan tentang etos kerja dan dorongan dasar kepada rakyat untuk keluar dari kubangan kemiskinan"

Banyak program-program kompensasi di dilahirkan, namun keluhan datang ditengah-tengah masyrakat begitu banyak, berita media masa, televisi nasional, Koran nasional bahkan sampai media local di seluruh negri ini memunculkan hedline dan judul-judul pemberitaan yang memprihatinkan dari dampak kenaikan harga BBM, ini juga seakan menjadi rasionalisasi bahwa kompensasi yang di munculkan oleh pemerintah untuk mengatasi dampak kenaikan harga BBM seakan tidak serta merta mengatsi dampak tadi. Sultra salah satu propinsi yang ada di kawasan timur Indonesia yang mulai dikenal nasional dengan kinerja ekonomi-nya diatas rata-rata nasional, bahkan sampai menembus angka urutan ke-dua tumbuh tertinggi setelah papua barat, namun kinerja ini seakan tidak bisa menghidarkan daerah kita ini dari dampak kenaikan harga bahan bakar minyak. “Sejumlah daerah sembako mulai naik, adalah deratan judul berita media cetak local yang ada di daerah ini paska penetapan kenaikan harga bahan bakar minyak oleh pemerintah pusat.  


Sembako Kita Paska Kenaikan BBM*

Sembilan kebutuhan pokok atau yang sering di namakan sembako adalah komoditas-komoditas barang yang sangat rentan dengan kenaikan harga bahan bakar minyak, disadari atau tidak oleh pemerintah masyrakat, bahkan sampai tingkatan pedagang yang kerap mengambil untung disaat-saat kisruh dengan korban utama masyrakat. Kenaikan haraga-harga komoditas dan barang-barang sembako ini naik sejak wacana kenaikan harga bahan bakar minyak, hingga sampai pada pasca kenaikan haraga BBM di tetapkan tanggal 19 juni; Banyak harga barang melambung tinggi meskipun pemerintah belum menetapkan kenaikan barang di pasaran. (diskusi penulis dengan kepala dinas perindag provinsi sultra dan disperindag kota kendari di kantor masing-masing*). Kalau menyimak lebih jauh pernyataan dari Disperindag Propinsi ini adalah hal yang sangat disayangkan ketika kebutuhan pokok yang berhubungan langsung dengan perut rakyat yang terakumulasi dalam kedaulatan pangan untuk rakyat harus di persulit untuk mendapatkanya (Undang-Undang No 18 Tahun 2012 tentang pangan yang mengamanatkan kemandirian pangan). Dalam konteks keadaan sembako daerah sultra, daerah kita juga ini sebenarnya sangat di untungkan dengan kondisi sumber daya alam yang sangat mendukung dari pada penyedian pangan, terhitung 12 kabupaten-kota saling mendukung dalam hal ini, meskipun ada daerah-daerah yang tidak sepenuhnya tidak mampu memproduksi bahan-bahan strategis komoditi dari pangan tadi. Kota kendari adalah salah satu daerah yang ada di sultra ini yang tidak memproduksi bahan-bahan komoditas pangan tersebut; sehingga kota ini adalah kota yang sangat membutuhkan sokongan daerah lain ples dengan sokongan komoditas sembako dari luar Sulawesi tenggara, beras, gula, terigu, bahkan sampai bumbu dapur di sebagian besar di pasok di wilayah Sulawesi selatan dan jawa. Kondisi inilah yang kemudian membuat banyak kalangan khawatir dengan kondisi sembako kita; kenaikan harga bahan bakar minyak banyak dapat memicu kenaikan tarif angkutan darat laut bahkan sampai udara sekaligus, yang pada giliranya akan menaikan harga bahan-bahan kebutuhan pokok, karnah sebagian besar pembentuk harga yang ada di sultra yakni biayah pasok barang-barang ini.
Kondisi inilah yang harus disadri oleh semua pemangku kepentingan pemerintah, masyrakat bahkan sampai tingkatan kampus yang mewakili kalangan akademi sebagai gardang terdepang dari masyrakat; untuk menyatukan pandangan ples presepsi agar mencarikan solusi yang terbaik dari kondis yang ada. Sudah lama daerah kita terisolasi dengan harga barang yang relative tinggi disbanding dengan daerah lain; ada selisih harga yang lumayan tinggi antara makasar dan kendari. Pemerintah harus mulai lagi melihat kembali draf pembahasan bagaiumana kita mampu swasembada pangan terutama yang tergabung dalam komoditas Sembilan kebutuhan pokok, dan kalau perlu kita kedepan menjadi salah satu pemasok bukan lagi pengimpor. Harus ada keinginan kuat untuk mencapai ini semua terutama dari pemangku kepentingan tadi. Terutama pemerintah yang harus mulai mendorong pendukung-pendung cita-cita swasembada pangan tersebut, infraktutur dasar kita di perbaiki ini juga salah satu yang masuk dalam kompesasi BBM pembanguan infartutr dasar di desa-desa melalui kementria pekerjaan umum, lahan-lahan tidur yang berpotensi harus mulai di identifikasi guna menyediakan komoditas-komoditas yang dianggap masih kurang di daerah kita.



Rantai Pasok Sembako Kita Dalam Masalah*

Sudah menjadi rahasia umum daerah ini sangat minim akan infraktutur pendukung rantai pasok barang masuk Sultra, pelabuhan yang memprihatinkan, jalur Trans-Sulawesi yang sangat tidak mendukung daya pasok barang masuk Sultra. Belakangan ini antrian kendaraan logistik darat bahkan sampai laut dengan mudah kita dapat menyaksikan di Pelabuhan Nusantara, salah satu pintu masuk ibukota Sultra Kendari, bahkan kondisi ini saking memprihatinkan antrian masuk pelabuhan terhitung untuk mendapatkan giliran bongkar-muat di pelabuhan nusantara kendari sampai menungu seminggu lamanya, persoalan infraktutur yang belum optimal disediakan oleh pemerintah adalah pemicu utama-nya. Kondisi inilah yang mengakibatkan masuknya-nya dan pengiriman bahan-bahan kebutuhan pokok dari sentra pemasok kebutuhan pokok kadangkala. Yang pada giliranya mengakibatkan biayah distribusi yang makin mahal. Bahkan dapat disinyalir kondisi seperti ini dapat menciptakan biayah distribusi lebih tinggi dari biayah produksi barang, kisaran 30%-40% biayah distribisi tercipta kalau kondisi ini terpelihara, maka tidak meherankan ketika harga barang tiba-tiba melambung tinggi, disparitas harga yang berbeda jauh antara makasar dan kendari.

Sekedar informasi bahwa biayah transportasi adalah kompnen yang sangat cukup besar menyerap biayah dalam pendistribusian barang dalam kondisi seperti diatas. Sebagaimana seperti berita yang dirilis oleh fajar online,2012 yang lalu, sebuah penelitian menyimpulkan bila komponen biayah transportasi setidaknya sampai mencapai 30% dari biayah system logistic, hal inilah yang sangat mirip di sultra dan bahkan lebih parah lagi, BPS & BI 77% inflasi nasional berasal dari daerah yang diakibatkan tersendatnya distribusi pangan dan minimnya konetifitas antar-daerah. Kondisi pasokan sembako tidak sampai disini, tapi persolan ditribusi pangan kita juga masih di warnai dengan sejumlah bentuk pungutan liar yang memberatkan para pengusaha sehingga berujung pada tingginya harga di konsumen, menurut himpunan pengusaha muda (HIPMI) total pungutan liar diseluruh Indonesia pada tahun 2012 mencapai Rp 25 triliun, dan tahun 2013 ini diperkirakan akan membengkak menjadi Rp 27-30 Triliun. (porsi pungli terhadap total produksi sampai 6-9%, kata wakadin). Bahkan menurut bambang sujagad riset dan teknologi konsumen-lah yang akan menanggung semua ini, melalui kenaikan harga barang yang tidak sehat.

Maka tidak lah salah pemerintah untuk bagaimana melihat kondisi ini, melihat dalam kacamata untuk senantiasa bagimana berkomitmen mengatasi masalah-masalah jalur distribusi pangan tadi. Tidak ada salahnya ketika dana kompensasi BBM yang di kucurkan pemerintah dalam program pembangunan infraktutur dasar, untuk segera memperbaiki jalur-jalur ditribusi yang dapat diharapkan kedepan nantinya tidak lagi  yang menjadi kendala ditribusi pangan. Agar kiranya kedepan tidak lagi mempersoalkan disparitas harga antara makasar dan kendari. Maka pada akhirnya pemerintah jangan lagi mencari alasan untuk tidak memperhatikan kondisi jalur-jalur distribusi, program pemerintah pusat sudah digalakan tinggal daerah bagaimana menjalankan dana yang sudah ada bahkan pemerintah juga sudah berkomitmen dalam MP3EI untuk segera merealisasikan infraktutur dasar berkualitas ditinggkatan masing-masing daerah yang memperhatikan kondisinya*



Kamis, 18 April 2013

Problem Ekonomi dan Urgensi Pembangunan Infrastruktur Sultra Kedepan

"jalan Raha-Lakapera Memperhatikan"

Bos Jaringan Peneliti Ekonomi Kti, Pemimpin Daerah KTI Harus Berpikir Melompat Untuk Mengejar Ketertinggalan Dengan Daerah Barat Indonesia

kita harus melompat untuk mengejar ketertingalan yang sedang kita alami, inilah pernyataan rahman farisi SE. MSE., dalam salah satu acara yang digelar beberapa waktu yang lalu di salah satu hotel yang ada di kota kendari. permasalah yang banyak di faktor pembangunan yang ada dikawasan timur indonesia ini, adalah hal yang menjadi alasan beliau.

Lima Paket Permasalah Ekonomi Daerah, KTI



Gelaran seminar yang di adakan oleh jaringan peneliti ekonomi KTI beberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 12 februari 2013 telah selesai dilaksanakan, banyak kalangan yang hadir dalam acara seminar mari kesulawesi tenggara dengan tema “optimalisasi potensi local dalam mendorong kinerja ekonomi daerah” di awali oleh wakil ketua DPD RI Bapak Dr. La Ode Ida, MA, Andi Rahmat Anggota DPR-RI, Henky Hermantoro Sekjen Kementrian Pariwisata, Kepala Bappeda Kota Kendari, Abdul Rahman farisi, SE, MSE Bos Jaringan Peneliti Ekonomi KTI, Dr. Agung Djojosoekarto Selaku Partnership for Governance Reform,  Ainun Bakri dari PNM, Dr. Kaharuddin Djenod M.Eng selaku direktur PT Tearful, Indonesia Eximbank , Ir. Agus Haryono, MM Kepala Sub Pengawasan Ekspolrasi Mineral Kementrian Energy dan Mineral, di tambah dengan undangan yang hadir mulai dari kepala-kepala dinas se dua belas kabupaten kota se-sultra, pengusaha local, lsm, sampai pada  akademisi.  Isu yang sangat menyeruak dalam acara seminar ini yakni pertama, permasalah kawasan timur Indonesia yang memiliki potensi yang sangat melimpah namun belum sampai juga menyentuh kesejahteraan rakyat kebanyakan, sultra salah satunya yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi dari tahun ke tahun bahkan sampai menembus 2 besar di KTI namun belum juga mempu mesejahterakan, ini semua di akibatkan permasalah kualitas dari pada pertumbuhan itu sendri sampai pada pemerintah yang lebih banyak mengarap sector-sektor ekonomi yang di kategorikan sector-nontradeable, dengan meninggalkan potensi-potensi ekonomi local yang bisa inklusif dengan masyrakat kebanyakan, alias sector-tradeable, kedua, keperpihakan pemerintah pusat pada daerah kawaan timur Indonesia masih di pertnyakan dalam artian penetuan kebijakan pembangunan ekonomi kadang-kadang masih sebatas mengada ada, contoh penetuan kawasa-kawasan pengembangan ekonomi ekonomi atau sering kita kenal dengan nama MP3EI, ternya belum didukung dengan tindakan lapangan sampai hari ini, infrakturtur belum memadai untuk mendudukung dari pada pusat-pusat kawasan strategis yang ada di kawasan timur adalah salah satu contoh konggrit yang bisa dijadikan kekuatan argument kita, ketiga dana DAK dan DAU masih banyak di tempatkan di pusat tau pulau jawa, ini semua di akibatkan oleh sknario untuk menentukan jumlkah DAK dan DAU yang boleh di dapatkan oleh daerah-daerah di Indonesia ini mengunakan jumlah penduduk untuk di bagikan, pantas saja hal ini sebelumnya terjadi, contoh kecil jumlah penduduk sultra di bandingkan dengan jawa timur ini sudah tidak adil, maka jangan heran kalau kue ini tidak memihak sama masyrakat KTI.

Sehingga tidak mengherankan kalau paket-paket masalah pembangunan local atau daerah yang sampai hari ini masih di jumpai di mana-mana, terhitung dari tahun 2000 otonomi daerah dengan yang diharapkan dapat mengatasi permasalah ekonomi daerah, namun hingga tahun 2013 paket-paket permasalahan pembangunan ekonomi darah dan local masih marak di jumpai, yang segera menjadi tantangan para pengambil kebijakan, pemerintah, legislative, pengusaha, akademisi dan stekholder lainya. Permasalahan itu daalam tulisan ini penulis mengkasifikasikan lima paket permasalahan ekonomi daerah yakni; (1).Pulau Jawa masih terlalu dominan sebagai pusat kegiatan perekonomian, baik kegiatan produksi, distribusi, maupun jasa. Hal ini terlihat dari ratarata lebih dari 17 persen output yang dihasilkan oleh wilayah-wilayah di luar Pulau Jawa digunakan oleh Pulau Jawa, sedangkan oleh wilayah lain di luar Pulau Jawa hanya di bawah 5 (lima) persen. (2).Lemahnya keterkaitan ekonomi antardaerah/wilayah juga ditunjukkan dengan adanya kesenjangan ekonomi antarkabupaten dan kota, yang digambarkan dari besarnya rata-rata PDRB kota yang hampir dua kali lebih besar dari rata-rata PDRB kabupaten. Kesenjangan tersebut terjadi lebih besar di Indonesia bagian barat, yaitu dengan rasio PDRB rata-rata kota terhadap kabupaten ialah 227 persen, sedangkan di Indonesia bagian timur hanya sebesar 171 persen. (3).Hal ini menjelaskan bahwa di wilayah Indonesia Barat pertumbuhan ekonomi wilayah kota yang tinggi belum memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi di wilayah kabupaten sehingga terlihat adanya kesenjangan ekonomi yang besar antara wilayah kabupaten dengan wilayah kota di Indonesia bagian Barat bila dibandingkan dengan Indonesia bagian Timur.  (4).(Rendahnya kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan ekonomi daerah secara lintas sektor dan lintas wilayah, Kapasitas SDM aparatur daerah dalam mengelola ekonomi daerah secara lintas sektor masih rendah, Kompetensi SDM stakeholder lokal/ daerah (masyarakat dan pengusaha lokal/daerah) masih rendah, Partisipasi stakeholder lokal/daerah dalam pengambilan keputusanterkait pengembangan ekonomi daerah masih rendah) (5). Rendahnya kapasitas lembaga dan fasilitasi dalam mendukung percepatan pengembangan ekonomi lokal dan daerah, (Fungsi lembaga-lembaga fasilitasi ekonomi daerah, baik di tingkat pusat maupun di daerah, baik dari segi kapasitas, jumlah maupun jangka waktunya kurang optimal, Kapasitas tenaga fasilitator pengembangan ekonomi lokal dan daerah masih terbatas, baik yang disediakan oleh pemerintah maupun oleh nonpemerintah).

Pembangunan Masih Terkonsetrasi Di Pulau Jawa
Factor yang menjadi papua ingin memisahkan diri adalah ketertinggalan daerah mereka dibandingkan dengan wilayah jawa adalah sudah menjadi rahasia umum, masyarakat papua dengan bendera OPM ingin merdeka dari Indonesia, membentuk sendiri Negara baru alias keluar dari Negara Indonesia. Pembangunan selalu terkonstrasi di pulau jawa adalah fakta yang dapat dibenarkan dengan beberapa kejadian, factor; banyaknya dana-dana yang di tempatkan di pulau ibukota Negara itu, infrakturtur yang sangat kompleks dibandingkan dengan kawasan timur. Sampai pada kualitas sumber daya manusia yang baik di tempatkan di jawa adalah hal menarik yang segera di cari ramuanya suapaya kondisi kesejahteraan masyarakat kita mampu sederat dengan masyrakat yang berdomisili di pulau jawa.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dari tahun-ketahun adalah harapan yang baik di tengah masyrakat kita khususnya kawasan timur Indonesia yang umumnya tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional, ambil contoh sultra yang sampai menembus angka 11,58%, yang disusul oleh propinsi lain dikawasan timur Indonesia. Namun dibalik ini semua patut kita sayangkan ternyata setelah kita amati masuk didalamnya angka ini tidak semua di dihasilkan oleh masyarak kita, kue yang besar ini dalam bentuk PDB, dan ternyata juga sebagian bahkan sebagian besar di bawa lagi di pulau jawa sana, lihat saja komponen pembentuk dari pada pertumbuhan yang berkontribusi besar adalah sector dari awal penulis cantumkan, sector non-tradeable (pertambangan, perhotelan,dan restouran), yang kesemuanya usaha/sector ini di dalangi atau di jalankan oleh pengusaha-pengusaha yang bukan orang di daerah ini. Pertambangan adalah salah satu sector yang besar memberikan sumbangan namun ini pengusaha yang banyak mengerak sector ini adalah orang-orang yang berdomisisli di pusat sana, restoran juga sama, apa lagi dengan hotel sifatnya hanya daerah ini menjadi agen di tanah sendiri dengan hanya mendapat imbalan dari sector pajak, kemudian pihak BPS hanya sekedar mencatat tidak peduli kalau uang yang dihasilkan dari proses ekonomi itu di belkanjakan di daerah ini atau tidak.
 Maka tidak menherankan di tengah kondisi situasi ekonomi kita membaik secara nasional, bahkan daerah kita tengah menikmati pertumbuhan yang baik, kita juga tidak pernah absen dari masalah-masalah social yang ada kemiskinan, penganguran sudah menjadi berita hangat di telinga kita, meskipun hal ini tidak pernah menjadi hot issue pemberitaan di media lokal kita. Infraktutur yang buruk adalah hal yang patut kita dapatkan dari pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi tadi ini adalah kebalikan dari pada teori yang kita dapatkan di ruang-ruang kuliah. Inilah ironi meskipun kinerja ekonomi tinggi buahnya tidak jatuh yang baik, ini semua uang di 11,58% tadi bisa di katakana 70%nya lari kepusat, ditambah lagi dengan pembagian dana-dana transfer yang dilakukan pemerintah pusat tidak pernah adil komplit lah permasaklahn yang di terima daerah kawasan timur Indonesia.

Lemahnya Keterkaitan Atar Wilayah Yang Ada Di KTI
Bukti nyata cina,jepang sampai singgapura yang membangun infraktutur dasar sebagai awal untuk menghasilkan pertumbuhan ekonmi yang cepat dan merata di semua wilayah adalah hal yang seharusnya menjadi rujukn dan banding oleh para stekholder pelaku ekonomi, pemerintah seharusnya tidak tutup mata melihat kondisi infrakturtur dasar wilayah kawasan timur Indonesia, pelabuhan yang belum memadai, jalan yang trans Sulawesi sampai sekarang belum rampung dengan kondisi yang ideal, menurut penulis adalah hal yang segera menjadi agenda para pelaku-pelaku ekonomi pemerintah pusat harus mulai komitmen dengan anggaran untuk menuntaskan trans-sulawesi. Karnah salah satu factor utama yang menjadi mimpi buruk dari pada lemahnya keterkaitan antar wilayah adalah infraktutur jalan yang menhubungkan kawasan-kawasan yang ada di KTI. Hingga muara utama yang terjadi dari lemahnya konetifitas ini adalah ekonomi biayah tinggi yang menghantui setiap dan marak di daerah-daerah.


Kawasan timur Indonesia agak menarik untuk di jadikan refleksi atau efaluasi pemabnagunan ekonomi di Negara ini, mengingat banyak permasalah ekonomi yang penulis sudah ulas dari awal, pemerintah harus tidak tinggal diam, keberpihakan anggaran adalah kunci utama yang harus di realisasika, kemudian kondisi birokrasi atau pemerintahan yang baik guna mendukung komitmen pembanguan yang digulirkan pemerintah adalah sangat mendesak adanya. Semoga pemerintah bersama dengan stekholder mesin-mesin ekonomi mampu menunjukan komitmenya. Karnah tanpa komitmen pemerintah maka segala persoalan yang ada kawasan timur Indonesia akan sia-sia harapan masyarakat untuk mendapatkan buah pembangunan yang sedang di jalankan oleh negri ini.  



Dorong Kinerja Ekonomi Daerah Sulawsei Tenggara Pusat Studi Ekonomi dan Bisnis Fekon Unhalu Bersama Jaringan Peneliti Ekonomi KTI ,"Mengadakan Seminar Mari Kesulawesi Tenggara"



Bertempat Di Hotel Horison Kendari; pemerintah, legislative dan akademisi beserta dunia usaha bertemu, diawali wakil ketua DPD RI Bapak Dr. La Ode Ida, MA, Andi Rahmat Anggota DPR-RI, Henky Hermantoro Sekjen Kementrian Pariwisata, Kepala Bappeda Kota Kendari, Abdul Rahman farisi, SE, MSE Bos Jaringan Peneliti Ekonomi KTI, Dr. Agung Djojosoekarto Selaku Partnership for Governance Reform,  Ainun Bakri dari PNM, Dr. Kaharuddin Djenod M.Eng selaku direktur PT Tearful, Indonesia Eximbank , Ir. Agus Haryono, MM Kepala Sub Pengawasan Ekspolrasi Mineral Kementrian Energy dan Mineral, bertemu dalam satu forum yang di gagas oleh Pusat Studi Ekonomi dan Bisnis Fekon Unhalu bersama jajaran jaringan peneliti ekonomi KTI, yang bertemakan Seminar Nasional Mari Kesulawesi Tenggara, guna membicarakan bagaimana “Optimalisasi Potensi Lokal Dalam Mendorong Kinerja Ekonomi Daerah”. Sulawesi tenggara dipilih oleh Pusat Studi Ekonomi dan Bisnis Fekon Unhalu, jajaran jaringan peneliti ekonomi KTI, bukan tanpa sebab disamping komitmen lembaga ini didirikan untuk mengidentifikasi permasalah ekonomi yang ada di kawsan timur, daerah ini juga menarik untuk disimak lebih jauh karena daerah ini adalahg bagian dari kekuatan  integral ekonomi Indonesia, yang memiliki keunggulan tiga sector sekaligus. Sector  pertambangan , sector pariwisata, dan sector pertanian, inilah deretan keunggulan-keunggulan namun seiring dengan keunggulan ini permasalah ekonomi juga muncul, pengguran, kemiskinan ada dimana-mana, sampai pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi sekalipun namun belum mampu menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang kita ingginkan, inklusif tentunya. Olehnya itu komitmen pusat studi ekonomi dan bisnis fekon unhalu yang di ketuai oleh Ahmad Firman SE, MSi, dan jaringan peneliti ekonomi KTI yang di komandoi oleh Rahman Farisi SE. MSE, diharapkan mampu memberikan solusi-solusi terhadap permasalahn yang ada, salah satunya dengan digagasnya seminar ini guna mendapatkan masukan kepada semua pihak, dan tentunya pemerintah juga mampu mengambil manfaat dalam invent yang digagas ini. sampai hari ini sultra yang memiliki potensi ekonomi yang baik untuk mendorong kinerja ekonomi daerah guna mendapatkan pertumbuhan ekonmi yang tinggi yang di sertai dengan pertumbuhan inklusifitas di tengah masyrakat, adalah isu yang hangat di bahas dalam forum yang di hadiri pemateri pusat dan daerah ini. Pertanyaan kemudian bagaimana konsep  lembaga pusat studi ekonomi dan bisnis fekon unhalu bersama dengan jaringan peneliti ekonomi KTI yang di ketuai oleh Ahmad Firman & Rahman Farisi, dalam mengatasi permasalah yang ada di kawasan timur Indonesia ? 

 Dana Pembangunan yang Masih Minim
Sudah menjadi rahasia umum kalau uang yang beredar di negri ini lebih banyak di kawasan barat Indonesia, dibandingkan dengan wilayah kawasan timur Indonesia, otonomi  daerah yang di gulirkan pada tahun 2000-an yang di tandai dengan produk undang-undang otonomi daerah UU No 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah dan UU No 23 tahun 1999   perimbangan keungan pusat dan daerah. yang kemudian di revisi dengan UU No 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah dan UU No 34 tahun 2004 perimbangan keungan pusat dan daerah, adalah regulasi untuk mengatur otonomi daerah tersebut. Regulasi undang-undang otonomi daerah yang samapi hari ini diharapkan mampu memberikan keadilan di tengah daerah-daearah yang memiliki sumber daya alam dan daerah yang kekurangan sumber daya alam. Regulasi ini seakan memberikan pedoman pada pemerintah untuk mewujudkan dari pada cita-cita otonomi daerah. Salah satunya untuk pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyrakat. Pada undang-undang UU No 25 tahun 1999 tentang perimbangan keungan pusat dan daerah, yang tujuan utamanya adalah untuk mendukung penyelengaraan otonomi daerah yang seluas-luanya mengingat otonomi daerah yang akan di jalankan oleh pemerintahan daerah membutuhkan uang banyak agar mencapai masyarakat adil dan makmur. Dengan memperhatikan asas potensi, kondisi daerah yang bersangkutan. Daerah diberikan tugas yang sebegitu kompleksnya sementara dana yang bisa di ambil oleh daerah kadang tidak sebanding dengan pembiyaan di daerah, daerah hanya diberikan keleluasaan pada pajak daerah, retribusi, dana bagi hasil. Yang ditambah dengan dana perimbangan melalui scenario undang-undang ini. Sementara uang misalnya dari pajak yang berpotensi meraup dana besar masih dikendalikan dengan pemerintah pusat, pajak PPH, dan PBB. Ini semua bisa disinyalir bahwa pemerintah pusat ternyata belum 100% ingin melaksanakan yang namanya otonomi daerah. Pembagian dana perimbangan yang sampai hari ini masih mengunakan scenario banyak kepala dikatakan oleh ketua jaringan peneliti ekonomi KTI dalam seminar ini adalah salah satu bukti kalau pemerintah pusat belum tega menyerahkan 100% pengelolaan darah di tangan kepala daerah.

Pemerintah pusat melalui BAPPENAS seharusnya mulai memikirkan skenario baru dalam penentuan porsi uang yang di akan terima oleh daerah melalui dana perimbangan; luasan wilayah seharusnya dimasukan, potensi sumber daya manusia harus dimasukan. Inilah salah satu yang didorong oleh Pusat Studi Ekonomi Dan Bisnis Fekon Unhalu Bersama Jaringan Peneliti Ekonomi KTI, dalam seminar mari kesulawesi tenggara. Ini juga kalau membuka kembali undanga-ndang No 25 Tahun 1999, diawal pembentukan otonomi daerah, pemerataan, dan proporsional.


Potensi Daerah Dan Pemerintah
Sumber daya tambang yang banyak, potensi pertanin, sector kelautan yang belum terkelola dengan baik, potensi pariwisata yang banyak. Inilah sederet potensi daerah yang diharapkan akan mampu mendongrak kinerja ekonomi daerah, pemerintah harus mulai menjadi pintar dalam mengelola potensi daerah yang ada, menurut peneliti ekonomi unhalu kalau mengambil contoh wakatobi daerah ini sudah mampu melakuakn dua langkah sekaligus, promosi dan pembenahan infraktutur di daerah yang dikenal dunia dengan slogan surge di bawah laut, Disinilah letak peran pemerintah. Pemerintyah seharusnya tidak tingal diam dengan potensi yang ada. Pemerintah harus sudah mulai pandai-pandai melihat potensi sebagai kekayan yang dapat mendongrak perekonomian local, apapun itu sifatnya. Ditambahkan lagi oleh ketua jaringan peneliti ekonomi KTI, bahwa jangan sampai kita menjadi salah satu daerah yang akan dikenal menjadi daerah punya potensi namun miskin kesejahteraan di tataran masyarakat. Lebih lanjut lagi bahwa daerah kawasan timur Indonesia ini harus melompat dalam cara melakukan pembangunan, kita tidak butuh lagi yang normal-normal. Ini semua dilakukan untuk mengejar ketertinggalan yang ada. 
Sector Pertambangan & Sector Pertanian
Dua sector ini ekonomi ini kalau dilihat lebih jauh, bagaikan bumi dan langgit, sector pertambangan adalah sector padat modal sedangkan sektor pertanian adalah sektor yang inklusif dengan masyarakat kebanyakan atau padat karya, disamping itu dua sektor inipun  mampu bertolak belakang dalam pengelolaan-nya kalau pemimpin yang menangani ini tidak pintar-pintar, sudah menjadi rahasia umum sector pertambangan adalah sektor yang paling gemar dalam menkonvensi lahan-lahan pertanian untuk di jadikan lahan eksplorasi sumber daya tambang yang punya nilai jual ini. “Akibat pertambangan di bombana sungai ikut kering, pertambangan telah mengurangi lahan pertanian” adalah deretan berita madia lokal yang menghiasi hedlinenya di tiap pagi hari  belaknagn ini. Olehnya itu pemerintah yakni Gubernur dan Bupati harus pintar-pintar dalam mendesain kebijkannya agar hal ini tidak hadir di tengah masyrakat kita, salah satu solusi yang ditarwarkan oleh pusat studi ekonomi dan bisnis fekon unhalu dan jaringan penliti ekonomi KTI dalam mengelola sector yang sensitive yakni pertambangan dan pertanian adalah pemirintah harus membuat bank atau lembaga penjamin resiko-resiko pertanian, karnah hal yang utama disamping sensitifnya terhadap sector pertambangan sector pertanian juga ini terkendala pada modal untuk bersaing dengan sector pertambangan. Lembaga penjamin pertanian yang didorong itu dioharapkan mampu mengatasi masalah permodalan, bank di harapkan tidak takut lagi untuk memberikan dana-dana kepada masyrakat tanpa harus takut mengingat ada lembaga yang dapat menjamin resiko-resiko pertanian seperti fuso dan lainya, kemudian pemerintah harus memaksa masuk pengusaha-pengusaha tambang dalam lembaga penjamin pertanian ini, dengan perda pemerintah harus memerintahkan pengusaha tambang untuk memiliki saham pada bank ini.  Olehnya itu pemerintah yang hadir dalam forum itu semoga dapat memrikan informasi kepada pemimpin daerah ini.

Rabu, 17 April 2013

Jaringan Peneliti Ekonomi KTI *Mengadakan Seminar Mari Kesulawesi Tenggara

9 april 2013 yang lalu saya dihubungi oleh dosen saya lewat sms untuk datang disalah sata warung kopi yang ada di jantung kota kendari, yakni kopi kita yang sekarang menjadi salah satu andalanan tempat nongrong banyak kalangan mulai dari mahasiswa sampai pada pengusaha. saya pun dan kawanan datang untuk bertemu dengan dosen saya, setiba di kopkit yang sering tenar disebut tempatnya, berdiskusi dengan teman-teman dosen saya yang berlatar belakang dosen semuanya.kamipun terlibat diskusi dengan dengan dosen sya beberapa jama, hingga berarkhir pada topik yang utama adalah bersama beberapa kawan lamanya dosenku tengah mengupayakan bagaimana potensi lokal daerah propinsi sulawesi tenggara ini dapat dikelola secara optimal guna mendukung pembangunan ekonomi daerah.

gagasan para pakar ekonomi sulawesi tenggara ini, bermuara pada seminar nasional yang bertemakan mari kesulawesi tenggara dengan tema yang diangkat untuk mendukung gagasan yang sedang di bangun adalah "optimalisasi potensi lokal dalam mendorong kinerja ekonomi daerah". bersama DPD-RI, PSEB,PNM,MARADEKA, seminar ini di wujudkan. dalam seminar yang di gagas turut menghadirkan pembicara lokal dan nasional.

Persyaratan Jadi Ganjalan Peremajaan Sawit Rakyat

Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menjadi salah satu program pemerintah Joko Widodo dalam upaya meningkatkan produktivitas perkebunan kelap...