Seperti
biasanya selesai wisuda teman-teman selalu mengelar acara sukuran, dan bahkan
ini sudah menjadi tradisi seseorang untuk melepas mantel nama mahasiswa. Sore
itu saya dan kawan-kawan menghadiri acara sukuran wisuda seangkatan (Adzan
Dewangga cs*) dan kawan-kawan lain, yang kebetulan dirakayakn dirumah teman
ini. Acara makan-makan tentunya menjadi jamuan dalam acara sukuran ini kali
ini.
Namun
bagi kami yang angkatan 2009 yang paling berkesan adalah betemu kembali
kawan-kawan seangkatan yang sudah wisudah duluan atau teman-teman yang sudah
jarang masuk kampus. apalagi kami tegolong sebagai anak angkatan tertua untuk
hitungan tahun berjalan 2013, khususnya jurusan iesp unhalu. Saling memberikan apresiasi dengan teman
seangkatan sudah menjadi canda dan tawa di antara sesama kami, namun ada juga
yang tergolong saling ejek karnah ada yang sudah menyelesaikan studi dan ada
yang masih menjadi penungu kampus. Termasuk saya penulis***
Selepas
acara makan-makan dalam sukuran ini kami pun lebih serius cerita masa depan kuliah
teman-teman yang belum menyelasaikan studi. Cerita yang dirangkaikan dengan
canda dan tawa dan seriusnya ya, mulai masuk diskusi lepas tentang jurusan ilmu
ekonomi dan studi pembangunan. Pembuka diskusi pada saat itu adalah kami
bersepakat untuk anak-anak angkatan tua itu harus menyelesaikan kuliah
secepatnya karnah semakin lama-semakin kami lupa dengan cita-cita tentang
sarjana. Namun kata teman yang menjadi persoalan sekarang adalah ketua jurusan
IESP UHO terlalu kiler untuk istilah kampus, bayangkan saja kata teman untuk
memasukan judul sebagai prasyarat untuk penelitian skripsi harus melewati pintu
ketua jurusan yang super-super ketat katanya. Menurut teman satu lagi kalau
pengurusan untuk menyelaesaikan skripsi sekarang dengan dulu sangat-sangat beda.
Kalau dulu katanya teman proposal untuk seminar penelitian melwati pintu sekjur
sekarang minta ampun harus melewati ketua jurusan yang sangat-sangat ketat
dalam pemeriksaaan, sampai katanya teman ini kajur sudah mengambil hak pembibing
dan lanjutnya kalau ini kajur kayak semua konsentrasi di jurusan. Brow dia
itukan Doctor***
Dalam
kesempatan ini izinkan saya akan mengulas beberapa perubahan yang terjadi dalam
pengurusan penyelesaian sarjana di fakultas ekonomi jurusan ilmu ekonomi dan
studi pembangunan.
Pertama
saya akan kemabali mengingat jurusan ini pada saat ketua jurusan ilmu ekonomi dan studi
pembangunan. bapak Dr Yani Balaka, waktu itu untuk yang berkaitan dengan semua
kepengurusan yang namanya proposal hasil dan skripsi itu semua dikerjakan oleh
sekertaris jurusan, ketua jurusan hanya meberikan tanda tangan terhadap judul
yang sudah disepakati oleh sekjur. Cara ini dilakukan oleh ketua jurusan lama
sesuwai dengan aturan akademik. Dimana dalam aturan dimandatkan bahwa untuk
pengurusan judul memang diserahan kepada sekjur untuk melihat judul yang layak
dengan yang tidak. Kalau dipikir-pikir beda sekali dengan kepemimpinan kajur
sekarang ini.
Kedua
Sekarang saya akan pindah pada kepemimpinan ketua jurusan yang baru, untuk urusan
ketua jurusan yang baru ini dari awal banyak pihak yang mepertanyakan sah
tidaknya pemilihan ketua jurusan, ini dikarenakan pemilihan pada waktu itu
secara opinium cifitas akademika banyak berkembang kalau pemilihan itu ditunjuk
secara langsung oleh dekan secara aklamasi karena tidak tidak ada lawan. Ini diakibatkan karenah pada saat itu suara pemilihan ketua
jurusan, dekan ekonomi memilki suara 35% dari senat jurusan. Alhasil pemilihan pun dimenangkan oleh ketua
jurusan yang didukung langsung oleh dekan ekonomi. Kondisi 35% suara dekan
ekonomi cukup membuat dosen-dosen yang lain tidak mau calonkan diri karnah ada
angapan kalau calon juga pasti akan kalah karenah yang menentukan siapa
pemenang adalah dekan dan alhamdulilah dekan yang sekarang berpihak kepada
ketua jurusan yang sekarang. akhirnya pemilihan pun di tentng oleh mahasiswa
namun tetap berlangsung. Ini dibuktikan dengan demontrasi mahasiswa yang
menolak pemilihan dicampuri oleh dekan ekonomi.
(suasana demonstrasi penolakan pemilihan ketua jurusan iesp)
Ketiga
setelah kepemimpinan ketua jurusan yang baru di jalankan. babak baru
pemerintahan terlihat di jurusan adalah ketua jurusan langsung memilih pendamping
alias sekjur untuk mendampingi ketua jurusan yang baru dalam menjlankan
aktifitas akademik yang berlangsung di jurusan. Gebrakan demi gabrakan
dilakukan oleh ketua jurusan yang baru, mulai dengan menata ruangan jurusan.
Misalnya menata ruangan jurusan dengan menyatukan antara staf dengan sekjur,
bahkan satu ruangan dengan kajur yan hanya dibatasi dengan lemari. (Kalau untuk
anak iesp UHO tidak asing lagi).
Keempat
terkait dengan kepemimpinan jurusan yang baru adalah untuk urusan proposal
skripsi sangat berbeda dengan yang lalu ketua jurusan baru mengambil alih langsung
untuk urusan yang satu ini. Meskipun itu bertentangan dengan aturan atau
sedikit mengambil alih tugas sekjur. Dan hal ini Tidak pernah terkonfirmasi apa
alasan ketua jurusan mengambil alih kerja sekertaris juruan. Banyak teman-teman
yang berspekulasi kalau ketua jurusan yang baru itu tidak percaya dengan
sekertaris jurusan. Ada juga yang memberikan opini tentang ini mulai dari
sekjur yang dianggap tidak kompeten dan macam-macam yang berakhir pada sekjur
hanya sebagai boneka. Namun yang paling membekas dari kata-kata teman2 yang
tidak berani untuk mengungkapkan*** adalah ketua jurusan terlalu gila urusan
dengan judul proposal skripsi mahasiswa. Pernyataan semacam ini tidak
berlebihan kalau teman-teman untuk memberikan penilaian, pertama kalau
berdasarkan aturan yang ada ketua jurusan sebenarnya tidak langsung bersentuhan
dengan judul-judul mahasiswa, alias ini adalah tugas sekretaris jurusan. Inilah
hal yang menjadi perdebatan ditataran mahasiswa yang berniatanuntuk mengajukan
judul. Kondisi ini sebenarnya kalau kita mau jujur-jujuran mahasiswa menjadi
korbanya, pertanyaan kemudian kenapa? pertama sedikit kita berkaca pada jurusan
tetangga akuntansi dan manajemen, disana begitu cepat dalam pengajuan judul
proposal skripsi, ini karena diakibatkan oleh semua tugas yang berkaitan dengan
skripsi itu diserahkan dengan sekertaris jurusan masing-masing tentunya ya
ketua jurusan masih berdasarkan aturan yang berlaku dalam memimipin jurusan.
Kedua dalam hal pengajuan judul skripsi yan ada di iesp sebenarnya kalau mau
jujur juga sangat panjang dan memakan waktu yang menurut penulis sangat-sangat
omogkosong (untuk sekarang teman bisa sampai delapan kali konsul kepada ketua
jurusan hanya untuk mendapatkan pembibing skripsi). Dalam hal skripsi ketua jurusan
harus menyetujui skripsi mahasiswa, alasan utamanya ketua jurusan adalah agar
pembibing tidak seenaknya merubah alur penelitian. Ternyata setelah berjalan
kepemerintahanya kajur selama ini adalah hal yang patut dipertanyakan contoh
dalam kasus teman yang sering tampil proposal tidak sedikit yang dirubah alur
penelitianya bahkan sampai pada judul dan ini nyata-nyata tadi proposal yang
dirubah oleh penguji dan pembibing sudah lewat pemeriksaan bu kajur Lo***.
Namun sebagai seorang mahasiswa yang menggaharapkan nilai yang baik dari
penguji kenyataan ini tetap diikutkan maunya penguji dan tidak ada pembelaan
kalau judul ini sudah sesuwai dengan pikiran ketua jurusan.
Kondisi
ini sudah lama menjadi perbincangan oleh teman-teman mahasiswa jurusan ilmu
ekonomi dan studi pembangunan, kalau mau selesai itu banyak maunya katanya
teman” kajurnya_, namun kondisi semacam ini seharusnya tidak terjadi di jurusan
yang sangat kita banggakan secara bersama-sama, banyak untung rugi yang didapat
kan oleh kondisi ini, pertama untuk jurusan semakin lama menumpuk
angkatan-angkatan tua maka semakin buruk pula penilaian kementrian di jurusan
ini, kedua bagi mahasiswa persoalan skripsi saya kira bukan perkara mudah untuk
menyelesaikan mahasiswa butuh pembibing untuk mengarahkan karya ilmiahnya, kalau
kondisi hanya untuk mendapatkan pembibing dari ketua jurusan proposal yang
diajukan oleh mahasiswa harus sesuwai dengan pikiran ketua jurusan ini gawan,
gawatnya dimana? Ketua jurusan okelaha seorang dosen yang memilki kompentesi dibidang
ilmu ekonomi namun kadang mahasiswa juga kadang tidak mengerti dengan apa yang
dia sampaikan, dan jangan sampai ini terjadi antara ketua jurusan dengan
mahasiswa.
Tulisan
ini hanya untuk menyampaikan cerita-cerita yang selama saya berurusan skripsi
di fakultas ekonomi Universitas Halu Oleo.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar