Senin, 08 Juni 2015

Setelah UU Minerba Baru Di Berlakukan Apa Yang Sudah Dilakukan Pemerintah Daerah Untuk Mengelola Tambangnya ?





Saya membayangkan secara sederhana, bila ini daerah pertambangannya di kelola secara baik dengan konsep mengarah pada industrialisasi pertambangan. Dimana pemerintah daerah bertindak sebagai sutradara utama untuk mengagas skenario dalam pengelolaan pertambangan, dimana swasta di ajak untuk masuk bermain dalam skenario tersebut. Dan swasta disini banyak yang pasti tertarik baik itu pengusaha skala lokal nasional dan bahkan sampai swasta dari luar negeri. Namun konsekuensi pemerintah daerah harus konsisten dalam memainkan drama dan harus ramah terhadap swasta hal ini berkaitan dengan kebutuhan apa yang dapat membuat tertarik swasta untuk masuk lebih cepat, hal ini terutama berkaitan dengan kemudahan izin serta infrastruktur yang memadai.

Di sultra, inilah yang tidak tampak dilakukan oleh pemerintah daerah. Dimana-mana ketika orang bicara tentang pertambangan topik utamanya hanyalah permasalahan yang menarik untuk dibahas, seperti masalah izin  lahan yang di keluarkan oleh pemerintah daerah tumpang tindih dimana masing-masing kelompok mengalami memiliki hak konsesi atas satu kawasan yang sama. Di lain pihak di tataran pemerintah daerah saling berseteru yakni antara gubernur dan bupati masing-masing pihak mengklaim diri punya kewenangan yang besar dalam hal menerbitkan izin penguasaan lahan. Sementara luar itu juga infrastruktur penting dan strategis untuk menarik minat swasta mengelola pertambangan juga bermasalah utamanya listrik tidak memiliki daya yang cukup banyak untuk kegiatan pertambangan. Dan itulah tantangan yang masih dihadapi daerah dalam pengelolaan pertambangan.

Kemudahan mendapatkan izin dan tersedianya infrastruktur seperti listrik perlu dimasukan dalam rencana arah pengelolaan pertambangan oleh pemerintah terutama sebagai strategi untuk mempromosikan potensi-potensi tambang di Sultra ke depan. Hal inilah yang mendorong pusat studi ekonomi dan bisnis untuk mengadakan seminar  mari ke-Sulawesi Tenggara baru-baru ini dengan mengambil tema “arah dan kebijakan industrialisasi sektor pertambangan sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi Sulawesi tenggara” dengan maksud utama mendengarkan desain pertambangan yang di gagas oleh pemerintah dalam pengelolanya, serta mencari solusi terkait dengan infrastruktur yang penting terutama listrik kedepanya dipikirkan bersama untuk mengatasinya kendala yang ada.

Sekedar untuk menyegarkan ingatan kita kalau sektor pertambangan merupakan sektor yang berkontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi yang tinggi dialami sultra sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2012. Tetapi setelah berlakunya undang-undang minerba (UU NO 4 Tahun 2009 tentang minerba dan batu bara)  baru.  pertumbuhan ekonomi terkoreksi dalam dikarenakan tambang yang selama menjadi pengerak utama pertumbuhan harus terhenti, hal ini karena konsep tambang di Sultra tidak dikelola dengan konsep industrialisasi sehingga bertentangan dengan tujuan undang-undang minerba baru.  Kondisi ini pasti membawa dampak yang jauh pada perekonomian Sulawesi tenggara karena dengan tidak beroperasinya tambang tidak saja semata-mata berhenti pada penurunan kontribusi pertambangan dalam perekonomian sultra , tetapi lebih dari itu sektor-sektor lain akan ikut turun mengingat tambang memiliki keterkaitan yang sangat luas dengan sektor ekonomi lainnya (sektor perdagangan hotel restoran, jasa-jasa). Hal ini tentunya untuk ukuran daerah sultra sangat disayangkan dimana ketika daerah punya potensi untuk dijadikan sebagai sektor yang bisa terus mendorong sultra terus tumbuh untuk mengatasi masalah sosial ekonomi harus terhenti dengan UU minerba baru tersebut. Disaat bersamaan sultra seharusnya bisa terus mempertahankan pertumbuhan ekonominya diatas 10 persen ditiap tahunya agar dapat mempercepat konvergensi ekonominya. (baca laporan publik expenditure analisis (PEA) Sulawesi tenggara tahun 2012)

Untuk itu pusat studi ekonomi dan bisnis sangat tepat mengadakan seminar mari ke-sultra karena di forum ini bisa melakukan penekanan kepada pemerintah bahwa sektor pertambangan harus kembali dijakan sebagai sektor yang bisa mengerakan ekonomi kembali (tahun 2010-2012 pertambangan menyumbang 30 persen pada pertumbuhan ekonomi sultra) tetapi dengan konsistensi pemerintah dengan melakukan arah industrialisasi dalam pengelolaannya sesuai dengan aturan yang ada.  

Mempromosikan kembali potensi tambang kepada swasta, pemerintah membangun infrastruktur terkait ( pembangunan bandara, jalan, pelabuhan, dan penambahan kapasitas listrik), serta menyudahi konflik yang terjadi ditataran pemerintahan antara gubernur dan bupati, kalau hal ini dapat dipenuhi dapat menarik minat banyak pihak untuk masuk di pertambangan sultra kedepannya. Inilah yang mesti dilakukan pemerintah daerah untuk membangun kembali sektor pertambangan, pengusaha itu sepanjang dia untung dia lakukan hal ini akan berlaku pada pengusaha yang bermain di sektor pertambangan.

Untuk itu seharusnya daerah jangan lagi membuang waktu dengan strategi lain-lain, strategisnya harus mengarah pada pendekatan realitas, kalau UU minerba baru menghendaki dilakukannya industrialisasi ya laksanakan dengan cara itu, kalau swasta ingin masuk butuh pelabuhan, jalan, dan kapasitas listrik yang besar ya adakan segera. Untuk itu pemerintah daerah harus cepat menangkap kondisi itu.

Senin, 08 Desember 2014

Infrastruktur JOKOWI-JK dan Mimpi Orang Sulawesi

Setelah menempuh perdebatan panjang tentang wacana naik tidaknya bahan bakar minyak (BBM), akhirnya rabu malam pemerintah secara resmi menaikan  BBM yang secara langsung disampaikan oleh presiden.  Dalam kondisi ini pemerintah seakan mendapatkan dua nafas sekaligus sebagai bekal mengawali kabinet kerja yang dibentuk JOKOWI-JK.  Pertama pemerintah mendapatkan ruang fiskal yang memadai, hal ini sangat penting mengingat pemerintah ini memulai langkah menjalankan Negara diatas racikan APBN ala SBY yang sudah barang tentu mimpi-mimpi pemerintah dulu dengan sekarang sangat berbeda jauh, oleh nya itu ruang fiskan yang longgar sangat dibutuhkan. kedua pemerintah dengan ruang fiskal yang longgar tersebut memungkinkan untuk merencanakan program kerja sebanyak mungkin, demi untuk mewujudkan visi-misi pemerintah ala JOKOWI-JK, salah satunya dengan konsen pemerintah untuk membangun infrastruktur yang dibutuhakn untuk menjalankan roda perekonomian nasional, seperti membangun 50 waduk dari saat ini 261 waduk dan memperbaiki sarana irigasi yang mulai rusak, pembangunan jalan raya dan jembatan, membangun jalur kereta api, revitalisasi dan membangun bandara,  revitalisasi 24 pelabuhan utama dan pembangunan pelabuhan baru.  
Secara umum. Kebijakan pemerintah dalam menaikan harga BBM dapat diterima, dengan beberapa alasan yang sudah jelas dikemukakan tadi. dan juga hal ini dapat diterima karena konsen pemerintah JOKOWI-JK kedepan diantanranya adalah ketahanan energi dan ketahanan pangan. Maka infrastruktur yang disebutkan diatas adalah syarat mutlak untuk menghadirkan ketahanan pangan dan ketahanan energy yang sudah menjadi masalah akut untuk Negara.

Isu-Isu Klasik Infrastruktur Pulau Sulawesi

Secara umum infrastruktur pulau Sulawesi dalam konteks pembangunan nasional sampai hari ini masih bermasalah diantaranya jalan, kelistrikan, pelabuhan dan bandara. (1) Jalan untuk Sulawesi sampai hari ini masih memilki keterbatasan, hal ini dapat dilihat dari kondisi jalan transulawesi  yang masih rusak parah dan belum mampu mengubungkan keenam provinsi yang ada. Untuk Sulawesi juga jalan belum mampu menjadi pendorong utama disektor pertanian kita, hal ini dapat dilihat dari keterbatasan jalan dalam menghubungkan pusat-pusat pertanian dipedesaan dengan pasar-pasar yang ada. Selain itu juga jalan belum mampu membuka pusat-pusat ekonomi baru. (2) kelistrikan, untuk Sulawesi masih memilki banyak tantangan diataranya kapasitas listrik yang ada belum mampu memenuli kebutuhan yang diminta, baik dari sisi rumah tangga, industri dan pemerintah sekaligus. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya masyrakat kita yang belum dialiri listrik terutama di desa-desa, sementara untuk di sektor swasta banyaknya pengusaha-pengusaha yang tidak melirik pulau Sulawesi karena terkendala dengan energy yang dibutuhkan tidak tersedia. Seperti di Sulawesi tenggara dalam membangun smelter kendala utamanya adalah listrik yang tidak tersedia. (3) pelabuhan untuk kasus pelabuhan pulau Sulawesi memilki tantangan yang sangat berat, tantangan ini diataranya adalah keterbatasan dermaga pelabuhan-pelabuhan yang ada, peralatan yang masih minim diataranya crone yang masih terbatas. Kondisi inilah yang mendorong terjadinya biayah logistik pulau Sulawesi tinggi, yang selanjutnya menjadi pupuk baik dalam menumbuhkan inflasi dibeberapa daerah Sulawesi.  

Mimpi JOKOWI-JK dan Mimpi Orang Sulawesi

Mimpi pemerintahan pemerintahan JOKOWI-JK dalam membagun infrastruktur, membangun pelabuhan, membagun listrik, membangun jalan, membangun bandara, juga tidak jauh berbeda dengan apa yang diimpikan masyrakat pulau Sulawesi, mereka memimpikan infrastruktur yang setara dengan infrastruktur pulau jawa. Mimpi ini pada dasarnya memilki alasan-alasan. Pertama Sulawesi dalam hal pembangunan sejak Negara ini berdiri selalu ditinggalkan kereta pembangunan tersebut, sementara disatu sisi tujuan utama pembangunan adalah untuk kesejahteraan seluruh masyrakat. Olehnya itu maka sudah selayaknya orang Sulawesi punya mimpi yang sama dengan pemerintahan sekarang. Kedua potensi sumber daya alam yang melimpah, untuk pulau sualwesi dalam hal pemenfatan sumber daya belum secara optimal dikelola dengan baik. Hal ini yang selalu mendasari orang Sulawesi untuk keras bicaranya ditingkatan nasional sana. Di sektor pertanian untuk pulau Sulawesi sangat menjanjikan bahkan untuk sektor ini sudah menjadi andalan dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Tetapi pemanfaatan sektor ini belum masuk pada tahapan peningkatan nilai tambah, hal ini disebabkan oleh kendalan infrastruktur yang terbatas. Untuk sektor kalautan, pulau Sulawesi memili potensi yang sangat menjanjikan, tetapi sektor ini belum dikelola secara optimal kondisi ini dapat dilihat dari sektor kelautan belum menyumbang banyak dalam hal pertumbuhan ekonomi. Hal ini disebabkan oleh kondisi infrastruktur pendukung sektor ini belum memadai. (3) pada sisi pertambangan, sektor ini dalam beberapa tahun belakang selalu menjadi tumpuan utama pemerintah dalam mendongrak pertumbuhan ekonominya. Tetapi sejak tahun 2014 semenjak terbitnya undang-undang minerba baru, sektor ini mendapat pukulan yang terasa karena undang-undang ini mensyarakat tambang harus dikelola dengan cara smelter. Sementara untuk mendirikan smelter sekalipun membutuhkan tenaga listrik yang besar.  (4) JK itu orang Sulawesi, seharusnya arah rencana pembangunan ekonomi cabinet sekarang juga harus menguntungkan orang Sulawesi karena jusuf kala itu orang Sulawesi. Dan orang Sulawesi berharap banyak kepada jk dalam hal mendorong pembangunan sektor infrastruktur di semua wilayah Sulawesi dan bukan hanya Sulawesi selatan.

JOKOWI-JK  dan Komitmen Membangun Sulawesi

Dalam bebera kesempatan JOKOWI-JK selalu memaparkan renvcana pembangunan di Indonesia, terutama pembangunanin infrastruktur hal ini sangat baik dan perlu disemaganti terus agar kobaran semangat kabinet ini tidak terkesan memilki ending yang tidak komitmen dengan pidato dan kenyataan. Salah satunya membangun kawasan timur Indonesia, seperti yang lalu-lalu komitmen pemerintah melalui pidato sangat apik dan penuh harapan tetapi endingnya yang tidak ada dan kalau ada hanya terkesan selalu memberikan obat penghilang rasa sakit dan sifatnya sementara. Obat penenang itu dapat dilihat dari intruksi presiden nomor 7 tahun 2002 tentang pelaksanaan kebijakan dan strategis nasional percepatan pembangunan kawasan timur Indonesia. Kemudian keputusan presiden nomor 44 tahun 2002 tentang dewan pengembangan kawasan timur Indonesia. Kesemuan peraturan ini hanya menjadi obat penenang orang Sulawesi karena tidak memilki buah yang baik. Untuk itu kedepan orang Sulawesi tidak akan terima dengan hal semacam ini alasanya pulau Sulawesi memilki banyak sumber daya yang banyak.  
Ending yang jelas harga yang harus dibayar oleh pemerintahan JOKOWI-JK kepada orang Sulawesi atas kepercayaa yang diterima disetiap pidato kenegaraan. Ending itu berupa seberapa serius  komitmen JOKOWI-JK  dalam memperbaiki jalan dipulau Sulawesi, menambah kapasitas listrik dipulau Sulawesi, merevitalisasi pelabuhan dipulau Sulawesi. Hal ini perlu untuk dipastikan agar jangan terkesan kedepan pemerintah hanya akan menerbitkan peraturan yang sifatnya kabur dalam komitmen membangun pulau Sulawesi. Untuk itu menarik ditunggu seberapa seriuskah pemerintah JOKOWI-JK membangun pulau Sulawesi.

Selasa, 02 Desember 2014

TERIMAKASIH ATAS SEMUA ILMU YANG TELAH KAU-BERIKAN KEPADA ANAK DIDIKMU INI



Dalam acara yudisium di lantai dua jurusan ilmu ekonomi studi pembangunan , ketua jurusan memberikan sambutan yang sangat menyentuh hati calon-calon sarjana muda kala itu.  Dalam sambutanya ketua jurusan mengucapkan terimakasih untuk anak-anaku telah memilih jurusan ilmu ekonomi dan studi pembangunan sebagai konsentrasi keilmuan kalian, bahkan setelah itu beliau juga menitip salam untuk kedua orang tua  kami karena telah mempercayakan universitas halu oleo sebagai kampus untuk mendidik anak-anak mereka.
Sebagai mahasiswa ilmu ekonomi dan studi pembangunan sambutan ketua jurusan dalam acara yudisium kala itu, sudah lebih dari cukup untuk mengungkapkan ketulusan dan keiklasan sebagai wujud dari seorang dosen yang bertangung jawab dalam mempersiapkan benih-benih pemikir ekonomi kedepan bahkan sebagai pemimpin-pemimpin bangsa kedepan. namun takala saya merenungkan kembali langkah demi langkah yang saya lewati saat menjalankan kuliah, apa iya kami tidak pernah melakukan kesalahan kepada dosen-dosen kami yang memilki keiklasan dalam membimbing kami selama ini ? apa betul mereka tidak kecewa sama kami  dengan kelakuan-kelakuan kami saat menjalankan perkuliahan ?. pertanyaan-pertanyaa inilah yang ada dalam lubuk hati saya setelah kira-kira satu bulan yang lalu meningalkan kampus. Untuk itu melalui tulisan saya ini akan mencoba mengingat kembali lagi apa yang  pernah terjadi waktu itu. Dan juga sekaligus menyampaikan ucapan terimakasih banyak yang sebesar-besarnya kepada dosen-dosen saya.

Untuk yang awal ingatan saya pada saat itu ditahun 2009 yang lalu sebagai mahasiswa semester pertama , saya selulu bertanya inikah ruangan kuliah itu ? yang suasanyanya hampir persis sama dengan ruangan proses belajar di sekolah sewaktu SMA. Yang hanya membedakan pada sisi materinya yang baru dan tergolong berat, seperti mikro ekonomi, makro ekonomi, statistik, dasar-dasar ekonomi, perekonomian Indonesia dan inilah menurut kami materinya tergolong sukar dimengerti karena lebih banyak di warnai dengan bumbu-bumbu  kurva-kurva penawaran  dan permintaan  apa lagi ditambah dengan angka-angka statistika. dan ini juga yang kadang kala membuat kami cepat bosan dengan ruangan perkulihan, kecewa sama dosen, tidak mengikuti ruangan kelasnya dengan baik, dan apalagi ditambah dengan pembahasan-pembahasan mata kuliah perekonomian Indonesia, yang sudah barang tentu memaksa memikirkan Indonesia secara keseluruhanya seperti bagaimana pertumbuhan ekonomi tahun ini, inflasi, kemiskinan, pengaguran, ketimpangan, utang luar negeri, kebijakan fiskal dan moneter, ekspor, impor dllnya. didalam hati saya apa peduliku dengan Negara ini, apa untungnya bagi saya pertumbuhan ekonomi tinggi ? apa kaitanya inflasi, kemiskinan, pengguran, ketimpangan, utang luar negeri, kebijakan fiskal dan moneter, ekspor, impor dengan siang dan malam hari saya ??.  inilah pandangan-pandangan sempit dalam perkuliahan , Tetapi anehnya dalam kondisi mengikuti kuliah dengan tidak sungguh-sunguh, kami selalu menuntut nilai yang tinggi di saat dosen mengeluarkan nilai akhir semester.  Ini barangkali dosa pertama kami di bangku perkuliahan??? 

Untuk yang kedua  adalah disaat saya sudah masuk dan terkontaminasi pergaulan dengan lembaga-lembaga kampus baik internal dan eksternal. Disaat itu saya sudah mulai tahu kalau mahasiswa itu adalah agen perubahan, pengontrol, dan stok pemimpin bangsa. Maka tidak heran disini saya selau mempertanyakan hal-hal yang sebagian orang nilai tidak substansi dan kadang kala menyingung dosen-dosen yang memilki jabatan di fakultas. Saya masih ingat ketika saya habis berkader di HMI karena saya mau lihat sebagai kader hmi yang katanya punya keberanian maka saya ditantang untuk melakukan demonstrasi di halaman fakultas ekonomi, waktu seingatku tentang pelayanan perpustakaan dan pungli yang dikenakan kepada mahasiswa dalam berurusan administrasi. Bahkan setelah itu saya dkk makin berani untuk menatngan dosen berdebat soal pengelolaan kampus  semua di sikat, seingatku saya pernah berdebat dengan dekan bahkan rektor sekalipun, saya masih ingat saat pemilihan dekan kami menentang suara rektor dalam pemilihan dekan, pemilihan ketua jurusan yang dekan juga memilki hak veto, bahkan saya pernah  saya berdebat dengan dosen terkait dengan pembongkaran sekret lembaga di fakultas ekonomi dan yang terakhir adalah mempertanyakan dosen penguna narkoba tapi malah dibiarkan mengajar di kampus itu. Saya kira untuk yang ini banyak dosen yang tidak sepemikiran dengan saya dkk, banyak suara sumbang itu menghalangi aktifitas merekalah, dan bahkan juga tidak senang karena perbuatan-perbuatan kami bisa menghalangi nafsu kekuasan, kepentinan disana juga. Ini barangkali dosa yang kedua saya dkk.

Untuk yang ketiga disaat saya terdorong untuk menyelesaikan dan menuntaskan perkuliahan dan tentunya ingin bergelar sarjana ekonomi. Seingatku saat saya mengajukan judul kepada ketua jurusan waktu itu, memiliki ego yang tinggi terkadang memaksakan kehendak, terutama harus judul yang saya ajukan di setujui secepatnya. Untuk ini saya sampai berdebat panjang di ruangan ketua jurusan hanya karena ketua jurusan tidak terlalu paham dengan latar belakang proposal skripsi yang saya ajukan, yang sampai perdebatanya masuk mempertanyakan tugas-tugas utama ketua jurusan dan apa tupoksi sekretaris jurusan. Ini lah saya kira dosa ketiga saya saat mengikuti perkuliahan. Semoga ini dimaklumi ini bagian dari proses untuk menemukan pemimpin-pemimpin tanguh.

Untuk itulah saya kira dosa-dosa yang pernah saya tuliskan fakultas ekonomi meskipun dalam diri saya pribadi ini meruapak proses untuk saya mencoba cara-cara untuk hidup kedepan, dan semoga dimaklumi oleh semua teman-teman dan orang tua-orang tua saya. 

Tetapi lebih dari itu saya secara pribadi, diwaktu tahun 2009 saya tidak peduli dengan keadaan sosial disekitar saya, dengan Negara ini, daerah ini, dengan kemiskinan, penganguran . tetapi berkat arahan-arahan dosen saya di fakultas ekonomi terutama jurusan ilmu ekonomi dan studi pembangunan di UHO saya sadar ini penting. Terimaksih untuk semua ilmu yang kau berikan kepada saya.  dan yakinlah ilmu ini kami akan manfatkan seperti janji alumni universitas halu oleo.

Persyaratan Jadi Ganjalan Peremajaan Sawit Rakyat

Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menjadi salah satu program pemerintah Joko Widodo dalam upaya meningkatkan produktivitas perkebunan kelap...