Jumat, 14 Maret 2014

Mari Bicara Tentang Jurusan IESP***

Seperti biasanya selesai wisuda teman-teman selalu mengelar acara sukuran, dan bahkan ini sudah menjadi tradisi seseorang untuk melepas mantel nama mahasiswa. Sore itu saya dan kawan-kawan menghadiri acara sukuran wisuda seangkatan (Adzan Dewangga cs*) dan kawan-kawan lain, yang kebetulan dirakayakn dirumah teman ini. Acara makan-makan tentunya menjadi jamuan dalam acara sukuran ini kali ini.  
Namun bagi kami yang angkatan 2009 yang paling berkesan adalah betemu kembali kawan-kawan seangkatan yang sudah wisudah duluan atau teman-teman yang sudah jarang masuk kampus. apalagi kami tegolong sebagai anak angkatan tertua untuk hitungan tahun berjalan 2013, khususnya jurusan iesp unhalu.  Saling memberikan apresiasi dengan teman seangkatan sudah menjadi canda dan tawa di antara sesama kami, namun ada juga yang tergolong saling ejek karnah ada yang sudah menyelesaikan studi dan ada yang masih menjadi penungu kampus. Termasuk saya penulis***
Selepas acara makan-makan dalam sukuran ini kami pun lebih serius cerita masa depan kuliah teman-teman yang belum menyelasaikan studi. Cerita yang dirangkaikan dengan canda dan tawa dan seriusnya ya, mulai masuk diskusi lepas tentang jurusan ilmu ekonomi dan studi pembangunan. Pembuka diskusi pada saat itu adalah kami bersepakat untuk anak-anak angkatan tua itu harus menyelesaikan kuliah secepatnya karnah semakin lama-semakin kami lupa dengan cita-cita tentang sarjana. Namun kata teman yang menjadi persoalan sekarang adalah ketua jurusan IESP UHO terlalu kiler untuk istilah kampus, bayangkan saja kata teman untuk memasukan judul sebagai prasyarat untuk penelitian skripsi harus melewati pintu ketua jurusan yang super-super ketat katanya. Menurut teman satu lagi kalau pengurusan untuk menyelaesaikan skripsi sekarang dengan dulu sangat-sangat beda. Kalau dulu katanya teman proposal untuk seminar penelitian melwati pintu sekjur sekarang minta ampun harus melewati ketua jurusan yang sangat-sangat ketat dalam pemeriksaaan, sampai katanya teman ini kajur sudah mengambil hak pembibing dan lanjutnya kalau ini kajur kayak semua konsentrasi di jurusan. Brow dia itukan Doctor***
Dalam kesempatan ini izinkan saya akan mengulas beberapa perubahan yang terjadi dalam pengurusan penyelesaian sarjana di fakultas ekonomi jurusan ilmu ekonomi dan studi pembangunan.
Pertama saya akan kemabali mengingat jurusan ini pada saat  ketua jurusan ilmu ekonomi dan studi pembangunan.  bapak Dr Yani Balaka, waktu itu untuk yang berkaitan dengan semua kepengurusan yang namanya proposal hasil dan skripsi itu semua dikerjakan oleh sekertaris jurusan, ketua jurusan hanya meberikan tanda tangan terhadap judul yang sudah disepakati oleh sekjur. Cara ini dilakukan oleh ketua jurusan lama sesuwai dengan aturan akademik. Dimana dalam aturan dimandatkan bahwa untuk pengurusan judul memang diserahan kepada sekjur untuk melihat judul yang layak dengan yang tidak. Kalau dipikir-pikir beda sekali dengan kepemimpinan kajur sekarang ini.
Kedua Sekarang saya akan pindah pada kepemimpinan ketua jurusan yang baru, untuk urusan ketua jurusan yang baru ini dari awal banyak pihak yang mepertanyakan sah tidaknya pemilihan ketua jurusan, ini dikarenakan pemilihan pada waktu itu secara opinium cifitas akademika banyak berkembang kalau pemilihan itu ditunjuk secara langsung oleh dekan secara aklamasi karena tidak  tidak ada lawan. Ini diakibatkan  karenah pada saat itu suara pemilihan ketua jurusan, dekan ekonomi memilki suara 35% dari senat jurusan.  Alhasil pemilihan pun dimenangkan oleh ketua jurusan yang didukung langsung oleh dekan ekonomi. Kondisi 35% suara dekan ekonomi cukup membuat dosen-dosen yang lain tidak mau calonkan diri karnah ada angapan kalau calon juga pasti akan kalah karenah yang menentukan siapa pemenang adalah dekan dan alhamdulilah dekan yang sekarang berpihak kepada ketua jurusan yang sekarang. akhirnya pemilihan pun di tentng oleh mahasiswa namun tetap berlangsung. Ini dibuktikan dengan demontrasi mahasiswa yang menolak pemilihan dicampuri oleh dekan ekonomi. 

                                  (suasana demonstrasi penolakan pemilihan ketua jurusan iesp)

Ketiga setelah kepemimpinan ketua jurusan yang baru di jalankan. babak baru pemerintahan terlihat di jurusan adalah ketua jurusan langsung memilih pendamping alias sekjur untuk mendampingi ketua jurusan yang baru dalam menjlankan aktifitas akademik yang berlangsung di jurusan. Gebrakan demi gabrakan dilakukan oleh ketua jurusan yang baru, mulai dengan menata ruangan jurusan. Misalnya menata ruangan jurusan dengan menyatukan antara staf dengan sekjur, bahkan satu ruangan dengan kajur yan hanya dibatasi dengan lemari. (Kalau untuk anak iesp UHO tidak asing lagi).
Keempat terkait dengan kepemimpinan jurusan yang baru adalah untuk urusan proposal skripsi sangat berbeda dengan yang lalu ketua jurusan baru mengambil alih langsung untuk urusan yang satu ini. Meskipun itu bertentangan dengan aturan atau sedikit mengambil alih tugas sekjur. Dan hal ini Tidak pernah terkonfirmasi apa alasan ketua jurusan mengambil alih kerja sekertaris juruan. Banyak teman-teman yang berspekulasi kalau ketua jurusan yang baru itu tidak percaya dengan sekertaris jurusan. Ada juga yang memberikan opini tentang ini mulai dari sekjur yang dianggap tidak kompeten dan macam-macam yang berakhir pada sekjur hanya sebagai boneka. Namun yang paling membekas dari kata-kata teman2 yang tidak berani untuk mengungkapkan*** adalah ketua jurusan terlalu gila urusan dengan judul proposal skripsi mahasiswa. Pernyataan semacam ini tidak berlebihan kalau teman-teman untuk memberikan penilaian, pertama kalau berdasarkan aturan yang ada ketua jurusan sebenarnya tidak langsung bersentuhan dengan judul-judul mahasiswa, alias ini adalah tugas sekretaris jurusan. Inilah hal yang menjadi perdebatan ditataran mahasiswa yang berniatanuntuk mengajukan judul. Kondisi ini sebenarnya kalau kita mau jujur-jujuran mahasiswa menjadi korbanya, pertanyaan kemudian kenapa? pertama sedikit kita berkaca pada jurusan tetangga akuntansi dan manajemen, disana begitu cepat dalam pengajuan judul proposal skripsi, ini karena diakibatkan oleh semua tugas yang berkaitan dengan skripsi itu diserahkan dengan sekertaris jurusan masing-masing tentunya ya ketua jurusan masih berdasarkan aturan yang berlaku dalam memimipin jurusan. Kedua dalam hal pengajuan judul skripsi yan ada di iesp sebenarnya kalau mau jujur juga sangat panjang dan memakan waktu yang menurut penulis sangat-sangat omogkosong (untuk sekarang teman bisa sampai delapan kali konsul kepada ketua jurusan hanya untuk mendapatkan pembibing skripsi). Dalam hal skripsi ketua jurusan harus menyetujui skripsi mahasiswa, alasan utamanya ketua jurusan adalah agar pembibing tidak seenaknya merubah alur penelitian. Ternyata setelah berjalan kepemerintahanya kajur selama ini adalah hal yang patut dipertanyakan contoh dalam kasus teman yang sering tampil proposal tidak sedikit yang dirubah alur penelitianya bahkan sampai pada judul dan ini nyata-nyata tadi proposal yang dirubah oleh penguji dan pembibing sudah lewat pemeriksaan bu kajur Lo***. Namun sebagai seorang mahasiswa yang menggaharapkan nilai yang baik dari penguji kenyataan ini tetap diikutkan maunya penguji dan tidak ada pembelaan kalau judul ini sudah sesuwai dengan pikiran ketua jurusan.
Kondisi ini sudah lama menjadi perbincangan oleh teman-teman mahasiswa jurusan ilmu ekonomi dan studi pembangunan, kalau mau selesai itu banyak maunya katanya teman” kajurnya_, namun kondisi semacam ini seharusnya tidak terjadi di jurusan yang sangat kita banggakan secara bersama-sama, banyak untung rugi yang didapat kan oleh kondisi ini, pertama untuk jurusan semakin lama menumpuk angkatan-angkatan tua maka semakin buruk pula penilaian kementrian di jurusan ini, kedua bagi mahasiswa persoalan skripsi saya kira bukan perkara mudah untuk menyelesaikan mahasiswa butuh pembibing untuk mengarahkan karya ilmiahnya, kalau kondisi hanya untuk mendapatkan pembibing dari ketua jurusan proposal yang diajukan oleh mahasiswa harus sesuwai dengan pikiran ketua jurusan ini gawan, gawatnya dimana? Ketua jurusan okelaha seorang dosen yang memilki kompentesi dibidang ilmu ekonomi namun kadang mahasiswa juga kadang tidak mengerti dengan apa yang dia sampaikan, dan jangan sampai ini terjadi antara ketua jurusan dengan mahasiswa.
Tulisan ini hanya untuk menyampaikan cerita-cerita yang selama saya berurusan skripsi di fakultas ekonomi Universitas Halu Oleo.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Persyaratan Jadi Ganjalan Peremajaan Sawit Rakyat

Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menjadi salah satu program pemerintah Joko Widodo dalam upaya meningkatkan produktivitas perkebunan kelap...