Pagi tanggal 16 maret seluruh partai politik tumpah ruah dijalan raya, pada hari itu partai politik sesuwai dengan kalender KPU RI mereka dipersilahkan untuk mengelar kampanye damai dalam menyembut pesta politik tahun 2014. Semua partai bersorak seakan gendering perang dimulai dihari itu, semua infrasktutur partai di munculkan dijalan raya, dilapang yang menjadi tempat partai politik dipersilakan untuk kampaye, tidak ada lagi petak umpet yang dipertotonkan partai, karnah ini akan menjadi tolak ukur dari pada partai itu bersiap menyembut pemilu dengan harapan memenagkan pemilihan legislative untuk tujuan yang besar menjadi pemenang pemili dan sebagai imbalannya memilki kepercayaan diri untuk mengusung calon presiden memperebutkan kursi satu RI.
Bagi partai itulah yang terpenting memangkan pemilu dan sebagai pialanya
adalah berhak penuh mengusung capres,
dengan upaya kerja keras, mulai dari janji-janji dalam kampanye yang digelar.
Tidak masalah yang dikatakan itu adalah hal yang tidak realistas yang
terpenting adalah rakyat menerima gagasan-gagasan itu. Karnah sejatinya partai
politik mengeluarkan gagasan dengan tujuan untuk manarik minat pemilih dengan
analisa kalau rakyat tidak akan menegathui apakah gagasan-gagasan ini akan
realistis kedepan bagi mereka itu adalah urusan lain dan bagi rakyat sebenarnya
ini adalah pembodohan.
Namun inilah letaka bahayanya daripada kampanye partai politik yang digelar
kalau pada akhirnya panggung hanya menjadi arena yang tidak seimbang dalam
artian panggung kampenye hanya dijakan runag meligitimasi semua gagasan-gagasan
tanpa ada pertanyaan sama sekali dari simpatisan patai politik yang berada
dibawah panggung. Pada Kondisi ini rakyat dipaksa untuk menerima gagasan-gasan
partai politik yang berlaga dalam pemilu 2014 sebenarnya rakyat tengah diajak
untuk masuk dalam satu arena yang penuh
dengan ketidak jelasan dan bahkan pada akhirnya akan menimbulkan ketidak
percayaan rakyat terhadap proses pembangunan yang diambil atas nama kebijkan
pemerintah.
Dalam kampanye bukan rahasia umum lagi Banyak janji dan rumusan strategis
partai untuk membawa bangsa ini kearah lebih baik namun buahnya kadang takkunjung dinikmati oleh rakyat, sedikit Melirik kampanye partai politik pada saat 2009 yang lalu dalam memperebutkan puncak-puncak kepemimpinan negri ini termasuk presiden. Pada
saat itu masalahnya hampair sama dengan kondisi saat
ini. Mulai dari isu ketimpangan pembangunan antar daerah yang tidak
seimbang, masalah ketahanan pangan, lemahnya
makro ekonomi kita, pertumbuhan yang kurang inklusif dll. Macam Isu-isu inilah yang pernah mengiringi hura-hura kampenye 2009 yang lalu, namun Hal-hal ini juga ternyata ternyata belum maksimal dikerjakan oleh pemerintah
pemenang pemilu 2009 yang lalu, kalaupaun dikerjakan belum maksimal. Sehingga
kita sebagai masyrakat biasa
patut berdiskusi sejenak tentang kampenye partai politik kita ternyata janji
kampenye belum mampu di realisasakn dalam tataran penyelesaan masalah bangsa
ketika mereka dipercayakan untuk memimipin Negara ini lewat kepercayaan rakyat.
Bayangkan saja untuk
tahun 2013 yang lalu setelah pemerintahan SBY dan Budiono sejak 2009 yang lalu memegang pemerintahan Kita
masih saja disuguhkan dengan permasalah-permasalah ekonomi bangsa yang semakin
hari kita harus sepakat dan jentel untuk mengakui makin sulit dalam masyrakat
dan bahkan ini sudah membebani masyrakat kita. Sedikit mengutip tulisan Ahmad
Erani Yustika Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang dimuat dalam blok pribadi
beliau sedikitnya sepanjang tahun 2013
sekurangnya terdapat 6 masalah ekonomi utama yang menyergap bangsa ini: (i)
manajemen pasokan dan stabilitas harga pangan masih jauh dari memadai sehingga
mendorong inflasi dan menggerogoti kesejahteraan rakyat; (ii) sendi
mikroekonomi sangat lemah sehingga kesanggupan untuk berkompetisi di pasar
internasional amat rapuh, yang berakibat kepada defisit neraca perdagangan;
(iii) pertumbuhan ekonomi makin kedap kepada kelompok miskin sehingga
ketimpangan pendapatan kian menganga; (iv) sumber daya dan kebijakan fiskal tak
mampu secara efektif memengaruhi jalannya pembangunan, terutama saat krisis
ekonomi terjadi; (v) perekonomian terlalu terbuka sehingga mudah disergap oleh
krisis yang datang dari luar negeri; dan (vi) watak
kebijakan moneter hanya melayani untuk kepentingan sendiri, tapi berpotensi
melumpuhkan ekonomi nasional.
Masalah ekonomi yang diungkapkan oleh Prof Erani Yustika ini bukan hanya
kali ini terjadi atau tahun 2013 terjadi, kondisi ini sudah menjadi isu ekonomi
nasional pada saat negri ini ditinggalkan oleh kepemimiinan orde baru dan kalau
kita membaca literatur2 ekonomi berkaitan dengan isu-siu ekonomi nasional ini permasalahan seperti
ini selalu muncul berulang kali tiap tahun kalau kita semua mau mengkauinya.
Melirik pada masa kepemerinthan orde baru untuk masalh yang diungkapkan pertama
masalah manajemen pangan yang bermuara pada inflasi yang tinggi kita tidak pernah
menemukan ini karena pada zaman orde baru kita tau kalau pemerintah sangat
konsen dengan urusan perut rakyat indonesia, Negara ini mampu swasembada pangan,
pada zaman itu harga pangan yang
menjadi kebutuhan siang dan malam rakyat tidak tinggi-tinggi amat. Untuk kasus
yang kedua terkait dengan kondisi makro ekonomi kita pada zaman orde baru
sangat dikagumi oleh
bangsa-bangsa lain di dunia kita mampu berkompetisi dipasar kawasan asen,
karnah satu yang menjadi kekuatan
pemerintah pada saat itu yakni tetap menjaga sektor pertanian sebagai sektor yang amat penting meskipun diakhir
kepemerintahanya orde itu sedikit kecolongan dengan tidak memperhatikan
kekuatan ekonomi pertaninya dengan mulai membuka lebar-lebar ekonomi
nasional dengan minim proteksi dalam negri akhirya makro ekonomi kita limbung. Untuk kasus yan ketiga pertumbuhan
ekonomi pada zaman orde baru tidak tinggi-tinggi amat karena pemerintah pada saat itu tidak sedang berkompetisi
pada angka-angka ekonomi tetapi lebih tertarik mengurusi yang namanya kesejateraan
rakyat, dibandingkan dengan sekarang yang pemerintahnya lebih tertarik dengan
angka-angka ekonomi yang tinggi namun minim inklusif kepada rakyat kita. Untuk
kasus yang keempat masalah fiskal kita tidak mampu mempengaruhi jalanya pembangunan pada saat ini
dibandingkan pada zaman orde baru sangat riskan, dizaman orde baru kita
menganut asas pembangunan sentralisasi yang menghendaki kebijakan itu hanya
satu pintu namun mampu mengatasi pembangunan ekonomi sampai di daerah-daerah.
Kelima perekonomian yang terlalu terbuka sangat berbahaya kalau tidak
didukung dengan komitmen pemimpin kita, pemerintah ini sudah memilki pengalaman
dengan satu kebijakan
kita bergabung dengan AFTA yang apada akhirnya kita hanya menjadi penonton, dan
pertarungan kedepan adalah masyrakat ekonomi asen yang akan dibuka lebar-lebar
setelah pemilu ini berlangsung. Untuk kasus ini kita harus punya pemimpin yang
mampu dan memilki kepekaan terhadap
ekonomi kerakyatan kita tanpa itu kita akan kembali menjadi penonton. Untuk
kasus yang keenam berkaitan dengan watak kebjakan moneter kita yang memang akan
berpotensi akan melumpuhhakan ekonomi kita, ini disebabkan oleh pemimpin kita
terlalu liberal tidak mementingkan ekonomi rakyat kecil, saya hanya kan
mengambil contoh pada prioritas kredit yang di berlakukanoleh bank kita.
Rata-rata bank konvesional kita terkesan menghindari resiko yang tinggi,
akibatnya banyak sector ekonomi yang butuh pembiayah daana segar tidak
mendaptkan tempat di bank, mereka lebih memprioritaskan pengusaha kelas kakap
dibaandingkan petani yang lebih banyak meyerap tenaga kerja di negri ini.
Inilah kerugian-kerugian dari masyrakat dalam pesta demokrasi yang
berlabsung kalau rakyat menyerahkkan kepemimpinan pada partai dan oaring-oarang
yang tidak banyak tahu solusi yang tepat untuk mengobati penyakit kita. Permasalah
tinggal permasalhan dan tidak akan ditangani dengan cermat, permasalah akan
tetap berulang seakan menantikan solusi dari pemimpin yang cerdas. Selamat
memilih pada peta demokrasi 9 april 2014.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar