Jumat, 10 Januari 2014

Membaca Komentar Penetapan Anas Urbaningrum tersangka kasus korupsi

Malam ini jumat 10 januari 2014 anas urbaningrum di beritakan semnua media yang ada di republik ini, mulai dari siarang langsung televisi nasional kita, sampai siaran lokal. seakan anas urbaningrim adalah menjadi magnet tersendiri menjadi topik pemberitaan hari ini. tepat pada pukul 09.00 kpk akhirnya mengumumkan penetapan anas urbaningrum sebagai tersangka dalam kasus proyek hambalang yang sudah memenjarakan beberapa politisi muda yang menjadi idola sesaat dalam pentas politik nasional kita. 
pada kesempatan ini saya menulis sebagai bagian dari rasa bangga saya dan rasa kecewa saya sebagai anak negri yang sedikit mengidolakan anas urbaningrum sebagai tokoh politik muda yang sudah mampu memberikan pendidikan politik pada anak-anak muda sebagai latar belakang aktifis kampus. ya anas menjadi magnet tersenduiri untuk aktifis-aktiis kampus. dalam kesempatan ini juga saya tidak sedang menilai putusan kpk apakah itu sudah sesuwai dengan hukum dinegri ini atau memang kasus ini adalah kasusu yang memiliki kontaminas politik lebih dalam dari pada hukum yang sebenarnya tapi saya hanya mampu mendenagrkan komentar pakar-pakar hukum di negri ini. karnah saya memang anak muda yang berlatar belakang kuliah di fakultas ekonomi yang tidak pernah bersentuhan dengan mata kuliah hukum. 

tapi ada hal yang menarik ketika kita anak-anak negri yang tidak paham akan hukum bagaimana di kemas dan bagaimana diterapkan dinegri ini, mafud md yang berlatar belakang prof. hukum sekaligus mantan ketua MK memberikan komentar terkait dengan kasus anas pada malam ini. (dalam akun twiternya mafud md menulis: Mustahil tuh. Pakai aturan apa dalam menetapkan anas ?)

untuk kanda anas urbaningrum kami dukung penuh lembaran-lembaran selanjutnya kasus hambanlang...

membaca tulisan bang indra j piliang ini, sebenarnya kita sedang membaca bagaimana anak-anak kampung yang mampu lahir menjadi pemimpin nasional>>>>
Mari aku ceritakan kisah kita, dari generasi 1990-an. 20 tahun lalu aku bertemu denganmu di acara LK II HMI Cabang Depok. Aku jadi peserta, kau jadi pembicara. Tahun 1994 kalau tidak salah, hari, tanggal dan bulannya aku lupa. Kau waktu itu menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI). Aku tidak pernah berencana masuk HMI, asal kau tahu. Semula aku diundang menjadi pembicara LK I HMI oleh Nusron Wahid (kini dia Ketua Umum Pemuda Ansyor). Kebetulan aku datang cepat, mengikuti paparan MS Ka’ban (kini Ketua Umum Partai Bulan Bintang). Lalu aku mengisi acara. Oleh Panitia LK I, aku diberi sertifikat kelulusan sebagai kader HMI, karena mengikuti sesi paling penting, yakni Nilai Identitas Kader.
Lalu aku mengikuti sedikit proses di tubuh HMI. Aku jadi pengurus komisariat, lalu cabang. Ketika kawanku Rifky Mochtar terpilih sebagai Ketua Badko HMI Jabar, aku baru tahu bagaimana HMI. Jabatan kawanku dicopot. Berikutnya aku makin tahu HMI, ketika proses pencalonanku sebagai Ketua Senat Mahasiswa Universitas Indonesia ternyata tidak didukung oleh PB HMI yang waktu itu dipimpin oleh Taufik Hidayat. Aku malah dianggap terlalu ikhwan untuk ukuran HMI. Sebaliknya, aku dianggap terlalu HMI oleh para ikhwan. Ya, sudah.
Waktu peristiwa 1998, aku berada di jalanan, bersama barisan mahasiswa dan alumni Keluarga Besar Universitas Indonesia. Aku sempat bermalam di Gedung MPR-DPR pada tanggal 19-20 Mei 1998. Setelah itu aku bekerja di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pramita, Tangerang (sekarang Universitas Pramita). Aku melihat kiprahmu di layar televisi, yakni menjadi tim ini dan tim itu, termasuk melakukan revisi terhadap paket undang-undang bidang politik. Ada nama Rama Pratama juga dijejerkan dengan namamu. Aku kenal lama dengan Rama, dia mantan manajer kampanyeku di FEUI dalam Pemira SMUI 1995.
Ketika aku bekerja sebagai peneliti dan analis di Departemen Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS), kita kembali bertemu. Malah, lebih sering bertemu. Apalagi aku sering ke Komisi Pemilihan Umum, tempatmu berkantor. Aku mengisi acara-acara yang diadakan di Media Center KPU. Ketika para wartawan kesulitan menemuimu, aku dengan senang hati menghubungimu, lalu kemudia kau memberikan informasi yang mereka butuhkan. Namamu kembali muncul waktu ada kritikan soal mobil dinas yang dipakai oleh para komisioner KPU. Kawan-kawan KAHMI Pro sepakat agar kau kembalikan mobil itu. Aku tak tahu detilnya, apakah ada kawan yang meminjamkan mobilnya untuk kau pakai.

***

Usai Pemilu 2004 yang berhasil itu, satu demi satu komisioner KPU diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI. Aku kebetulan akrab dengan pimpinannya. Bahkan, salah satu Wakil Ketua KPK RI, hadir dalam pernikahanku pada tahun 2002, lalu memberikan sambutan atas nama keluarga istriku. Aku ikut alur kepindahan kantor KPK RI, saking seringnya kesana, berdiskusi dengan komisioner-komisionernya. Di gudang dataku, masih banyak tumpukan makalah-makalah, disain, sampai blue print KPK RI yang dikirimkan kepadaku, guna aku baca-baca.
Beberapa komisioner KPU ditahan KPK RI, sebagai prestasi pertama. Mereka menyebut namamu dan nama Valina Sinka Subekti juga, dua orang anggota KPU yang akrab denganku. Kalian berdua sama sekali “lolos” dari lubang maut. Dalam saat yang tidak baik buat kariermu itu, aku jadi pembicara diskusi di Blora Center, satu lembaga yang memenangkan SBY sebagai Presiden 2004-2009. Ada Johan Silalahi dan almarhum kawan kita, Yon Hotman. Aku lupa, apakah Jusuf Rizal juga ada di acara itu. Yang jelas, ketika ada Kongres Partai Demokrat di Bali pada 2005, aku ikut kesana bersama Jusuf Rizal dan Hendri Sitompul. Kongres akhirnya memilih Hadi Utomo sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.
Aku masih ingat diskusi itu. Di sana, aku mendorongmu untuk membuka karier baru, yakni menjadi politisi. Nama partainya langsung aku sebut: Partai Demokrat. Pesanku jelas, politisi sipil harus mulai masuk pasar politik. Para jenderal yang membentuk partai politik di era reformasi, perlu didampingi oleh politisi sipil yang memiliki keahlian dan kemampuan. Tentu aku tahu, bukan hanya aku yang kau dengarkan saran-sarannya. Yang jelas, aku dan kawan-kawan itulah yang kemudian yang “menjerumuskan”-mu ke kancah politik, di tengah gemuruh angin perubahan.
Dan lewatmu juga – serta Andi Alifian Mallarangeng – aku menitipkan sejumlah kawan yang ingin menjadi politisi Partai Demokrat. Ya, aku sering bertemu Andi Mallarangeng di sebuah kedai kopi di seberang Istana Negara. Sejak Gus Dur tak lagi jadi presiden, aku jarang ke Istana Negara. Di era Gus Dur jadi presiden, aku sempat bekerja di dalamnya selama tiga bulan, menjadi bagian dari Tim Asisten  Presiden Bidang Ekonomi. Beberapa kali aku ke Istana, untuk duduk-duduk saja dan menikmati suasana Istana yang begitu terbuka untuk umum.
***
Seingatku, ketika aku kemudian memutuskan menjadi politisi, tepatnya tanggal 6 Agustus 2008, kau menitipkan pesan. Ya, apalagi kalau bukan agar aku juga masuk Partai Demokrat. Tapi entahlah, aku merasa lebih baik bersahabat denganmu, ketimbang berada dalam satu perkawanan di satu partai politik. Aku ingat candaan seorang Ja’far Hafsah, ketika mengantarkan berkas caleg Partai Demokrat ke KPU: “Indra, kamu sudah kami siapkan nomor urut satu di Sumbar II. Kenapa kamu malah ke Partai Golkar?” Beberapa kawanku memang menganjurkan aku masuk Partai Demokrat, tapi ayahku sudah memberikan satu garisan: “Kamu boleh masuk partai politik, asal kamu masuk Partai Golkar”.
Makanya, kita akhirnya menjadi dua orang yang saling memberi pesan, baik via senyuman atau candaan. Hampir tak pernah ada debat panas antara aku denganmu, ketika kita beradu argumen di layar televisi. Aku tetap memandang kau sebagai senior yang mengisi LK II-ku di HMI Cabang Depok itu. Tergigit lidahku, apabila aku bersitegang denganmu di layar kaca, sepanas apapun materi debat yang kita hadapi. Begitupula sampai debat pilpres digelar, kita tak sungguh-sungguh berdebat panas. Sebuah lembaga mengganjar penampilan kau, Fadli Zon dan aku dengan tropi Charta Politica Award 2009 sebagai Komunikator Terbaik Tiga Pasang Capres. Kau mendapatkannya untuk SBY-Boediono, Fadli mendapatkannya untuk Mega-Prabowo dan aku mendapatkannya untuk JK-Wiranto.
Ketika kau maju menjadi Calon Ketua Umum Partai Demokrat, akupun mendukungmu. Aku pasang foto kita berdua di facebook, lalu hadir dalam acara Pidato Kebudayaanmu di Jakarta Theater. Bahkan, aku ikut menelepon beberapa pengurus Partai Demokrat di daerah-daerah, menegaskan dukunganku. Aku menyaksikan kemenanganmu dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Waktu itu ada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalteng, Partai Golkar dan Partai Demokrat berkoalisi. Sejak saat itulah namamu menjulang, salah satunya sebagai seorang Calon Presiden yang akan menggantikan SBY.
Dan kisah selanjutnya kemudian publik tahu. Kau jadi tersangka kasus gratifikasi sebuah mobil yang terkait dengan perusahaan pemenang proyek Hambalang. Bukan hanya kau, sebelumnya Nazaruddin, orang yang tidak aku kenal riwayatnya. Yang aku kaget, Anggelina Sondakh – kawanku juga – ikut jadi tersangka. Berikutnya menyusul Andi Alifian Mallarangeng. KPK Jilid I yang memenjarakan komisioner-komisioner KPU tak ikut menjeratmu. KPK Jilid II sama sekali menuai masalah internal. KPK Jilid III yang bahkan ikut kau pilih sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat, malah menjeratmu.
Aku bersyukur kita masih punya satu momen pertemuan, yakni ketika aku maju sebagai Calon Walikota Pariaman dari jalur perseorangan. Dalam statusmu sebagai tersangka, aku kirim direct message ke akun twittermu @AnasUrbaningrum: “Cak, mau makan sate di Pariaman?” Dan kaupun membalasnya, cepat. Kau bahkan mengubah jadwalmu di Jambi. Kita memang tidak sempat makan sate, saking padatnya jadwaku sejak pagi. Tapi setahuku, kau ke makam Syech Burhanuddin, makan durian di Kayu Tanam, lalu makan Sate Mak Syukur di Padang Panjang. Ada stafku yang ikut.
Selamat bertapa, Cak Anas. Sejak 1998 kau sudah di jalur atas seluruh pergerakan politik negeri ini. Kau lewati tiga kali pemilu. Untuk pemilu keempat ini, 09 April 2014, kau mungkin menggunakan hak suaramu di penjara.  Ataukah juga kau menggunakan hak suaramu untuk Pilpres, 09 Juli 2014, di penjara? Yang jelas, ketika kau merayakan HUT ke-45, 16 Juli 2014, mudah-mudahan aku hadir di sisimu, bersamamu, entah di penjara, entah di mana. Kita tidak merayakan HUT-mu yang 45. Kita merayakan Presiden Republik Indonesia ke-7 bersama-sama...

Rabu, 01 Januari 2014

Pertemuan Bersama Supir Truk Se-Kota Kendari

Tanggal 21 desember 2013 yang lalu sekitar pukul 10.00 wita, saya sedang bersama ketua KPU Sultra di SMA Negeri 1 kendari  dalam acara KPU goes to school  , selang  beberapa saat hendpone saya berbunyi, dengan nomor telopon yang baru di hp saya karnah saya belum perneh menyimpan no tersebut. Selang beberapa saat saya angkat terdengar suara laki-laki.  Dalam percakapan saya dengan laki-laki tersebut laki-laki ini memperkenalkan namanya kepada saya dan provesi dia. Dalam percakapn ini laki-laki ini menyebut namanya pak talib yang merupakan salah satu sopir truk dikota kendari. Dalam percakapan saya dengan supir truk tersebut beliau meminta saya untuk mengawal atau lebih tenarnya mengadfokasi supir truk terkaitt masalah yang meraka hadapi saat itu, namun berhubung sedang ada kegiatan sosialisasi pemilu 2014 saya sampaikan untuk membicarakan masalah sopir truk tersebut pada pukul 03.00 wita, akhirnya sopir tersebut menyahuti permintaan saya dan teman-teman mahasiswa lainya. Namun selang beberapa saat atau kira-kira pukul 12.00 wita pada hari itu spir truk tersebut menelpon dan beliau sampaikan kalau dia sudah ada di tempat saya melakukan sosialisasi pemilu tentunya SMA NEGERI 1 KENDARI, dalam pembicaraan saya dengan pak talib kebetulan saya juga sudah selesai kegiatan, saya lantas persilakan pak talib ke ruangan aula SMA NEGERI 1 KENDARI. Berhubung saya juga belum pernah ketemu dengan pak talib maka saya dan teman-teman juga bertanya-yanya dimana pak talib ini mengetahui kami sebagai mahasiswa? Dan ternyata beliau ini adalah suami dari pada teman senior saya di salah satu rumah sakit dikota kendari.
Pertemuan tatap muka pun dengan supir truk terjadi di sma negeri 1 kendari, pak talib terlihart membawa teman-teman seprovesi sesame supir truk. Dalam diskusi dengan supir truk tersebut beliau-beliau ini mengeluh kepada kami  (mahasiswa), dalam keluhan para wong cilik ini mengabarkan masalah yang sangat-sangat memberatkan mereaka akhirakhir ini. Mereka menjelaskan panjang lebar terkait dengan masalkah mereka, bagaimana parakterk-ptratek aparat dan masyrakat biasa dan ditambah dengan para pengeusaaha-pengasaha menaghalkan segala cara untuk menghilangkan solar yang bersubsidi atau lebih kejamnya lagi menjadi mafia solar yang berakibatidakk  dengan tidak mendaptakan pasokan solar untuk mabil-mobil yang mereka gunakan sehar-hari sebgai tulang punggung kelarga mereaka. Setelah menjelaskan kronolgis masalah yang sedang dihadapi, mereka lantas meminta kami untuk menyuarakan aspirasi masyrakat kecil pada pemerintah yang memegang kendali dari pada Negara ini. Mereka percaya kalau mahasiswa bisa menjadi jalan keluar dari pada masalah yang sedang dihadapi. Mereka percaya kalau idalisme mahasiswa masih ada.   ” pengakuan dari pada supir-supir truk se kota kendaari”
Jawaban saya pada saat itu sebagi mahasiswa priba saya bersedia untuk mengawal mereka untuk menyuarak aspirasi mahasiswa namun saya sampiakan bahwa gerakan semacam ini adalah gerakan yang membutuhkan banyak teman-teman mahasiswa yang sering melakuakn adfokasi-adfokasi di masyrakat dan kalau bisa kita sepakati bersama saya akan kumpulkan teman-teman kampus mahasiswa dan bertemu dalam diskusi panjang untuk persiapan gerakan menuarakan hilangnya solar di SPBU-SPBU dikota kendari, sopir truk pun sepakat untuk itu dan dia berjanji akan membawa teman-teman supir truk se kota kendari dalam rapat membahas gerakan nanti.
Sekit jam lima sore hari yang sama, supir truk melnelpon saya dan teman-teman  dan menyampaikan kalau mereka sudah siap untuk bertemu dengan kami sebgai mahasiswa yang dalam pandangan mereka masih percaya idealism tinggi mahasiwa dalam menyarak aspirasi-aspirasi masyrakat kecil. Pak talib ini dalam telpon menyampaikan kalau bisa kami dating di depan P2ID (pusat informasi daerah sultra). Dalam hitungan menit kami pun sampai dan langsung kami disambut dengan jabatan dan senyuman penderitaan supir truk. Dalam diskusi yang berlangsung sekitar dua jam, kami sepakatt antara mahsiswa dan supir truk sekota kendari melakukan gerakan pada hari senin tanggal 23 desember 2013. Dengan rangkaian demontrasi damai :
1.       Gerakan dikendalikan oleh mahasiswa dalam kesempatan itu kami menamakan diri sebagai aliansi  mahasiswa pemerhati rakyat, atau disingkat AMPERA, dengan masa terdiri dari persatuan sopir truk sekota kendari yang disingkat PERSOT
2.       Gerakan akan dimuali pada pukul 07.00 wita, dan pusat kumpul gerakan di pelataran tugu MTQ kendari dengan asumsi mobil terk yang akan ikut dalam geraka pada saat itu sebanyak 200 truk.
3.       Rute yang akan menjadi sasaran dari pada gerakan adalah DEPOT kota kendari, DPRD PROV. SULTRA DAN POLDA SULTRA.
Inilah rangkayan pertemuan saya dan kawan-kawan mahasiswa dalam agenda advokasi masyrakat sipil yang tidak punya apa-apa dan pengetahuan yang memadai untuk melawan dalam artian melawan memperjuangakan nasib yang kian hari kian mulai di ambil oleh orang-orang yang sebenarnya orang-orang ini adalah yang sudah diberikan kepercayaan, amanah untuk menjalankan roda pemerintahan.
Catatan: aksi ini berjalan damai dan masa sekitar 400 orang yang terdiri dari mahasiswa dan supir truk sekota kendari, dan alhamdulilah dalam gerakan ini kami berhasil menyita mobil rakitan yang sering digunakan moleh pelaku mafia solar, dan mobil tersebut kami serahkan secara langsung kepada kapolda sultra. Dan pengkuan supir truk setelah gerakan ini solar alhamdulilah sudah stabil kembali dibeberapa SPBU dikaota kendari.



Sabtu, 28 Desember 2013

BERJUANG Bersama Supir Truk Se-Kota Kendari



KENDARI, SULTRA ONLINE
Dengan menggunakan puluhan truk, kemarin (23/12) ratusan masa yang terdiri dari gabungan Persatuan Sopir Truk (Persot) Kota Kendari, Gerakan Mahasiswa Pemerhati Derah (Gema Perda) dan Aliansi Mahasiswa Peduli Rakyat (Ampera) menggelar aksi unjuk rasa di depot Pertamina Kota Kendari Kelurahan Kasilampe Kota Kendari.
Dalam orasinya, masa menuding mafia solar di Kota Kendari yang menimbun solar bersubsidi dan bekerja sama dengan pihak Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dalam menggelapkan solar bersubsidi itu. Alhasil solar menjadi barang langka dan untuk mendapatkannya, para sopir harus melalui perjungan melewati antrian yang kadang menghabiskan waktu lebih dari sehari.
"Kelangkaan solar akibat ulah SPBU yang bermain dengan mafia solar sehingga kami para sopir yang menjadi korbannya," kata Ketua Persot Kota Kendari, Alan.
Sedangkan masa dari Ampera dan Gema perda mendesak pertamina segera mencabut izin SPBU yang terlibat dalam permainan terlarang penimunan solar demi kepentingan segelintir orang saja.
"Kepala Pertamina harus berani mencabut izin SPBU yang kerja sama dengan mafia solar ini karena hal tersebut sangat merugikan masyarakat," teriak Korlap Ampera, Sabarudin.
Selain melakukan penutupan paksa di sejumlah SPBU yang mereka lewati, masa juga memaksa Kepala Depot Pertamina Kendari, Denny Nugrahanto untuk ikut masa aksi mengelar unjuk rasa di Gedung DPRD Sultra. Akan tetapi, sesampainya di gedung wakil rakyat, Denny berhasil mengelabui masa dan menghilang dari kerumunan sebelum sempat bertemu dengan wakil rakyat yang ada di gedung DPRD Sultra.
Di gedung dewan, masa diterima wakil ketua II DPRD Sultra, Sabaruddin Labamba. Dalam pernyataannya, Sabaruddin mengapresiasi aksi yang dilakukan tersebut dan berjanji akan menindak lanjuti aspirasi tersebut.
"Besok dewan akan memanggil Kepala Depot Pertamina Kendari dan beberapa intansi terkait untuk duduk bersama membahas persoalan ini dan menemukan solusinya," jelasnya.(m18/naz)

Manager Pertamina Disandera

Posted by Admin | Tuesday, 24 December 2013   

Sopir Truk Amankan Tiga Mobil Tangki Modifikasi

KENDARINEWS.COM -
Kendari, Kesabaran pengguna kendaraan atas kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar sudah tidak terbendung lagi. Kemarin (23/12), ratusan massa yang tergabung dalam Persatuan Sopir Truk (Persot) Kendari bersama mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di Depot Pertamina Kendari, Kelurahan Mata, Kota Kendari. 
Mereka mendesak pihak Pertamina, pemerintah daerah maupun kepolisian untuk segera bertindak atas kelangkaan BBM jenis solar. Pasalnya, massa mencium adanya indikasi penyalagunaan BBM solar yang dilakukan secara terstruktur antara pemilik dan pertugas SPBU, oknum pemodal yang dibekengi oknum aparat keamanan untuk didistribusikan ke perusahaan-perusahaan tambang.  Apalagi, Pertamina telah menyatakan antrian panjang kendaraan berbahan bakar solar bukan dikarenakan kurangnya suplai BBM, sehingga menguatkan kecurigaan tersebut.
  
Saat melakukan aksi di depan Depot Pertamina, Kendari, massa meminta Pertamina segera bertindak tegas dan mencabut izin sejumlah SPBU yang terlibat dalam mafia solar. Indikasi keterlibatan pemilik dan petugas SPBU sangat beralasan. Sebab tidak mungkin para penimbun solar bisa beraksi tanpa dukungan dan fasilitasi pemilik SPBU. Misalnya, pengisian solar bagi kendaraan tangki modifikasi, melayani pembelian menggunakan jerigen maupun pengisian kendaraan secara berulang-ulang. Padahal dalam surat edaran yang dikeluarkan Pertamina, melarang hal tersebut. Jika ditemukan SPBU yang melanggar isi surat edaran tersebut akan diberi sanksi. Namun pada kenyataannya tidak demikian, sejumlah SPBU tak mengindahkan  surat edaran Pertamian tersebut.
   
"Di SPBU Puwatu, hanya dua jam setelah disuplai pihak SPBU menyatakan solar sudah habis. Padahal sejumlah truk telah mengantri berjam-jam. Kok, tiba-tiba bisa habis. Bahkan ada kendaraan tertentu yang sengaja diberikan tempat antrian tersendiri. Jadi sangat jelas, pihak SPBU sengaja melegitimasi dan memberi ruang bagi mafia solar bermain. Apalagi ditambah kehadiran oknum aparat keamanan yang katanya mengawasi setiap SPBU, namun ternyata ikut bermain," beber Koordinator Aksi, Ardi Jaya, kemarin.
   
Saat menemui massa, Sales Eksekutif Ritel PT Pertamina Wilayah IV Sultra, Denny Nugrahanto, menegaskan siap memberi sanksi pihak SPBU yang nakal. Hanya saja harus disertai bukti bukan berdasarkan persepsi. "Jika ada bukti, bisa diserahkan ke Pertamina untuk dikoordinasi dengan pihak kepolisian," kata Denny di hadapan pendemo.
   
Denny menjelaskan sanksi bagi SPBU yang berbuat curang sudah dilakukan Pertamina, beberapa waktu lalu. Itu dibuktikan dengan diberhentikannya suplai solar ke SPBU Martandu, Anduonohu karena  terbukti melakukan kecurangan. Begitupun SPBU yang terletak di Punggolaka, juga diberhentikan suplai solar. Bila kedua SPBU ini kembali berulang, kata Denny, maka kemungkinan Pertamina akan bertindak lebih tegas.
   
"Sanksinya  bukan hanya menghentikan suplai dalam waktu yang lama, namun pencabutan izin operasional," tegasnya.
   
Terkait distribusi solar ke SPBU, hingga saat ini tidak menemui masalah. Sebab lanjut Denny, jumlah suplai sudah sesuai kebutuhan dan dipastikan tidak berkurang. Olehnya, bila ada kelangkaan tentunya sangat mustahil. Apalagi SPBU tidak pernah menyampaikannya ke Pertamina sehingga tidak ada penambahan suplai. "Dengan adanya masukan ini, setiap harinya Pertamina akan turun mengawasi distribusi solar ditiap SPBU. Untuk memastikan, distribusi solar bersubsidi dapat disalurkan tepat sasaran," ujar Denny.
   
Tak puas mendapat jawaban dari pihak Pertamina, pengunjuk rasa memaksa kepala penjualan Depot Pertamina, untuk bersama-sama hadir di gedung DPRD Sultra. Sempat terjadi ketegangan sebab pihak pertamina sempat menolak. Dengan alasan, Pertamina tak punya kewenangan mengubah kebijakan. Pasalnya, penyalahgunaan BBM harus melibatkan semua unsur termasuk pemerintah daerah, kepolisian dan instansi terkait. Namun, massa tak mengubris alasan Denny, sehingga mereka tetap menyandera. Melihat suasana memanas, Denny pun setuju untuk bersama pada pendemo menuju DPRD Sultra.
   
Diperjalanan menuju gedung dewan, massa sempat melintas di depan SPBU Tipulu. Di SPBU tersebut, massa menemukan dua kendaraan tangki modifikasi serta pengantri  menggunakan jerigen.
   
Dua kendaraan jenis Isuzu Panther bernomor polisi DT 8579 EE dan Taft DD 1093 AO,  hampir menjadi bulan-bulanan kekecewaan massa. Beruntung aparat sigap bertindak,  sehingga massa bisa ditenangkan. Massa  yang kecewa kemudian menyerbu SPBU. Pihak pengelola SPBU tidak ingin dipersalahkan, sebab dua kendaraan tersebut masih berada diluar kawasan SPBU.
  
Melihat hal itu, Denny,  tampak terkejut dan kecewa. Dia mengaku belum bisa memutuskan sanksi apa yang akan diberikan. Pasalnya, kendaraan yang antri tersebut berada diluar area SPBU. "Tapi ini tetap akan menjadi perhatian kami (Pertamina). Bisa saja, ada surat teguran sementara pemberhentian suplai belum bisa dilakukan," kata Denny.
   
Setelah sekitar 30 menit berorasi, massa kembali melanjutkan perjalanannya dengan membawa dua kendaraan tersebut sebagai bukti. Di depan Hollywood, suasana kembali tegang setelah berpapasan dengan sebuah mobil Isuzu Panter berplat DT 7443 AE. Mobil tersebut sudah lama dicurigai sering ikut mengantri di sejumlah SPBU. Ketika dihentikan, pengemudinya mencoba berkelit namun setelah diperiksa terdapat tangki ukuran 0,5 X 1 meter dijok belakang mobil. Selanjutnya, mobil tersebut dibawah ke gedung DPRD bersama dua kendaraan temuan lainnya.  Yang menarik, setelah dikroscek ternyata pemilik mobil yang disandera massa adalah milik seorang aparat.
   
Nah saat tiba di gedung DPRD Sultra, massa kembali beringas. Pemicunya, hampir satu jam berorasi, belum ada satupun anggota dewan yang menemui mereka. Merasa tak dihiraukan, massa kemudian menggeledah sejumlah ruang pimpinan dewan. Kerena tak menemukan anggota dewan, sejumlah massa memukul pintu dan kaca jendela. Namun setelah diberi penjelasan pihak humas bahwa anggota sedang menuju ke gedung DPRD Sultra, suasana kembali tenang.
  
Sayangnya, ketika sibuk menggeledah ruangan Sekretariat DPRD Sultra, rombongan Pertamina yang tadinya bersama massa ikut menghilang. Massa menilai, pertamina tidak bertanggungjawab,  sebab merupakan kewenangannya. Ini pertanda, ada indikasi pertamina juga terlibat penyalahgunaan solar bersubsidi.
   
Tak lama berselang,  Wakil Ketua DPRD Sultra Sabaruddin Labamba akhirnya bisa menemui massa. Dalam kesempatan itu, Sabaruddin berjanji akan segera memanggil pihak Pertamina, Pemprov, kepolisian, SPBU, Hiswana Migas, asosiasi sopir, maupun pengguna kendaraan berbahan bakar solar lainnya untuk mencari solosi terkait masalaah tersebut.
   
"Karena persoalannya mendesak, besok (hari ini,red) DPRD akan menghadirkan mereka. Kita akan duduk bersama menyelesaikan persoalan ini. Kalau perlu, kita akan bentuk tim pengawas yang terdiri dari sejumlah elemen untuk mengawa persoalan ini," tandas politisi PAN ini. (cr6/KP)



Posted by Admin | Thursday, 26 December 2013   

KENDARINEWS.COM - Kendari, Protes para sopir truk terkait dugaan keterlibatan oknum aparat yang memainkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar diseriusi Brigjend Arkian Lubis. Camar 1 Polda itu langsung memerintahkan anak buahnya untuk mengusut tuntas. Hasilnya dua oknum polisi berpangkat Bintara langsung ditahan.
Kepastian itu diungkapkan langsung Arkian Lubis kemarin. ''Kedua pelaku yang diduga terlibat penyalahgunaan bahan bakar solar telah ditahan. Keduanya adalah oknum polisi. Hingga saat ini, status keduanya masih terperiksa. Penyidik masih mencari tahu sejauhmana keterlibatan mereka. Hal ini sekaligus menjawab anggapan bahwa pihak kepolisian tidak berani menindak aparatnya,"ungkap Kapolda Sultra, Arkain Lubis kepada Kendari Pos, kemarin.
   
Tertangkapnya, dua oknum aparat ini berdasarkan hasil penelusuran dilapangan. Setelah dipantau dan menjadi target operasi akhirnya pihak kepolisian sudah mempunyai bukti untuk menahan pelaku. ''Jadi penangkapan ini bukan karena desakan masyarakat atau sejumlah pihak, namun berdasarkan pengembangan dilapangan. Hanya saja kebetulan waktunya penangkapannya hampir bertepatan dengan aksi demo kemarin,'' jelasnya.
   
Untuk sementara, inisial pelaku belum bisa disebutkan guna menjaga nama baik yang bersangkutan. Apalagi yang bersangkutan belum tentu bersalah. Namun demikian, kepolisian menjamin tidak akan melindungi aparatnya kalau memang dari hasil penyelidikan yang bersangkutan terbukti terlibat. Jika terbukti, Polda siap memberi sanksi tegas. Sanksinya, sesuai dengan tingkat kesalahan yang telah diatur dalam disiplin anggota Polri. Bisa berupa hukuman kurungan hingga sanksi pemecatan. Apalagi statusnya sebagai penegak hukum, bukannya mengawasi malahan terlibat persekongkolan yang merugikan masyarakat banyak
   
"Penyidik tengah konsen mendalami peran mereka, apakah sebagai penadah, menyediakan mobil atau pemberi modal. Nanti setelah terkumpul bukti yang cukup akan disampaikan. Masyarakat harus bersabar pihak kepolisian memeriksa yang bersangkutan, sebab kemungkinan akan ada tersangka baru bila dalam proses penyedikan ada bukti tambahan. Bukan tidak mungkin pelaku bekerja sendiri tanpa dukungan dari pihak lain. Apakah pihak SPBU atau pihak lainnya, semua tergantung hasil penyelidikan,"pungkasnya.
   
Seperti diketahui, sekitar ratusan massa yang tergabung dalam Persatuan Sopir Truk (Persot) Kendari bersama mahasisiwa menggelar aksi meminta Pertamina, pemerintah daerah maupun kepolisian untuk segera bertindak atas kelangkaan bahar bakar solar. Pasalnya, massa mencium adanya indikasi penyalahgunaan BBM solar yang dilakukan secara terstruktur antara pemilik dan petugas SPBU, oknum pemodal yang dibekengi oleh aparat keamanan untuk didistribusikan ke perusahaan-perusahaan tambang. Apalagi, Pertamina telah menyatakan antrian panjang kendaraan berbahan bakar solar bukan dikarenakan kurangnya suplai BBM.
   
Dalam aksi, tersebut massa meminta Pertamina segera bertindak tegas dan mencabut izin sejumlah SPBU yang terlibat dalam mafia solar. Indikasi keterlibatan pemilik dan petugas SPBU sangat beralasan, sebab tidak mungkin para penimbun bisa beraksi tanpa dukungan dan fasilitasi pemilik SPBU. Manager Penjualan PT Pertamina Kendari, Denny Nugrahanto sempat disandera karena menolak keinginan massa menuju gedung DPRD Sultra.
   
Keterlibatan oknum aparat kian mencuat setelah, massa menemukan dua kendaraan jenis Isuzu panther bernomor polisi DT 8579 EE dan DT 7443 AE dan sebuah mobil Taft DD 1093 AO yang tangkinya dimodifikasi. Bahkan dua diantaranya tengah antri di SPBU Tipulu. Yang menarik, setelah dikroscek ternyata pemilik mobil yang disandera massa adalah milik aparat kepolisian. (cr6/KP)  

Selasa, 19 November 2013

CATATAN PAGI INI



>Jatuhnya angka pertumbuhan ekonomi sultra tanggal 14 november 2013 lalu (11,29 turut di angka 4,19.)  membuat banyak sekali opini public,( dosen & mahasiswa yang mewakili kampus, LSM yang mewakili masyrakat umum, maupun pemerintah sendiri) dan opnini ini berujung pada satu arah dugaan pengelolaan industry pertambangan yang selama ini mendominasi shere pertumbuhan sultra ternyata hanya bersifat sementra.
>19 november 2013, Dosen-Dosen saya Ekonomi FE-UHO, dalam acara workshop pengembangan grand design pembangunan ekonomi sultra untuk mendukung pelaksanaan MP3EI provinsi sulawesi tenggara tahun 2013 mengeluarkan satu komentar :waktunya kembali ke sektor basis sbg penopang pertumbuhan ekonomi yg berkelanjutan & berkualitas, disesuaikan dengan karakter umum masyarakat sultra.
>Hari ini tanggal 20 november 2013, Gebernur Sultra Nur Alam berkicau di media cetak, beliau mengatakan kalau “perusahaan tambangan di sultra banyak yang tidak mengikuti Prosedural”, disusul dengan bapak la nika anggota dprd prov sultra, ikut-ikutan berkicau di media cetak hari ini juga, la nika cs, “mengatakan smelter bisa bikin sultra sejahtra”.
>sekarang izinkan saya bicara pertama; untuk dosen-dosen saya yang tergabung dalam tim ahli yang diminta oleh gubernur sultra untuk melakukan gran desai ekonomi sultra kedepa dalam mengatasi penurunan pertumbuhan ekonomi, hanya satu yang saya sesalkan mengapa baru sekarang ada inisitif untuk maju didepan sebagai tameng pemerintah? Kenapa tidak dari dulu tim semacam ini muncul untuk  mengingatkan pemerintah, baik sebagai kawan atau lawan? Kedua; untuk GUBERNUR_KU dan DPRD_KU, kenapa baru sekarang kasian pemerintah ku ini mengeluarkan stetmen-stetmen yang seperti ini? He he selama ini kan pemerintah melalaui gubernur ini sering berpidato dimana-mana pertumbuhan ekonomi sultra diatas angka nasional, (11,29 2012), DPRD pun begitu kenapa baru kali ini berinisitif untuk melahirkan peraturan bersama gubernur, semestinya dari dulu dong ingatkan para kepala daerah kita yang sudah sewenang-wenang dalam pengelolaan tambang kalau DPRD ini masih menjadi perwakilan rakyat.

Persyaratan Jadi Ganjalan Peremajaan Sawit Rakyat

Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menjadi salah satu program pemerintah Joko Widodo dalam upaya meningkatkan produktivitas perkebunan kelap...